Berita

Robert J Kardinal/Net

Politik

Banyak Perusahaan Di Papua Ogah Pakai Tenaga Kerja Lokal

SELASA, 15 MEI 2018 | 04:50 WIB | LAPORAN:

Ketua Kaukus Parlemen Papua Barat Robert J Kardinal kesal melihat kondisi perusahaan-perusahaan migas yang beroperasi di daerahnya yang ogah mempekerjakan masyarakat lokal. Padahal, perusahaan tersebut telah mengeruk dan mengambil sumber daya alam milik rakyat Papua.

"Di Papua ini kan ada yang namanya otonomi khusus, ada juga hak ulayat. Kalau hak ulayat, berarti yang punya hak di situ rakyat, yang harusnya dihormati. Tapi, yang terjadi, banyak pekerja-pekerja di perusahaan tersebut berasal dari luar Papua. Padahal, orang Papua juga itu sudah yang andal di bidang migas. Ini malah hampir 100 persen pekerja dibawa dari luar. Lihat saja di BP Tangguh, itu tak satu pun ada orang Papua," ujar Bendarahara Umum Partai Golkar ini di Jakarta, Senin (14/5).

Akibat hal ini, kata Robert, orang Papua hanya menjadi penonton atas mengerukan sumber daya alam yang terjadi di daerahnya. Robert bersama Komunitas Masyarakat Adat di Papua Barat sebenarnya sudah sering mengajukan protes atas prilaku tersebut. Sayangnya, perotes-protes tersebut tak ditanggapi perusahaan-perusahaan tadi.


"Harusnya ini yang jadi perhatian kita. Walau itu perusahaan asing, khusus untuk pekerja Indonesia yang ada di perusahaan tersebut, harus berpihak lebih pada pekerja Papua. Jangan sampai masyarakat protes dan demo segala macam. Kita minta Pemerintah Pusat jadikan ini sebagai perhatian," pintanya.

Jika kondisi seperti sekarang terus terjadi, Robert khawatir bisa memicu disintegrasi bangsa di Papua. Sebab, masyarakat Papua tidak dapat mencari pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kehidupannya sendiri di tanah milik mereka.

"Saya sudah bertemu dengan BP Migas, BP Tangguh, tapi tidak ada realisasi. Karena itu, saya minta segera direalisasikan minimal 80 persen orang Papua bekerja di perusahaan tersebut. Mereka tidak boleh jadi penonton, yang bisa membuat mereka makin kecewa pada Pemerintah Pusat. Sementara, kerja di luar juga sulit. Mereka mau kerja ke Sumatera, ke Kalimantan, juga ditolak," bebernya.

Bukan hanya di perusahaan migas, perusahaan bidang perkebunan juga demikian. Menurut Robert, masih banyak perusahaan perkebunan di Papua yang tidak melaksanakan kewajibannya menggunakan 20 persen plasma nutfah di areal perkebunan tersebut. Dia ingin kondisi ini segera diselesaikan Pemerintah.

"Ini tugas buat Dirjen Perkebunan Kementan (Kementerian Pertanian)," tambah dia.

Anggota DPD dari daerah pemilihan Papua Barat Mervin Sadipun Komber membeberkan keburukan lain dari perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Papua. Mervin menyatakan, banyak perusahaan di Papua mengabaikan pelestarian lingkungan. Perusahaan-perusahaan itu sering meninggalkan bekas lahan operasinya begitu saja tanpa ada perbaikan.

"Ini yang cukup meresahkan masyarakat adat Papua Barat. Seharusnya, setelah menggunakan lahan, perusahaan itu memperbaiki kembali. Sehingga nantinya dapat dimanfaatkan kembali masyarakat adat di sana," ujarnya. [nes]

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

ANTAM Pertahankan Posisi di Tiga Indeks ESG KEHATI Periode Juni–November 2026

Jumat, 19 Juni 2026 | 12:22

Dari Korupsi BGN ke RUU HAM: Meninjau Korban yang Terlupakan

Jumat, 19 Juni 2026 | 12:02

KSAU Resmikan Skadron Udara 18 di Lanud Halim, Perkuat Dukungan Penerbangan Kenegaraan

Jumat, 19 Juni 2026 | 12:01

Pimpinan DPR Siap Temui Mahasiswa yang Demo di Parlemen Hari Ini

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:57

PGN Gelar Program Bedah Dapur GasKita 2026 demi Manjakan Pelanggan

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:45

KPK Dalami Peran Mertua Menpora Dito Ariotedjo dalam Skema Kuota Haji 50:50

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:42

BPJPH dan ESQ Siapkan SDM Tangguh Hadapi Wajib Halal 2026

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:37

Sugiono Sampaikan Salam Prabowo untuk Putin, Minta Maaf Absen di KTT ASEAN-Rusia

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:35

Harga Minyak Dunia Stabil saat Selat Hormuz Kembali Dibuka

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:27

93 Sekolah Rakyat Permanen Hampir Rampung, Mensos Imbau Pemda Perkuat Kolaborasi

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:09

Selengkapnya