Berita

Nasaruddin Umar/Net

Ormas Islam & Kelompok Radikal (11)

Masjid Sebagai Pusat Bela Negara

RABU, 25 JULI 2018 | 10:36 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

MASJID, mushalla, langgar, surau, meunasah, dan pon­dok pesantren pernah men­gukir sejarah sebagai pusat bela negara. Tidak sedikit jumlah tempat ibadah terse­but menjadi markas dan pusat bela negara bahkan menjadi pusat pergerakan umat dalam memperjuangkan kemerdekaan. Tidak heran kalau di zaman penjajahan Be­landa dan Jepang selalu menjadi salah satu pusat perhatian yang menyedot energi mereka. Ternyata bukan hanya di Indonesia, di nega­ra-negara lain seperti di Timur Tengah, masjid juga selalu menjadi pusat bela negara dalam menumpas penjajahan. Tidak sedikit jumlah masjid dan mushalla di Indonesia yang rusak, hancur, dan dibakar lantaran rumah ibadah ini dijadikan benteng perlindungan umat.

Rumah ibadah sebagai pusat bela negara amat dahsyat, karena memiliki daya motivasi yang luar biasa. Jika rumah ibadah menjadi sim­bol perjuangan dalam bela negara, maka peman­dangannya seperti yang pernah terjadi di zaman revolusi kemerdekaan negeri kita. Beduk-beduk masjid dan lonceng-lonceng gereja dan klenteng menggelorakan semangat umat dan rumah-ru­mah ibadah menjadi basis pengumpulan massa. Dengan teriakan dan jargon Allahu Akbar, bisa menciutkan nyali tentara kolonial. Sebab, jika per­juangan sudah menggunakan bahasa agama, maka yang akan muncul ialah: 'Isy kariman au mut syahidan (hidup mulia atau mati syahid).

Masjid Nabi dapat dijadikan contoh dalam hal ini. Selain digunakan untuk berbagai kepentingan kemanusiaan dan kemasyarakatan, masjid Nabi secara khusus sering digunakan sebagai tem­pat latihan militer, latihan perang-perangan, dan latihan bela diri, guna memperkuat keterampi­lan umat dalam membela diri dan menghadapi musuh. Taktik, strategi, dan teknik-teknik peperangan dengan mendatangkan penasihat militer profesional dibahas dan digladiresikkan di masjid. Sudah barang tentu di dalamnya ada berbagai jenis persenjataan, baik ringan maupun berat.


Masjid Nabi dalam kondisi dan keadaan ter­tentu berfungsi sebagaimana layaknya camp militer, yang di dalamnya tersimpan berbagai macam jenis senjata dan amunisi. Penase­hat militer Nabi yang terkenal dengan nama Salman Al-Farisi, merancang teknik peperan­gan dan bela negara (umat) di masjid. Ia per­nah mengusulkan kepada Nabi agar benteng yang dibuat untuk melindungi komunitas Ma­dinah ialah menggali parit (khandaq), bukan­nya membangun benteng yang tinggi. Selain biayanya murah juga dapat dikerjakan dengan mudah dan cepat. Nabi pun menerima usulan itu dan ternyata efektif sekali karena benteng itu tidak bisa diloncati kuda-kuda musuh.

Di masjid, Nabi pernah menginstruksikan umat­nya agar mengajarkan anak-anaknya memanah, menunggang kuda, belajar berenang, dan latihan memanjat pohon atau tebing. Selain berfungsi se­bagai olahraga, juga penting artinya untuk pem­belaan negara dan umat. Nabi sendiri sangat terampil olahraga bela diri. Suatu waktu ketika masih di Mekah, ia diminta menantang si juara bertahan tak terkalahkan, Rukanah namanya, dalam olahraga gulat tradisional Arab. Rukanah yang tinggi besar dibanting dan di-KO Nabi dalam ronde ketiga, di depan penonton yang amat ra­mai. Sejak itu Rukanah mengurungkan niat untuk melanjutkan hobinya sebagai pegulat profesional. Walaupun tubuh Nabi relatif kecil dibanding Ruka­nah, tetapi keterampilan yang dimiliki Nabi mem­buat Rukanah bertekuk lutut.

Masjid sebagai pusat bela Negara perlu mendapatkan perhatian khusus bagi kita se­mua. Mesjid dan mushalla saja berjumlah sekitar 800 ribu bertebaran di tengah-tengah masyarakat dalam wilayah kesatuan RI. Jika ini diprogram sebagai pusat bela Negara, maka akan sangat efektif dan efisien. Yang penting fungsi utama rumah ibadah sebagai pusat iba­dah mahdhah tidak terganggu dan hal ini bisa diatur. Agak ironis jika dahulu masjid menjadi pusat pergerakan untuk meraih kemerdekaan, kemudian menjadi pusat bela negara mengaw­al NKRI, tiba-tiba ada masjid digunakan untuk merongrong kewibawaan negara. Masjid dan NKRI sudah merupakan satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan oleh apapun.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Trump Tunjuk Katie Zacharia Jadi Sekretaris Pers Gedung Putih

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:27

Saat Outing Kantor Bergeser Jadi Strategi Korporat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:09

Harga Emas Meroket di Akhir Pekan Jadi Semahal Ini

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:57

FORU Anjlok 11,39 Persen, Transaksi Tembus Rp253 Miliar saat IHSG Rebound

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:44

Komisi V DPR Wanti-wanti Tiga Kementerian Jangan Saling Lempar Tanggung Jawab Soal Ojol

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:30

Harga Logam Dunia Bangkit Usai Aksi Borong di Level Rendah

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:01

Tiga Anggota OPM Meninggal Dunia Usai Kontak Tembak di Maybrat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:46

Teguh Santosa: Pepera 1969 Sejalan dengan Prinsip Self Determination

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:31

Kapolri Pimpin Sertijab di Mabes Polri, Komjen Asep Resmi Jadi Irwasum

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:17

Wall Street Tutup Pekan Kedua di Zona Hijau

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya