Berita

Kombes Pol Asep Safrudin/Net

Wawancara

WAWANCARA

Kombes Pol Asep Safrudin: Pelaku Peretas Situs Bawaslu Mendapat Pengetahuan Dari Kelompok Typical Idiots

SENIN, 09 JULI 2018 | 10:11 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Direktorat Siber Bareskrim Polri telah menangkap pelaku peretas situs Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) berinisial DS di kawasan Kramat Jati, Jakarta Timur, pada 30 Juni 2018 sekitar pukul 10.30 WIB. DS alias 'Mister Cakil' ditangkap karena mengubah tampilan situs Bawaslu. "Barang bukti yang kami amankan dari hasil penangkapan adalah perang­kat alat elektronik, lalu akun milik tersangka, dan memory card micro yang dia gunakan," ujar Kasubdit II Direktorat Cybercrime Mabes Polri Kombes Pol Asep Safrudin.

Lantas apa motif DS meretas situs Bawaslu? Apakah ada yang memesan tersangka un­tuk melakukan peretasan situs Bawaslu? Berikut penjelasan lengkapnya.

Bagaimana modus operandinya?
Modus operandinya adalah dia melakukan illegal access ke situs Bawaslu dengan tujuan atau motif menurut tersangka adalah iseng-iseng saja. Tersangka ini telah melakukan peretasan atau hack terhadap ratusan situs, baik nasional maupun internasional. Di antaranya ada situs DPRD, ada situs lembaga pendidikan, dan situs-situs media online.

Modus operandinya adalah dia melakukan illegal access ke situs Bawaslu dengan tujuan atau motif menurut tersangka adalah iseng-iseng saja. Tersangka ini telah melakukan peretasan atau hack terhadap ratusan situs, baik nasional maupun internasional. Di antaranya ada situs DPRD, ada situs lembaga pendidikan, dan situs-situs media online.

Instansi apa saja yang situs­nya dia retas?
Dilakukan peretasan itu di DPRD Banten, kemudian juga di Dinas Pedesaan Banten, lalu ada lembaga pendidikan itu yayasan tapi saya lupa namanya. Lalu dia juga sudah meretas situs-situs media online.

Apakah ada yang memesan pelaku untuk melakukan aksi peretasan tersebut?
Menurut pengakuan tersangka sampai saat ini tidak ada yang memesan, dia hanya iseng. Dia mengaku melakukannya secara acak. Kami sempat tanya kepada pelaku kenapa dia lakukan pere­tasan situs Bawaslu di musim pilkada? Dia jawab dia lakukan itu secara acak, dia searching apa pun yang bisa dimasukkan, lalu yang dianggap paling mudahlah yang dia tembus.

Berapa lama pelaku sudah melakukan kegiatan peretasan ini?
Pelaku melakukan kegiatan­nya sudah sejak 2-3 tahun yang lalu. Tapi memang baru seka­rang bisa kami tangkap terkait kegiatannya yang meretas situs Bawaslu.

Dari mana tersangka mendapatkan keterampilan untuk meretas situs?
Tersangka mendapatkan pengetahuannya itu dari group FB di mana di dalamnya ada sekumpulan kelompok yang me­namakan typical idiots security. Dari situ dia bertukar informasi tentang tools atau alat-alat untuk melakukan kegiatan peretasan. Usia dari tersangka 18 tahun, pekerjaannya adalah pegawai swasta.

Dari mana dia melakukan aksi peretasan terhadap situs Bawaslu?
Pertama dia di warnet, setelah itu dari rumahnya.

Dia meretas itu hanya men­gubah tampilan situs Bawaslu apa terkait dengan situs KPU juga?
Pelaku ini adalah pelaku pere­tasan website Bawaslu. Jadi hanya mengubah tampilan depan situsnya Bawaslu. Tampilan situs Bawaslu itu diubah den­gan tampilan yang sudah dia modifikasi, yaitu berupa gam­bar kartun dan tulisan "jaman dulu korupsi adalah hal yang memalukan, tetapi sekarang menjadi kesempatan yang kita ciptakan."

Jadi tidak merusak sistem dan lain sebagainya, melainkan hanya mengganti tampilannya saja. Dan ini tidak ada kaitannya dengan KPU.

Kenapa pelakunya baru diungkap sekarang?
Karena kami kembangkan dulu, barangkali kan ada pelaku lain. Ternyata sampai kami laku­kan pemeriksaan dia bermain tunggal.

Dia tinggal di mana?

Dia warga Bekasi, Jawa Barat. Cuma dia kerja di sebuah toko di daerah Kramat Jati, Jakarta Timur.

Atas aksinya ini tersangka dijerat dengan Pasal bera­pa?

Pasal yang dikenakan terhadap pelaku itu Pasal 30, Pasal 32, dan Pasal 33 Undang-Undang ITE dengan ancaman hukuman 10 tahun. ***

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

Pertamina Mandalika Racing Series 2026 Songsong Pembalap Muda Menuju Pentas Dunia

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:56

Catatan Hari Pelaut Sedunia 2026

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:34

284 Petembak Siap Bertarung dalam Kejurnas Menembak ISSF 2026

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:17

Lembaga Peradilan Khusus Pemilu Perlu Dibentuk Demi Wujudkan Keadilan

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:50

Pembangunan Hotel Prima Katulampa Harus Dihentikan, Ini Sebabnya

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:30

Mahasiswa dan Dalang

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:10

Kejati Sultra Geledah Rumah Bos Tambang hingga Rujab Wabup Kolaka

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:48

PDIP yang Overthinking, Bukan Pemerintah yang Panik

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:32

Kemensos Mulai Operasikan Dua SR Permanen di Pasuruan Bulan Depan

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:16

PDIP Desak Wapres Gibran Klarifikasi Soal "Uang Sogok" ke Mahasiswa UBK

Selasa, 23 Juni 2026 | 22:45

Selengkapnya