Berita

Foto/Net

On The Spot

Petugas Pengamanan Periksa Tas Pengunjung Gedung DPR

Buntut Penangkapan Terduga Teroris Di Riau
JUMAT, 08 JUNI 2018 | 10:26 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pengamanan kompleks Gedung DPR/MPR di Jalan Gatot Subroto, Jakarta terus diperketat. Belasan petugas pengamanan dalam (Pamdal) melakukan pemeriksaan secara ketat bagi pengunjung yang memasuki gedung wakil rakyat itu.

Ketatnya pengamanan di kompleks DPR sudah terlihat sejak pintu masuk. Ada tiga pintu masuk yang tersedia. Pintu masuk utama berada di Jalan Gatot Subroto, Jakarta yang hanya dikhususkan bagi kend­aran roda empat atau lebih.

Sementara dua pintu lainnyaberada di bagian belakang kompleks DPR atau di dekat Lapangan Tembak, Senayan. Di pintu belakang sebelah kanan dikhususkan bagi kendaraan roda empat atau lebih, sedang­kan pintu masuk dengan ukuran lebih kecil atau di sisi kiri untuk roda dua.


"Penjagaan kami perketat sejak aksi bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya," ujar Rinaldi, salah satu petugas Pamdal di Kompleks Senayan, Jakarta, Rabu (6/6).

Untuk pengamanan di jalur motor, terdapat dua lapis penjagaan. Penjagaan pertama di­lakukan oleh beberapa Pamdal yang akan menanyakan tujuan pengunjung mendatangi gedung wakil rakyat. Bila mempunyai kartu pengenal yang dikeluarkan pihak Kesekjenan DPR, bisa langsung masuk ke dalam kom­pleks. Bila tidak punya, maka harus menukarkan kartu identitas diri berupa KTP atau SIM dengan kartu pengunjung yang dikeluar­kan pihak Kesekjenan DPR.

Belum cukup, tidak jauh dari penjagaan pertama, giliran pe­meriksaan barang-barang yang dibawa pengunjung. Di tempat ini dua petugas Pamdal akan me­meriksa secara detail isi di dalam tas. Petugas juga menempelkan alat deteksi metal detector ke tas. Setelah dinyatakan bebas dari barang-barang berbahaya, pengunjung baru diperbolehkan masuk ke dalam.

"Kami antisipasi saja, takutnya pengunjung membawa barang-barang yang membahayakan," ujar Rinaldi kembali.

Pemeriksaan ketat juga di­lakukan bagi pengendara roda empat. Beberapa petugas Pamdal menyapa dengan ramah seluruh pengendara yang masuk. Setelah itu, pengemudi diminta untuk menghentikan mobil sejenak dan membuka bagasi mobil. Setelah diteliti sebentar dengan menggu­nakan detector logam dan dinya­takan bersih, baru diperbolehkan masuk lebih dalam.

"Kami juga meminta bantuan personel polisi untuk memperte­bal pengamanan setelah ancaman teroris di Riau," ujar Rinaldi.

Kendati pihak Kesekjenan DPR telah meminta penambahan personel polisi, tapi tidak terlihat petugas kepolisian berjaga-jaga di pintu masuk di bagian bela­kang. Mereka hanya berjaga-jaga di pintu masuk utama yang berada di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, tanpa membawa senjata laras panjang.

"Pihak kepolisian lebih sering melakukan pengamanan dengan cara berkeliling ke seluruh kom­pleks DPR," kata dia.

Sementara, pengamanan di dalam Gedung DPR berjalan seperti biasa. Tidak ada pemeriksaan ketat terhadap seluruh pengunjung yang mengakses ke beberapa ruangan. Mereka hanya diminta untuk mengenakan data pengenal diri yang telah didapatkan di pintu masuk.

Namun, bila ingin mengakses ke ruang kerja anggota Dewan yang berada di Gedung Nusantara I DPR, pengunjung hanya diperbolehkan menggu­nakan 4 lift yang tersedia untuk karyawan, PNS dan staf ahli.

Sementara, empat lift lainnya hanya bagi anggota Dewan yang disekat dengan menggunakan kaca. Sehingga, tidak sembarang orang bisa menggunakna lift ini karena dijaga ketat dua petugas Pamdal.

Sekretaris Jenderal DPR Indra Iskandar menambahkan, petu­gas Pamdal agar memperhati­kan kedisiplinan anggotanya, meningkatkan pengamanan guna mencegah dan melindungi selu­ruh pejabat dan pegawai DPR dari ancaman dan kesempatan pelaku kejahatan. Mengingat, maraknya pemberitaan bahwa DPR menjadi salah satu lembaga sasaran ancaman terorisme.

"Pamdal jangan lalai dalam menjalankan tugas. Demi men­jaga keamanan ke depannya kita akan menjalin kerjasama dengan pihak-pihak keamanan secara lebih serius," pesan Indra.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigadir Jenderal Mohammad Iqbal mengatakan, kepolisian akan memperketat pengamanan sejumlah objek vital termasuk kompleks Gedung DPR/MPR Senayan, Jakarta.

"Tapi, tidak dalam nuansa ketakutan karena kami yakin seluruh elemen masyarakat membantu polisi," ujar Iqbal dalam keteranganya.

Iqbal menyebut, ada bebera­pa skema dalam memperketat pengamanan di gedung DPR, mulai dari penambahan jumlah personel polisi dan peningkatan strategi khusus pengamanan. "Yang tadinya patroli tiga kali da­lam sehari, kami lipat gandakan menjadi enam kali," tandasnya.

Terkait pengamanan objek vi­tal di Jakarta, kata Iqbal, pihaknya akan bekerja sama dengan stakeholder yang ada, salah satunya meminta bantuan TNI. Pasalnya, tidak mungkin Polri mengamankan seluruh obyek vital yang ada. "Karena kami nggak bisa bekerja maksimal kalau sendiri," ucapnya.

Selain itu, Iqbal meminta setiapobjek vital menambah kamera CCTV dan satuan penga­manan swakarsa di masyarakat. "Kami dorong beberapa elemen masyarakat seperti RT, RW untuk wake up agar lebih memberdaya­kan masyarakat untuk menyam­bangi masyarakatnya, mengenali semua warganya dan terus ronda keliling," pungkasnya.

Latar Belakang
3 Terduga Teroris Mau Ledakkan Gedung DPR
 Tiga terduga teroris, masing-masing berinisial Z, D, dan K ditangkap tim gabungan Densus 88 Mabes Polri dan kepolisian di Gedung Gelanggang Mahasiswa, FISIP, Universitas Riau (Unri), Sabtu (2/6). Mereka diduga me­nargetkan peledakan di Gedung DPR dan DPRD Provinsi Riau.

Kapolda Riau Irjen Nandang menyatakan, tiga terduga ter­oris merupakan alumni dari kampus Unri. Mereka adalah, tersangka berinisial D alumni Jurusan Administrasi Negara, K alumni tahun 2004 Jurusan Ilmu Komunikasi, dan Z alumni tahun 2005 Jurusan Pariwisata Fakultas ilmu Sosial dan Ilmu Politik. "Z mempelajari cara merakit bom le­wat media sosial," kata Nandang dalam keterangannya.

Setelah itu, lanjut Nandang, Z lantas mengajak dua tersangka lainnya untuk melakukan aksi bom bunuh diri. "Mereka akan meledak­kan empat bom yang sudah aktif di kantor DPRD Provinsi Riau dan kantor DPR," sebutnya.

Nandang menuturkan, jaja­rannya mulai mendeteksi ke­beradaan terduga teroris sejak dua pekan sebelum melakukan penggerebekan.

"Polda Riau bersama dengan Densus 88 setelah mendapat cukup bukti, bermaksud melaku­kan penggerebekan tersebut pada hari Jumat (1/6)," ucapnya.

Namun, lanjut Nandang, peng­gerebekan urung dilakukan atas dasar beberapa pertimbangan, baru bisa dilakukan hari Sabtu. Sebelum melakukan penggerebe­kan, kata Nandang, polisi terlebih dahulu mengumpulkan data terkait dengan siapa, bagaimana, dan bentuk aktivitas mencuriga­kan di perguruan tinggi negeri terbesar di Riau tersebut.

"Setelah memperoleh data awal akurat, tentang siapa, ba­gaimana, akan lakukan apa, su­dah diketahui sedari awal, baru digerebek," tegasnya.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Hari Bakti, Lapas Cianjur Gelar Aksi Bersih-Bersih melalui Imipas Peduli

Jumat, 06 November 2026 | 22:35

Kejagung Sita Rp11,7 Miliar dalam Kasus Nikel Arif Kurniawan

Jumat, 06 November 2026 | 22:31

Kapolri Banjir Dukungan Bongkar Kasus Penyadapan

Jumat, 06 November 2026 | 22:21

Bank Mandiri Bukukan Laba Bank Only Rp46,5 Triliun

Jumat, 06 November 2026 | 22:19

Aturan Berubah, Ekspor ke Jepang hingga Uni Eropa Masuk Daftar Relaksasi

Jumat, 06 November 2026 | 22:06

11 Kreator Indonesia Siap Bersaing di TikTok Awards Southeast Asia 2026

Jumat, 06 November 2026 | 21:48

Singgung Jokowi-Gibran, Penyadapan Prabowo Diduga Bermuatan Politik

Jumat, 06 November 2026 | 21:39

Pegasus di Indonesia: Sekadar Mitos atau Ancaman Nyata?

Jumat, 06 November 2026 | 21:26

MedcoEnergi Umumkan Penerbitan Obligasi Senilai 300 Juta Dolar AS

Jumat, 06 November 2026 | 21:26

Ketika Listrik Membuka Peluang: Dari Rumah Tangga hingga Ekonomi Desa

Jumat, 06 November 2026 | 21:03

Selengkapnya