Berita

Nasaruddin Umar/Net

Ormas Islam & Kelompok Radikal (16)

Demaskulinisasi Pemahaman Agama

SENIN, 30 JULI 2018 | 11:29 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

ADA kecenderungan umat ma­nusia memahami agamanya dengan cara-cara maskulin. Juru bicara kelompok agama lebih sering menggunakan jar­gon agama untuk menunduk­kan, menaklukkan, kalau perlu menghancurkan. Padahal substansi ajaran agama mes­tinya sebaliknya, mengajak orang untuk menjadi lebih feminin, lembut, dan penyantun (nurturing). Tokoh-tokoh pembawa agama seperti para Nabi tidak pernah mengedepankan kekuatan (power struggle). Tuhan sendiri lebih sering memperkenal­kan diri sebagai Feminine God ketimbang sebagai Masculine God.

Agama memang seperti mata uang yang memiliki dua sisi berbeda. yaitu wajah maskulin dan feminin. Penampilan wajah agama bagi para pemeluknya sangat tergantung pada pemahaman pemeluk terhadap ajaran agamanya. Jika sang pemeluk lebih menekankan aspek maskulinitas agamanya maka wajah agama akan tampil lebih jantan dan berwibawa. Akan tetapi jika ditekankan aspek feminimnya maka wajah akan tampil lebih feminin dan lebih ramah. Idealnya sebaiknya para penganut mengikuti petunjuk ajaran agama sebagaimana diterangkan di dalam kitab suci mereka. Semakin dalam pemahaman keagamaan seseorang semakin mereka akan lebih arif dan bijaksana. Sebaliknya semakin dangkal pemahaman keagamaan ses­eorang semakin berpotensi menempuh cara-cara kekerasan dalam melakukan syiar agama. Wajah agama seperti ini mengikuti "wajah"  Tuhan yang juga memiliki dua wajah, oleh kaum spiritual dis­ebut dengan wajah ketegaran (Yang) dan wajah kelembutan (Yin). Tidak heran jika umat beragama juga menampilkan dua wajah, yaitu wajah keras dan wajah lembut. Idealnya kedua komponen ini sama dan sebangun. Dalam Islam, keutuhan kedua komponen ini ditampilakan oleh Nabi Muhammad Saw, yang dilukiskan di dalam Al-Qur'an: Asyidda' 'ala al-kuffari ruhamaau bainahum (Bersikap tegas terhadap kaum kafir dan bersikap lembut kepada sesama mereka).

Dualitas kualitas Tuhan mempunyai makna yang sangat mendasar dalam dunia kemanu­siaan. Seseorang tidak boleh sembrono di dalam menjalani kehidupannya, karena meskipun Tuhan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, tetapi dalam kualitas-Nya yang lain Tuhan juga Maha Pemaksa (al-Qahhar) dan Maha Pendendam (al-Muntaqim). Wajah dan kualitas maskulin dan feminin pada diri Tuhan ternyata juga ikut menghiasi kualitas ma­nusia. Secara personal manusia memiliki dualitas di dalam dirinya, paralel dengan dua wajah Tuhan dan dua wajah agama tadi.


Manusia memiliki kualitas kejantanan dan ketegaran (masculinnity/struggeling) dan kualitas kelembutan dan kepengasihan (femininity/nurtur­ing). Di dalam nama-nama indah Allah Swt yang dikenal dengan al-Asma' al-Husna yang berjumlah 99, dapat dikategorikan ke dalam dua kategori, yaitu jalaliyyah dan Jamaliyyah. Hanya saja nama-nama dan sifat-sifat Tuhan yang diperkenalkan dalam Al-Qur'an lebih menonjolkan sifat-sifat Jamaliyyah. Tuhan bukan hanya memiliki sifat-sifat maskulin ("The Father of God"), tetapi juga memiliki, bahkan lebih dominan dengan sifat-sifat feminin ("The Mother of God").

Dalam sebuah masyarakat Fiqih oriented seperti sering diatributkan kepada umat Islam Indonesia, sifat-sifat maskulinitas Tuhan lebih ditonjolkan, seperti Tuhan Maha Besar (al-Kabir), Maha Perkasa (al-'Aziz), dan Maha Pembalas/Pendendam (al- Muntaqim), bukannya menonjolkan sifat-sifat femininitas-Nya, seperti Tuhan Maha Penyayang (al-Rahman), Maha Lembut (al-Lathif), dan Maha Pema'af (al-'Afuw), sehingga Tuhan lebih menonjol untuk ditakuti dari pada dicintai. Efek psikologis yang muncul karenanya, manusia menyembah dan sekaligus mengidealkan identifikasi diri den­gan "The Father of God," yang mengambil ciri dominan, kuasa, jauh, dan struggeling, bukannya dengan "The Mother of God," yang mengambil ciri berserahdiri, kasih, dekat, dan nurturing. Idealnya, komposisi kualitas maskulin dan feminin menyatu di dalam diri manusia, sebagaimana halnya keutuhan kedua kualitas itu menyatu di dalam Diri Tuhan, seperti tercermin di dalam al-asmaul husna dan sebagaimana juga dipraktekkan Rasulullah saw. Allahu a'lam. 

Populer

Ramadhan Pohan, Pendukung Anies yang Kini Jabat Anggota Dewas LKBN ANTARA

Jumat, 09 Januari 2026 | 03:45

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

UPDATE

OTT Pegawai Pajak Jakarta Utara: KPK Sita Uang Ratusan Juta dan Valas

Sabtu, 10 Januari 2026 | 12:14

Mendagri: 12 Wilayah Sumatera Masih Terdampak Pascabencana

Sabtu, 10 Januari 2026 | 12:04

Komisi I DPR: Peran TNI dalam Penanggulangan Terorisme Hanya Pelengkap

Sabtu, 10 Januari 2026 | 11:33

X Ganti Emotikon Bendera Iran dengan Simbol Anti-Rezim

Sabtu, 10 Januari 2026 | 11:27

Trump Sesumbar AS Bisa Kuasai 55 Persen Minyak Dunia Lewat Venezuela

Sabtu, 10 Januari 2026 | 11:10

Konten Seksual AI Bikin Resah, Grok Mulai Batasi Pembuatan Gambar

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:52

Ironi Pangan di Indonesia: 43 Persen Rakyat Tak Mampu Makan Bergizi

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:41

Emas Antam Berkilau, Naik Rp25.000 Per Gram di Akhir Pekan

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:34

Khamenei Ancam Tindak Tegas Pendemo Anti-Pemerintah

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:22

Ekonomi Global 2026: Di Antara Pemulihan dan Ketidakpastian Baru

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:06

Selengkapnya