Berita

Foto/Net

Adhie M Massardi

Setelah Korea Selatan Mengukir Sejarah, Jepang Melenggang Dengan Tenang

KAMIS, 28 JUNI 2018 | 19:28 WIB | OLEH: ADHIE M. MASSARDI*

KOREA itu meskipun sudah terbelah dua menjadi Korea Selatan dan Korea Utara, gara-gara perang saudara pada 25 Juni 1950 sampai 27 Juli 1953, tapi kedua pecahan negara itu masih sanggup, bahkan tak pernah berhenti, mengguncang dunia.

Korea Utara yang sekarang dipimpin anak muda berbakat Kim Jong-un, 35 tahun, tak pernah berhenti bermain-main dengan peluru kendali berhulu ledak nuklir. Akibatnya, yang meriang bukan saja negara-negara tetangga seperti Korea Selatan dan Jepang, tapi juga Amerika Serikat.

Presiden AS Donald Trump yang temperamental beberapa kali mengancam, bahkan menyerukan boikot, tapi Jong-un tak gentar. Senjata nuklir produk teknologi perang negaranya terus diledakkan dalam percobaan yang mengguncang dunia.


Akhirnya, sejarah mencatat, Presiden AS Donald Trump menyerah dan terbang ke Singapura untuk berunding dengan pemimpin Pemimpin Tertinggi Republik Demokratik Rakyat Korea Kim Jong-un. Ini terjadi di Capella Hotel, Pulau Sentosa, Singapura, pada 12 Juni 2018.

Lain utara, lain pula selatan. Korea Selatan mengguncang dunia lewat produk otomotif dan (terutama) elektronik (gadget) merk Samsung. Mereka menguasai pasar gadget dunia secara meyakinkan hingga membuat keder Apple yang lewat seri iPhone semula merajai pasar.

Sementara di dunia kaum muda, Korea Selatan membombardir para ABG sejagat raya dengan industri budaya pop yang terkenal dengan istilah K-Pop.

Lalu tadi malam, para penggila bola sedunia dibuat berlinang airmata oleh timnas Korea Selatan. Di ajang sepakbola qubro Piala Dunia 2018 Rusia, tim asuhan Shin Taeyong ini secara damatis-tragis menyingkirkan tim Jerman dengan skor 2-0.

Padahal Die Mannschacft itu petahana juara Piala Dunia (2014) yang diproyeksikan akan mempertahankan gelarnya di Rusia.


Persaingan Tradisional Korea vs Jepang
Menurut hikayat "babad tanah Korea", kawasan Jepang itu dulunya merupakan tempat pembuangan para pemberontak dan kriminal dari negara di semanjung Asia Timur  Goryeo (cikal-bakal nama Korea). Seperti daratan Australia yang menjadi tempat pembuangan para kriminal dari Eropa (Britania Raya, Inggris).

Maka ketika orang-orang di tanah pembuangan itu tumbuh menjadi negara (Jepang), dan maju pula, maka secara tradisional tumbuh sentimen di antara kedua negara itu. Di kalangan bangsa Korea ada semacam kecemburuan yang luar biasa. Sementara dalam darah bangsa Jepang, mengalir sel-sel dendam kesumat yang gawat.

Makanya di masa lalu, perilaku tentara Jepang di Korea jauh lebih kejam dibandingkan di negara jajahannya yang lain. Pernah juga (hingga awal 90-an) wsrga keturunan Korea untuk memperoleh KTP oleh pemerintah Jepang diambil sidik jarinya.

Warga keturunan Korea di Jepang setiap hari selama beberapa tahun unjuk rasa atas diskriminasi ini. Sebab, asal tahu saja, di Jepang (waktu itu) hanya para kriminal (dan warga keturunan Korea) yang diambil sidik jarinya.

Sekarang tentu saja sengketa tradisional antara Korea dan Jepang lebih produktif. Bersaing dalam hal prestasi. Makanya tempo hari, agar tidak menimbulkan konflik, FIFA menggelar Piala Dunia 2002 digelar serentak di kedua negara ini.

Sekarang, setelah Korea Selatan mengguncang dunia dengan menghalau pulang kampung tim sesangar Jerman, pasti laskar Samurai Biru akan berjibaku menundukan Polandia nanti malam (21.00).

Memang Polandia punya  Robert Lewandowski, striker yang ngetop haus gol di Bundesliga. Tapi tampaknya tidak akan terlalu jadi masalah bagi anak-anak asuhan Akira Nishino ini.

Partai dahsyat tentu yang terjadi di tempat lain: Senegal vs Kolombia. Kedua tim ini berlaga hidup-mati untuk memperebutkan satu tiket lagi jatah Grup H.

Sedangkan dini harinya (01.00) Inggris hanya akan adu kehormatan dengan Belgia. Tapi Inggris sedang "on fire," sekarang ini. Jadi Belgia bisa kewalahan.

Kalau Panama vs Tunisia kelasnya ibarat partai tambahan dalam dunia tinju. Jadi fokus kita lebih ke Inggris.


@AdhieMassardi

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Jawab Tantangan Digital, Bawaslu Jadikan Kampus Laboratorium Demokrasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:54

DPD Ungkap Pola Investor ‘Berjudi’ Properti di Bali, Beli Aset Lalu Jual Lagi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:24

Denny Indrayana Cs Debat Sengit dengan KPU soal Verifikasi Data Calon

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:50

Nakhoda KM Virgo Transport 8 Langsung Ditahan Penyidik

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:20

Digagas di Era Purbaya, Wacana Insentif Motor Listrik Masih Belum Jelas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:59

Saksi Denny Indrayana Ungkap Tak Ada Bahasa Verifikasi Faktual Dokumen Capres-cawapres

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:34

Sjafrie Sematkan Tanda Kehormatan ke Tentara Jepang yang Bantu Atasi Karhutla

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:09

Kader PDIP Berpotensi Jabat Wapres Jika Gibran Didiskualifikasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:55

TNI Hormati Kejagung Imbas Penetapan Kolonel Budi Tersangka Korupsi MBG

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:42

Kemenperin Dukung Impor KRL Bekas dari Jepang, Ini Alasannya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:18

Selengkapnya