Berita

Nasaruddin Umar/Net

Multi Makna Mudik (4)

Spiritualitas Mudik

KAMIS, 28 JUNI 2018 | 10:25 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

MAKNA spiritual mudik mengingatkan kita kepada sebuah perjalanan spiritual kembali kepada Tuhan set­elah kita sebagai anak ma­nusia jatuh di bumi penderi­taan dari langit kebahagian. Ramadhan (menghangus­kan) baru saja membakar habis seluruh dosa yang pernah dilakukan. Adalah wajar jika Allah Swt menaikkan kem­bali hamba-Nya ke kampung halaman rohan­inya sebagai makhluk surgawi. Seperti kita ketahui, nenek moyang kita Adam dan Hawa diciptakan di surga kemudian diturunkan ke bumi karena melanggar tata-tertib surga. Allah Swt menciptakan manusia dengan cinta. Ia tidak tega menyaksikan kekasihnya berlama-lama hidup di dalam penderitaan di bumi lalu diundang kembali untuk naik ke pangkuannya semula di surga. Surat undangan dan sekali­gus berfungsi sebagai tiket mudik ke kampung halaman itu ialah Al-Qur'an.

Setelah sebulan penuh hamba-Nya melaksanakan berbagai amaliah Ramadhan maka ditutuplah bulan itu dengan sebuah per­istiwa Hari Raya Idul Fithrah, kembali ke fitrah, jati diri paling luhur bagi anak manusia. Siapa yang tidak merinding mendengarkan pang­gilan mesra Allah swt: Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya. (Q.S. al-Fajr/89:27-29).

Makna spiritual mudik yang paling penting sesungguhnya ialah kembali menyambung tali kasih (shilah al-rahim). Kata shilah dalam ba­hasa Arab: washala-yashilu-washlan, wush­ulan, shilah, yang secara harfiah berarti sam­pai ke..., menyambung, menggabungkan, dan berkelanjutan. Dari akar kata tersebut terben­tuk sejumlah derifasi dan maknanya masing-masing. Sedangkan kata rahim berasal dari akar kata rahima-yarham-marhamah, yang secara harfiah berarti menaruh kasih, mencin­tai, menyayangi dengan sangat dalam. Dari akar kata ini muncul derifasi kata lain misal­nya: Rahmah (rahmat), al-Rahim (Maha Pe­nyayang), dan al-Rahman (Maha Pengasih). Dari akar kata yang sama juga lahir kata ra­him, yaitu organ reproduksi, baik yang berada di dalam perut perempuan (rahim mikrokos­mos) maupun organ reproduksi alam raya (ra­him makrokosmos), seperti perut bumi yang juga lazim disebut ibu pertiwi.


Secara populer silaturrahim sering diarti­kan menyambung tali cinta-kasih. Silaturrahim sering diidentikkan dengan kata halal bi ha­lal, mempunyai makna lebih dari sekedar ber­salam-salaman antara satu dengan yang lain. Konsep silaturrahim di dalam Al-Qur'an dan sebagaimana dipraktekkan Rasulullah Saw, bukan hanya dengan sesama umat Islam, atau sesama umat manusia, tetapi lebih luas dari itu, meliputi seluruh makhluk makrokosmos, mikrokosmos, dan makhluk spiritual. Silaturra­him tidak dipilah dan dibedakan oleh atribut-atribut primordial manusia, seperti agama, ras, etnik, suku-bangsa, negara, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, dan lain sebagainya.

Silaturrahim juga bisa diwujudkan dengan para makhluk spiritual, seperti dengan para arwah yang telah wafat, para malaikat, dan para jin. Bagi para sufi, juga mempunyai kon­sep silaturrahim dengan Tuhan yang diisti­lahkan dengan "taqarrub ilallah" (pendekatan diri kepada Allah Swt). Semakin harmonis si­laturrahim kepada para pihak maka semakin tinggi kualitas dan martabat manusia itu. Se­makin buruk silaturrahim itu maka semakin bu­ruk pula kualitas dan martabat hidup manusia itu. Sedemikian dalam makna silaturrahim ini maka Nabi pernah bersabda: "Kasih sayang itu tergantung di langit Arasy lalu Ia berkata ba­rang siapa yang menjalin hubungan denganku maka akan dihubungkan dirinya dengan Tu­han, sebaliknya barangsiapa yang memu­tus shilaturrahim terhadapku maka Allah pun akan memutus hubungan dengannya". Dalam hadis lain dikatakan: "Barangsiapa yang tidak menyayangi manusia maka Allah SWT tidak akan menjalin hubungan dengannya".

Silaturrahim salahsatu rahasia untuk mem­perpanjang umur, sebagaimana disabdakan Nabi bahwa silaturrahim bisa memperpanjang umur. Apa yang dikatakan Nabi ini secara ra­sional bisa difahami bahwa orang yang memi­liki banyak kolega baik sudah barangtentu lebih banyak jembatan rahmat dan rezki yang bisa dibangun.

Populer

Ramadhan Pohan, Pendukung Anies yang Kini Jabat Anggota Dewas LKBN ANTARA

Jumat, 09 Januari 2026 | 03:45

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

UPDATE

OTT Pegawai Pajak Jakarta Utara: KPK Sita Uang Ratusan Juta dan Valas

Sabtu, 10 Januari 2026 | 12:14

Mendagri: 12 Wilayah Sumatera Masih Terdampak Pascabencana

Sabtu, 10 Januari 2026 | 12:04

Komisi I DPR: Peran TNI dalam Penanggulangan Terorisme Hanya Pelengkap

Sabtu, 10 Januari 2026 | 11:33

X Ganti Emotikon Bendera Iran dengan Simbol Anti-Rezim

Sabtu, 10 Januari 2026 | 11:27

Trump Sesumbar AS Bisa Kuasai 55 Persen Minyak Dunia Lewat Venezuela

Sabtu, 10 Januari 2026 | 11:10

Konten Seksual AI Bikin Resah, Grok Mulai Batasi Pembuatan Gambar

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:52

Ironi Pangan di Indonesia: 43 Persen Rakyat Tak Mampu Makan Bergizi

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:41

Emas Antam Berkilau, Naik Rp25.000 Per Gram di Akhir Pekan

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:34

Khamenei Ancam Tindak Tegas Pendemo Anti-Pemerintah

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:22

Ekonomi Global 2026: Di Antara Pemulihan dan Ketidakpastian Baru

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:06

Selengkapnya