Berita

Foto/Net

Bisnis

Isu Perang Dagang Tidak Ganggu Ekspor Ke Amrik

Neraca Dagang Surplus
SELASA, 17 JULI 2018 | 10:05 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Ancaman perang dagang Amerika Serikat (AS) ter­hadap Indonesia sejauh ini tidak mempengaruhi neraca perdagangan. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suhariyanto mengungkapkan, neraca perdagangan Indonesia sampai dengan Juni masih surplus terhadap AS.

"Kalau dilihat dari neraca, saya yakinkan bahwa ancaman-ancaman itu belum mempengaruhi surplus neraca perdagangan kita," kata Kecuk di Jakarta, kemarin.

Data BPS menyebutkan, neraca perdagangan non mi­gas per Januari hingga Juni 2018, Indonesia mengalami surplus 4,119 miliar dolar AS atas perdagangannya dengan AS. Meskipun angka terse­but mengalami penurunan bila dibandingkan nilai surplus neraca perdagangan non-migas dengan AS periode Januari-Juni 2017 yang lebih tinggi, mencapai 4,703 miliar dolar AS.


Bila dilihat dari pangsa pasar ekspor non migas Indonesia, AS menjadi satu dari tiga negara terbesar tujuan ekspor selain China dan Jepang. Dari total ekspor non migas Januari-Juni 2018, porsi ke AS sebesar 10,78 persen atau setara den­gan 8,56 miliar dolar AS.

Sementara, Indonesia tidak terlalu bergantung dengan impor dari AS. Hal itu terlihat dari tiga negara pangsa impor non migas Indonesia periode Januari-Juni 2018 yang be­rasal dari China, Jepang, dan Thailand.

Secara rinci, total ekspor Indonesia ke AS pada Januari-Juni 2018 sebesar 8,559 miliar dolar AS dengan komoditas utama di antaranya lemak dan minyak hewani atau nabati, karet, bahan bakar mineral, kayu dan barang dari kayu, aneka produk kimia, kertas dan kertas karbon, perabotan, ikan dan krustasea, serta pakaian dan aksesori pakaian.

Sedangkan nilai impor dari AS untuk periode yang sama sebesar 4,441 miliar dolar AS, dengan komoditas utama yang diimpor seperti mesin-mesin­pesawat mekanik, biji-bijian berminyak, kapal terbang dan bagiannya, kapas, sisa industri makanan, bubur kayu, perala­tan listrik, plastik dan barang dari plastik, berbagai produk kimia, serta perangkat optik.

Perdagangan Juni Surplus Rp 25 T

Selain perdagangan ke AS, Kecuk juga memberikan kabar gembira mengenai neraca perdagangan Indonesia secara keseluruhan yang mengalami perbaikan. Pihaknya mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2018 surplus 1,74 miliar dolar AS atau atau setara dengan Rp 25 triliun. Nilai ini diperoleh dari posisi neraca ekspor yang tercatat sebesar 13 miliar dolar AS atau lebih tinggi dibandingkan nilai ne­raca impor yang sekitar 11,26 miliar dolar AS. Surplus pada Juni 2018 didorong oleh sur­plus neraca nonmigas pada bulan ini.

"Surplus ini cukup lumayan, tapi kami harapkan mening­kat," ujar Kecuk.

Sementara itu, berdasar­kan tahun kalender sepanjang Januari-Juni 2018, neraca per­dagangan mengalami defisit sebesar 2,83 miliar dolar AS. Nilai ekspor pada Juni sebesar 13 miliar dolar AS ini turun 19,8 persen dari Mei 2018, tetapi naik 11,47 persen jika dibandingkan Juni 2017.

"Penurunan ekspor adalah hal yang biasa di Lebaran karena ada libur panjang," katanya.

Dari pola ekspor tahun ke tahun, Kecuk memperkirakan kegiatan ekspor akan kembali meningkat pada bulan depan. Berdasarkan sektornya, ko­moditas pertanian mengalami penurunan ekspor sebesar 35,2 persen secara month-to-month (mtm) menjadi 200 juta dolar AS. Komoditas yang menga­lami penurunan antara lain kopi, sarang burung, aromatik, dan buah-buahan.

Industri pengolahan juga turun 27,28 persen secara mtm menjadi 8,55 miliar dolar AS dibandingkan bu­lan sebelumnya. Jenis barang yang mengalami penurunan di antaranya pakaian jadi, tekstil, suku cadang, serta produk timah.

Sementara itu, sektor tam­bang meningkat 1,08 persen secara mtm menjadi 2,53 miliar dolar AS. Hal ini di­dorong oleh naiknya ekspor komoditas batubara, lignite, dan aspal.

Ekspor selama enam bulan pertama 2018 tercatat mening­kat 10,03 persen menjadi 88,02 miliar dolar AS jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 80 miliar dolar AS

Sementara, impor mengalami penurunan tajam sebe­sar 36,27 persen menjadi 11,26 miliar dolar AS dari bulan sebelumnya. Secara sektoral, BPS mencatat selu­ruh barang impor mengalami penurunan. ***

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Pernah Tembak Mati Perampok Toko Emas, Eks Kapolres Jakbar Kini Jabat Kapolda Papua Barat

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:17

PIEP Datangkan 450 Ribu Barel Minyak dari Aljazair

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:07

Din Syamsuddin Tawarkan Konsep Etika Global Bersama di Forum Internasional Mauritius

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:05

KSP Kawal Ketat Kopdes Merah Putih hingga Capai Target

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:04

Strategi Pertamina Trans Kontinental Jaga Stabilitas Kinerja 2026

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:49

Lebih dari 42 Ribu Warga Ikut Pilih Logo HUT RI ke-81

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:40

Ketika Demonstrasi Punya Harga, yang Mati Bukan Hanya Integritas Mahasiswa

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:34

Forum Bersama Raja Charles III, Jumhur Bicara Kebijakan Pengelolaan Limbah

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:30

Menkop Gandeng KSP Percepat Operasionalisasi Kopdes

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:23

AKBP Supriyanto jadi Kapolres Pertama Kawasan IKN

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:20

Selengkapnya