Berita

Politik

Panik Stadium Empat

SENIN, 07 MEI 2018 | 15:29 WIB

PENYAKIT kaosphobia yang menjangkit penguasa semakin menggila. Aparat dikerahkan, intel diterjunkan, surat edaran diterbitkan, aksi tandingan dikerahkan.

Dalam teori classical conditioning di dalam ilmu psikologi, tindakan itu wujud kepanikan dan ketakutan yang ekstrem.

Hanya karena kaos bertagar #2019GantiPresiden, kantor Partai Gerindra di Semarang didatangi aparat bersenjata. Di Medan surat edaran pencegahan dilayangkan. Di Makassar orang disweeping aparat kepolisian. Di Jakarta bocah di bawah umur dikerahkan untuk menggelar aksi tandingan. Bahan kaosnya jelek dan ukurannya kedodoran. Kasihan...

Polisi pernah berkata, kaos #2019GantiPresiden tidak dilarang. Bawaslu juga bilang kaos itu tidak masuk konteks pelanggaran. Sayang, penguasa sudah kadung parno dan gelap mata. Mereka khawatir gerakan ini kian membesar yang efeknya tak bisa melanjutkan kekuasaan.

Penguasa saat ini sangat demokratis dalam ucapan, tapi tirani dalam tindakan. Gerakan kaos dikebiri, para kritikus ditangkapi, akun sosmed yang vokal dibuat mati. Dia biarkan publik membaca portal abal-abal versinya sendiri sebagai rujukan informasi.

Ngakunya kangen didemo, tapi nyatanya saat umat membanjiri Istana dia minggat ke bandara. Ngakunya demonstran akan disambut makan, tapi nyatanya mereka malah dihadapi dengan senapan.

Sebenarnya apa yang harus ditakuti dengan kaos #2019GantiPresiden bila survei kepuasan publik katanya sangat tinggi? Apa yang harus ditakuti bila elektabilitas nama dia katanya mengudara sendiri? Apa yang harus ditakuti bila sederet partai katanya sudah dikuasai? Apa yang harus ditakuti bila logistik dan materi katanya paling mumpuni?

Jangan-jangan angka survei kepuasan itu dusta. Jangan-jangan data statistik itu bohong belaka. Jangan-jangan isu elektabilitas tinggal 11 persen itu benar adanya. Jadi kita harus maklum bila penguasa sedang panik dan kalap.

Saya sama sekali tidak mengecam atau menyayangkan sweping kaos #2019GantiPresiden. Saya malah mendukung agar tindakan represif ini dilanjutkan. Kenapa...? Karena dengan demikian perlawanan akan semakin besar. Konsolidasi rakyat akan semakin tak terbendung.

Sudah menjadi hukum alam, bahwa semakin nyata penindasan, akan semakin keras pula perlawanan. Dan sudah menjadi hukum alam juga, bahwa kepanikan dan ketakutan semakin mendekatkan dengan kekalahan dan kehancuran.

Kini, masyarakat dihadapi dengan dua pilihan. Masuk lingkaran penguasa yang sedang dilanda ketakutan, atau bergabung dengan barisan rakyat yang optimis ingin perubahan. Kita boleh percaya dengan statistik atau angka-angka versi mereka, tapi kita tidak bisa membohongi rasa dan menabrak logika.[***]

TB Ardi Januar

Kader muda Partai Gerindra, tinggal di Jakarta

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

UPDATE

PDIP Duga Ada Pengerahan Komcad Saat Pengamanan Demo Mahasiswa, Ini Penjelasannya

Senin, 15 Juni 2026 | 08:19

Bursa Asia Hijau Sambut Kesepakatan Damai AS-Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 08:12

Harga Minyak Dunia Rontok Usai Trump Umumkan Kesepakatan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:54

Harga Logam Mulia Melonjak, Emas Mendekati Rekor Baru

Senin, 15 Juni 2026 | 07:42

AS dan Iran Bakal Teken Perjanjian Damai di Swiss Jumat Ini

Senin, 15 Juni 2026 | 07:26

Pemerintah Dorong Susu Hadir Setiap Hari dalam Program MBG

Senin, 15 Juni 2026 | 07:15

Trump Klaim Amankan Kesepakatan Damai Terbesar dengan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:00

Pengelolaan Blok Andaman Diusulkan Pakai Skema Hybrid

Senin, 15 Juni 2026 | 06:50

Dokter Tifa Dukung Prabowo Pimpin RI Tanpa Gibran

Senin, 15 Juni 2026 | 06:27

Suap di Bea Cukai Sangat Mengerikan, Bukti Negeri Ini Semakin Busuk oleh Koruptor

Senin, 15 Juni 2026 | 06:23

Selengkapnya