Berita

Nasaruddin Umar/Net

Sosiologi Terorisme (21)

Mengidolakan Tokoh Garis Keras

JUMAT, 22 JUNI 2018 | 08:31 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

SALAH satu ciri kelompok garis keras atau radikal ialah terlalu mengidolakan tokoh-tokoh garis keras. Baik di masa lampau mau­pun di masa kontemporer. Salah satu tokoh sering diidolakan mereka ialah Sayid Qutub seorang ulama besar. Ulama yang men­guasai berbagai macam ilmu pengetahuan. Dia menulis Tafsir tahlili berjilii-jilid diberi berjudul: Fi Dhilal al-Qur'an, yang kini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Ia dilahirkan dalam konteks sejarah ke­tika dunia Islam betul-betul sedang dilanda pergolakan politik bahkan perang. Ia men­jadi bagian dari sejarah itu. Ada orang yang mengatakan bahwa tafsirnya lebih merupa­kan autobiografi penulisnya. Sayid Qutub sering dijadikan rujukan setiap kali muncul wacana tentang Dar al-Harb atau Dal al- Islam. Sayang sekali orang secerdas Sayid Qutub sering menjadi korban generalisasi. Seolah-olah dia selalu menjadi tumbal aliran fundamentalis. Padahal, jika kita membaca secara kritis dan secara seksama karya-karyanya, dia juga tidak sepenuhnya menu­tup pintu pengakuan terhadap kelompok pro-perdamaian atau pro-demokrasi.

Aspek-aspek moderat Sayid Qutub seolah tidak muncul. Padahal di dalam tafsirnya banyak hal yang menarik, di dalam tafsirnya, seperti soal seksologi, mungkin pembahasan beliau paling moderat (untuk tidak menyebut vulgar) di banding ulama tafsir lain.

Ada sekelompok orang memandang secara keliru bahwa Sayyid Qutub tidak mengakui masyarakat modern dan meman­dangnya sebagai dar al-harb (negara yang harus diperangi), memerangi masyarakat modern ini dianggap sebagai penerapan hu­kum Islam. Padahal Sayid Qutub dan ulama modern lainnya tidak seorang pun yang me­nyatakan keharusan memerangi non muslim yang dianggap berada di dalam Dar al-Harb. Aturan hukum fiqh mengenai masalah ini dan (jizyah) yang diambil dari mereka, tidak harus dipermasalahkan secara panjang lebar. Sebab masalah ini tidak ditemukan pada masa sekarang, tidak seperti halnya pada masa-masa lalu dimana para ulama dituntut untuk memberi fatwa mengenai masalah ini. Dengan demikian maslah Dar al-Harb dan jizyah ini telah menjadi masalah sejarah, bukan masalah faktual. Seandainya Sayid Quthb masih hidup sekarang pasti memiliki pendapat baru (qaul jadid).


Penafsiran yang amat menonjol dari Sayid Qutub dan sering dijadikan landasan berfikir oleh kelompok hard liner ialah penafsirannya tentang surah Al-Taubah, yang berisi banyak ayat tentang peperangan, kemusyrikan, dan kemunafikan. Di dalam surah ini Sayid Quthb berbicara tentang realitas yang ada di Jazirah Arab antara kubu Islam dan kubu kaum Musyrikin. Hukum-hukum yang terdapat dalam ayat-ayat ini dimaksudkan untuk realitas objektif itu dan kaum musyrikin yang dimaksudkan di sini juga kaum musyrikin di jazirah Arab. Akan tetapi apabila terjadi kondisi yang sama maka hukumnya satu, yaitu memerangi mereka jika mereka bersikap memusuhi. Tetapi Sayid Quthb tidak pernah mendeklarasikan penafsirannya itu relevan untuk sepanjang masa.

Konsep Dar al-Islam dan Dar al-Harb hanya ada dalam keadaan perang antara kaum muslimin dengan musuh-musuh Islam. Untuk kontek sekarang yang lebih tepat ada­lah tawaran para teoritis fiqh siyasyah yang merupakan konsep alternatif, yakni konsep Dar as-Shulh, wilayah gencatan atau perjanjian damai yang tidak lagi memandang perang (jihad) sebagai satu-satunya cara untuk keluar dari sengketa politik. Di samping itu, warga non muslim memiliki hak kewarganegaraan sama dengan warga muslim. Sedangkan orang musyrik dari wilayah manapun meskipun dia memusuhi Islam apabila meletakkan senjata dan minta perlindungan, maka wajib bagi kaum muslimin memberinya perlindungan. Karena dalam prakteknya pada generasi-generasi awal pemerintahan Islam, secara jelas menun­jukkan bahwa non muslim adalah warga negara yang mempunyai hak kewarganega­raan seperti halnya yang dimiliki oleh kaum muslimin. Istilah Dar al-Harb atau Dar al-Kufr dan Dar al-Islam bukanlah hukum tekstual yang diambil dari nash melainkan satu ijtihad yang berakhir masanya dengan berakhirnya kondisi yang mengharuskan adanya ijtihad ini, khusus­nya dengan masuknya semua negara ke dalam kesepakatan internasional melalui perserikatan bangsa-bangsa. Semangat Sayid Quthb adalah semangat zamannya yang sangat berbeda dengan zaman kita sekarang.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Irjen Slamet Uliandi Tersangka Keempat Kasus Penyadapan Telepon Prabowo

Jumat, 06 November 2026 | 02:03

Dzulfikar dan Fuji Abdul Tekankan Intelektualisme Pemuda untuk Pengabdian Bangsa

Jumat, 06 November 2026 | 01:31

Pramono Bertahap Menata Parkir Liar hingga Fasilitas Tanah Abang

Jumat, 06 November 2026 | 01:17

Kalau Hasil Labfor Polri Diragukan, Siapa Lagi yang Mau Dipegang?

Jumat, 06 November 2026 | 01:05

Menjaga Riau dari Ancaman Karhutla Lewat Mitigasi Berkelanjutan

Jumat, 06 November 2026 | 00:32

PPKK Perkuat Pengamanan Kawasan Kemayoran

Jumat, 06 November 2026 | 00:17

Tunjukkan Ijazah di Pengadilan Belum Tentu Akhiri Polemik

Jumat, 06 November 2026 | 00:08

Listyo Sigit Cs Pakai Mesin Sadap Seharga Rp212 Miliar

Kamis, 05 November 2026 | 23:39

Gratis Masuk Ancol Bulan November, Cek Caranya

Kamis, 05 November 2026 | 23:12

Jokowi Menolak Ijazah Diuji Ulang, Pengamat: Apa karena Kapolri sudah Diganti?

Kamis, 05 November 2026 | 23:01

Selengkapnya