Berita

Nasaruddin Umar/Net

Sosiologi Terorisme (3)

Cikal-Bakal Teroris

SENIN, 21 MEI 2018 | 10:39 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

BIASANYA setiap tero­ris tidak langsung menjadi teroris. Umumnya mer­eka melewati sebuah step berupa kelompok radikal. Ciri-ciri umum Kelompok Radikal dapat diidentifikasi antara lain mengharam­kan sesuatu pada diri dan orang lain padahal Allah Swt dan Rasul-Nya tidak pernah mengharamkan hal itu, misal­nya menghadiri walimah atau acara yang dilakukan di luar kelompoknya; berlebihan di dalam memaknai ayat dan hadis yang pada hakekatnya tidak sejalan dengan tu­juan umum syari’ah (maqashid al-syari'ah), misalnya melakukan perjalanan jihad dengan menelantarkan keluarganya.

Mereka meninggalkan yang halal dan mengharamkan kepada diri dan orang lain dengan anggapan pilihan sikap itu paling sejalan dengan Al-Qur'an dan sunnah. Mereka tidak segan-segan menghina aliran dan mazhab yang dianut orang yang berbeda pendapat dengannya sebagai aliran sesat. Mereka mengambil sikap berlebihan kepada orang lain yang berbeda dengan pendapat­nya, misalnya menuduh orang lain sebagai ahli bid’ah dan mengklaim diri sebagai ahli sunnah sejati, bahkan tidak segan-segan mengkafirkan dan memfatwakan kebolehan menghalalkan darah orang yang berbeda dengan pendapatnya.

Mereka juga menganggap orang lain sebagai kelompok jahiliah modern, yang tak layak diikuti. Mereka mengharamkan bermakmum kepada orang yang berada di luar kelompoknya dan menganggap sia-sia shalat di belakang orang yang fasiq. Mereka juga menuduh ulama yang tidak sejalan dengannya sebagai ulama sesat (ulama' al-su') dan melecehkannya secara terbuka. Mereka selalu memisahkan diri dengan umat Islam yang tidak sejalan dengannya di dalam melakukan berbagai aktivitas, termasuk ibadah shalat berjamaah. Mereka tidak mau berpartisipasi dalam gagasan yang dirintis atau diprakarsai oleh orang-orang dari luar kelompoknya.


Mereka melakukan interpretasi dalil agama sesuai dengan ideologinya, tidak peduli itu kontroversi di kalangan umat mayoritas. Mereka tidak takut dan terbiasa hidup di dalam perbedaan dan keterasingan dengan umat mainstream. Mereka bisa saja memo­tong ayat atau hadis untuk mengambil dasar pembenaran terhadap ajarannya, misalnya ayat-ayat jihad di ambil pertengahan atau potongan yang mendukung perjuangan­nya, seperti "…maka bunuhlah orang-orang musyrikin (non-muslim) itu di mana saja ka­mu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. ….". Potongan ayat ini diambil dari perten­gahan Q.S. al-Taubah [9]: 5. Mereka juga sering mengabaikan sabab nuzul ayat dan sabab wurud hadis demi untuk memokuskan makna ayat kepada ajarannya. Mungkin saja ayat atau hadis itu menunjuk kepada satu kasus yang yang sangat spesifik tetapi diperlakukan secara general, contohnya: "Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka…." (Q.S. al-Baqarah [2]:191). Ayat ini turun sebagai direction dalam salah satu peperangan Nabi di Madinah.

Mereka selalu beranggapan bahwa penaf­siran yang berbeda dengannya salah, seka­lipun secara logika dan kaedah keilmuan benar, mereka selalu yakin dengan pendap­atnya yang dianggap paling benar. Mereka juga selalu aktif berdakwah di berbagai tempat sepertinya tak pernah kenal lelah. Di dalam melakukan dakwahnya mereka selalu menyampaikannya secara eksklusif dan terang-terangan tanpa rasa takut atau canggung.

Sepertinya mereka tidak takut dengan segala risiko karena mereka sangat yakin Tuhan selalu bersamanya dan merestui perjuangannya. Mereka juga pintar mencari simpati dan perhatian masyarakat umum (grassroot) dengan menampilkan sesuatu yang berbeda dengan mayoritas. Mereka se­lalu berusaha mengambil alih rumah ibadah dengan berbagai cara dari tangan orang lain, karena cara ini dianggap paling efisien dan efektif. Mereka juga solid di dalam mengum­pulkan dana untuk mendanai seluruh kegia­tannya. Umumnya mereka memiliki sumber dana rutin dan tetap dari para anggotanya, dan sesekali mendapatkan bantuan dana dari luar negeri.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Irjen Slamet Uliandi Tersangka Keempat Kasus Penyadapan Telepon Prabowo

Jumat, 06 November 2026 | 02:03

Dzulfikar dan Fuji Abdul Tekankan Intelektualisme Pemuda untuk Pengabdian Bangsa

Jumat, 06 November 2026 | 01:31

Pramono Bertahap Menata Parkir Liar hingga Fasilitas Tanah Abang

Jumat, 06 November 2026 | 01:17

Kalau Hasil Labfor Polri Diragukan, Siapa Lagi yang Mau Dipegang?

Jumat, 06 November 2026 | 01:05

Menjaga Riau dari Ancaman Karhutla Lewat Mitigasi Berkelanjutan

Jumat, 06 November 2026 | 00:32

PPKK Perkuat Pengamanan Kawasan Kemayoran

Jumat, 06 November 2026 | 00:17

Tunjukkan Ijazah di Pengadilan Belum Tentu Akhiri Polemik

Jumat, 06 November 2026 | 00:08

Listyo Sigit Cs Pakai Mesin Sadap Seharga Rp212 Miliar

Kamis, 05 November 2026 | 23:39

Gratis Masuk Ancol Bulan November, Cek Caranya

Kamis, 05 November 2026 | 23:12

Jokowi Menolak Ijazah Diuji Ulang, Pengamat: Apa karena Kapolri sudah Diganti?

Kamis, 05 November 2026 | 23:01

Selengkapnya