Berita

Nasaruddin Umar/Net

Local Genus Nusantara (7)

Islam & Local Wisdom Nusantara

JUMAT, 13 JULI 2018 | 11:33 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

ADAPTASI nilai-nilai Is­lam ke dalam nilai-budaya lokal, khususnya di kawasan Nusantara, tidak dira­sakan adanya distorsi dan ketegangan berarti. Ini disebabkan kuatnya persamaan antara nilai-nilai Islam dan nilai-nilai budaya lokal Nusantara, khususnya Indonesia. Apa yang sering didengungkan PB NU, khususnya Pak Agil Siradj, sebenarnya tidak perlu dipersoal­kan. Kenyataannya Islam di Kawasan Nusan­tara tidak bisa dipisahkan dari pola dialek­tik sejarah perkembangan pra-Indonesia dan atau Proto-Indonesia. Proto Indoneisa ialah sebuah periode antara Post-Prasejarah dan sejarah Indonesia modern. Periode ini biasa juga disebut periode nusantara awal. Trans­formasi nilai-nilai dalam era Proto-Indonesia, seperti periode sebelumnya, juga berlangsung mulus tanpa menimbulkan ketegangan di da­lam masyarakat. Bagaimana nilai-nilai tradis­ional warisan masyarakat pra-sejarah dan post-prasejarah tetap dibiarkan eksis, seperti sistem kepercayaan animisme, dinamisme, dan ajaran sinkretisme lainnya, masih tetap memiliki hak hidup dan diakui keberadaannya secara sosiol­ogis. Pada saat bersamaan ajaran agama Hin­du, Budha, dan Islam juga hadir dan berusaha memperkenalkan orisinalitas ajarannya dengan seni dan caranya masing-masing. Agama Hin­du datang lebih awal dari anak benua India bisa mengadaptasikan ajarannya dengan sistem ke­percayaan lokal masyarakat. Bagi agama Hin­du sistem kepercayaan seperti animisme dan dinamisme tidak terlalu sulit mengakomodir ke dalam sistem ajarannya karena agama ini tidak mengenal konsep bid’ah, sesuatu yang tidak boleh dilaksanakan manakala tidak per­nah dilegitimasi oleh sang pembawa ajaran, dalam Islam ialah Nabi Muhammad. Persentu­han agama Hindu dengan masyarakat Nusan­tara berlangsung dengan damai, seolah-olah masyarakat pribumi menganggap ajaran Hindu bagian dari kelanjutan agama nenek moyang­nya. Sesungguhnya bukan hanya Hindu tetapi juga agama Budha.

Islam sebagai agama yang datang kemudian otomatis harus berinteraksi dengan dua nilai. Pertama system nilai kepercayaan pribumi yang masih eksis dan sebagiannya menyatu dengan ajaran Hindu, dan kedua berinteraksi dengan ajaran agama Hindu dan agama Budha yang juga sudah mulai eksis di sejumlah wilayah Nu­santara. Kehadiran agama Budha tidak dirasa­kan sebagai agama baru di nusantara karena dikesankan sama dengan agama Hindu. Keti­ka Islam mulai datang dan dikembangkan oleh para saudagar yang arif dan bijaksana, seolah ditempatkan sebagai bagian dari kelanjutan pembangunan sebuah bangunan. Islam mu­lai menawarkan nilai-nilainya sebelum serta-merta memperkenalkan norma-normanya. Ini mengingatkan kita kepada Nabi Muhammad saw ketika masih di Mekah, baru pepmerkenal­kan sisten nilai belum memperkenalkan system norma yang berisi perintah dan larangan, beri­kut dengan sanksi dan reward. Istimewanya, to­koh-tokoh penganjur Islam bisa bergandengan tangan dengan tokoh-tokoh agama Hindu dan penguasa kraton dan penguasa istana lokal lain di Kawasan Nusantara.

Para penganjur Islam di masa awal mem­perkenalkan Islam betul-betul sangat menge­sankan. Mereka memiliki seni tersendiri dan karenanya mereka leluasa memperkenalkan Is­lam bukan saja di akar rumput tetapi juga di ling­kungan Istana. Ini terjadi bukan hanya di Pulau Jawa tetapi juga di seluruh wilayah kepulauan Nusantara. Kehadiran Islam sama sekali tidak dirasakan sebagai sebuah ancaman bagi kelu­arga keraton dan para penganut agama Hindu. Islam Nusantara berdiri kokoh karena beranjak dari nilai-nilai dasar budaya masyarakat Indo­nesia. Ajaran Islam yang berkembang di Indo­nesia lebih dirasakan persambungannya den­gan tradisi luhur bangsa Indonesia ketimbang perbedaannya. Dengan demikian, kekompakan antara nilai-nilai Islam dan nilai-nilai lokal ada­lah sesuatu yang sangat wajar.


Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Irjen Slamet Uliandi Tersangka Keempat Kasus Penyadapan Telepon Prabowo

Jumat, 06 November 2026 | 02:03

Dzulfikar dan Fuji Abdul Tekankan Intelektualisme Pemuda untuk Pengabdian Bangsa

Jumat, 06 November 2026 | 01:31

Pramono Bertahap Menata Parkir Liar hingga Fasilitas Tanah Abang

Jumat, 06 November 2026 | 01:17

Kalau Hasil Labfor Polri Diragukan, Siapa Lagi yang Mau Dipegang?

Jumat, 06 November 2026 | 01:05

Menjaga Riau dari Ancaman Karhutla Lewat Mitigasi Berkelanjutan

Jumat, 06 November 2026 | 00:32

PPKK Perkuat Pengamanan Kawasan Kemayoran

Jumat, 06 November 2026 | 00:17

Tunjukkan Ijazah di Pengadilan Belum Tentu Akhiri Polemik

Jumat, 06 November 2026 | 00:08

Listyo Sigit Cs Pakai Mesin Sadap Seharga Rp212 Miliar

Kamis, 05 November 2026 | 23:39

Gratis Masuk Ancol Bulan November, Cek Caranya

Kamis, 05 November 2026 | 23:12

Jokowi Menolak Ijazah Diuji Ulang, Pengamat: Apa karena Kapolri sudah Diganti?

Kamis, 05 November 2026 | 23:01

Selengkapnya