Berita

Budi Waseso/Net

Bisnis

HKTI Dukung Bulog Berangus Mafia Pangan Tak Ingin Petani Dirugikan

SELASA, 03 JULI 2018 | 08:55 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Keberadaan mafia pangan sudah sejak lama meresah­kan masyarakat dan merugikan petani. Upaya Perum Bulog dan pihak terkait untuk memberan­gus mafia sangat diharapkan agar kebutuhan pangan nasional terbebas dari tindak kriminal sejumlah oknum.

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso (Buwas) menegas­kan, jika mafia pangan dibiarkan terus bukan tidak mungkin harga kebutuhan pangan di tengah-tengah masyarakat makin mahal karena sengaja dibuat langka oleh mereka. Tingginya harga pangan karena ulah mafia ini tidak mem­berikan dampak positif secara langsung pada petani.

Dari pengamatannya sejauh ini, dia mengungkapkan, ada oknum di internal Bulog yang bekerja sama dengan mafia. Teru­tama untuk urusan beras, oknum pegawai ini memiliki banyak modus untuk meraup untung tidak halal. "Ada berbagai cara ada dari mereka yang menimbun beras, dia (mafia beras) bekeja sama dengan okum di Bulog. Beras di Bulog dicampur dengan beras lokal dan jadi kemasan dan dijual dengan harga mahal. Beras medium dijual jadi premium terus dengan teknologi dan cara macam-macam lah," kata Budi.


Ketua Umum Himpunan Keru­kunan Tani Indonesia (HKTI) Jenderal (Purn) Moeldoko men­gatakan pihaknya sudah geram dengan keberadaan mafia. Jika dibutuhkan dia siap ikut membas­mi mafia pangan. "Kalau menurut saya orang seperti itu harus diberi­kan pelajaran, kita harus berani. Bisa nggak ? kalau nggak bisa gue nanti yang maju," tegasnya kepada Rakyat Merdeka.

Dijelaskan, para petani di kampung banyak yang tidak tahu jika hasil panen mereka yang dibeli dengan harga rendah bisa dijual mahal. Adanya impor pangan juga mesti diselidiki, dikhawatirkan impor dengan ala­san kelangkaan akibat barangnya disembunyikan oleh mafia.

Jika impor pangan sampai dilakukan, tentu petani lokal yang miris karena hasil panen harus dijual murah.

"Benar mafia pangan itu san­gat merugikan petani keberadaan mereka itu pasti menyusahkan para petani jadi harus dibersih­kan," jelasnya.

Dia mendukung upaya pem­berantasan mafia yang dilaku­kan Bulog dan Satgas Pangan. Moeldoko menilai, kinerja Bu­log dan semua pihak yang ingin memberantas mafia sangat ba­gus. Dalam waktu singkat dia mendengar Bulog sudah men­gantongi nama mafia tersebut.

"Saya pikir untuk memberan­tas mafia pangan langkah kepoli­sian dan juga Satgas itu sudah bagus,"  tutur pria yang menjabat Kepala Staf Kepresidenan ini.

Menurutnya, upaya menang­kap mafia tidak mudah maka diperlukan data dan bukti yang cukup sebelum menjebloskan mereka ke penjara. HKTI se­bagai organisasi tidak memiliki kuasa untuk bertindak. Makanya sampai saat ini Moeldoko men­gaku masih terus memantau perkembangan dari Bulog dan Satgas Pangan. Pihaknya selalu siap kapan saja jika diminta ban­tuan untuk menindak mafia.

"Harus berkolaborasi, kita sudah berkomunikasi juga den­gan Bulog dan Satgas untuk mengetahui perkembangan dan mendapat jaminan atas keterse­diaan pangan," terang dia.

Awasi Dan Data


Buwas mengatakan, saat ini Bulog terus bekerja sama dengan Satuan Tugas (Satgas) Pangan untuk melakukan pengawasan di internal. Pihaknya juga mendata oknum-oknum yang berada di sekitar Bulog maupun pihak luar. "Kita berikan ke teman-teman Satgas Pangan dan den­gan mudah didata dan diketahui untuk penindakan, supaya tidak ada unsur kesengajaan yang berulang," kata Buwas.

Bukan hanya beras, komodi­tas pangan lainnya juga kerap dimainkan mafia. Kalau daging seperti ayam itu dikumpul di cold storage, dari petani ditimbun baru dikeluarkan pelan-pelan. ***

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Tinjau Situs Bersejarah

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:59

KPK Harus Berani Ungkap 'Borok' Sejumlah Forwarder di Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:40

Kalkulasi Strategis Akuisisi Rudal BrahMos

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:27

Gabungan Aliansi BEM Nasional Tolak Penunggangan Gerakan Mahasiswa

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:57

Siapa Sebenarnya Pengkhianat?

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:40

Perlindungan Warga Sipil Papua Harus Berbasis Riset dan Demokrasi

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:20

Ini Pesan Panglima TNI kepada 1.737 Perwira Remaja yang Baru Dilantik

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:58

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Berikut Usulan Perpemindo ke KSP soal Penempatan PMI

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:01

Jembatan Pemikiran Frans Seda

Jumat, 26 Juni 2026 | 00:53

Selengkapnya