Berita

Foto: Net

Politik

JELANG PILKADA DAN PILPRES

MUI Dukung Polri Ciptakan Stabilitas Politik Nasional

SENIN, 16 APRIL 2018 | 23:23 WIB | LAPORAN:

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendukung kinerja aparat Kepolisian Republik Indonesia dalam mengatasi berbagai potensi konflik selama proses Pilkada Serentak dan juga menuju Pilpres 2019 mendatang.

Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (Wasekjen MUI) KH Tengku Zulkarnaen mengatakan, dalam mengatasi konflik, Indonesia sudah memiliki mekanisme dan aturan perundang-undangan.

Oleh karena itu, aparat penegak hukum, khususnya Kepolisian Republik Indonesia juga diminta cekatan menegakkan aturan hukum itu.


"Kita berharap mulus ya serahkan kepada penegak hukum. Ada polisi sebagai penyidik, ada jaksa yang urus berkas. Siapa lagi kita percayakan kalau bukan ke penegak hukum? Kita hidup di negeri ini kok,” tutur KH Tengku Zulkarnaen, Senin (16/4).

Sikap MUI dalam menghadapi Pilkada Serentak dan Pilpres 2019 mendatang, lanjut dia, adalah dengan menjunjung aturan main yang sah dan berlaku di Indonesia.

Tengku juga mengimbau masyarakat Indonesia, khususnya Umat Islam, untuk tidak mudah terpancing dengan letupan-letupan politik yang cenderung merugikan umat Islam itu sendiri.

Menurut dia, pengerahan massa besar-besaran dalam proses politik bisa saja dilakukan, namun harus atas dasar kesadaran dan juga sesuai perundang-undangan yang berlaku di Tanah Air.

Dia mengatakan, potensi konflik horizontal di masyarakat harus dihindari. Selain tidak akan membuat Umat Islam Indonesia akan dipandang baik, juga merugikan bagi seluruh masyarakat.

"Ini tahun politik, resiko terlalu besar kalau ada kumpulan massa besar, takut ada yang menunggangi. Misalnya, kumpulnya di Monas, tahu-tahu di Ancol ada letupan. Ini beresiko besar. Sebaiknya, tak perlu kumpul-kumpul massa besar dalam tahun-tahun politik ini. Resiko ditunggangi loh,” tutur Tengku.

Dia menjelaskan, umat Islam Indonesia adalah masyarakat yang taat kepada hukum, dan selalu mendukung aparat Kepolisian dalam menegakkan hukum, serta memberantas kejahatan.

Oleh karena itu, jika ada pihak-pihak yang menuding Umat Islam Indonesia sering bikin kisruh atau keributan dengan aksi-aksi massa yang besar, menurut dia hal itu tidaklah tepat.

"Kita umat Islam Indonesia enggak pernah melawan pemerintah. Misalnya, ketika Ahok divonis dua tahun kan kita ikut putusan kok, kita tunduk pada putusan itu juga. Enggak melawan pemerintah,” tuturnya.

Tengku memastikan, Umat Islam Indonesia tidak akan memberikan reaksi berlebihan dalam proses-proses politik mendatang. Hal itu untuk menghindari persegesekan sosial.

"Kalau Polisi sudah menangani proses hukumnya, pasti tidak ada demo. Pasti, kalau sudah ditangani, saya yakin tidak akan demo,” ujarnya.

Demikian pula dalam proses politik Pilpres 2019 mendatang, menurut Tengku Zulkarnaen, harus dilakukan sesuai koridor perundang-undangan. Umat Islam Indonesia, lanjutnya, patuh kepada koridor dan perundang-undangan yang berlaku dan sah.

"Koridornya ya Undang Undang. Umat Islam dalam proses Pilkada dan Pilpres 2019 ya sesuai koridor Undang-Undang. Selanjutnya ya kita percayakan kepada polisi sebagai penyidik, aparatur hukum untuk menegakkan kalau ada persoalan,” ujarnya.

Meskipun, lanjut dia, setiap orang mungkin memiliki pilihan bakal calon presidennya masing-masing, namun, tunduk kepada aturan main dan Undang-Undang adalah sebuah keharusan di Indonesia.

“Kalau mau milih atau mau ganti presiden ya nanti itu ada koridornya di Pemilu 2019. Semuanya ada koridor dan hukum serta Undang-Undangnya kok. Demikian pula, kalau mau terusin dengan presiden pilihannya, ya tetaplah sesuai koridor itu,” papar Zulkarnaen.

Tengku Zulkarnaen sepakat  bahwa dalam proses politik ini, tidak perlu mobilisasi massa besar-besaran dengan tujuan memperkeruh situasi. “Takut ditunggangi,” ujarnya. [sam]

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

Teknik Klasik, Kaitkan Prabowo dengan Teror Aktivis

Kamis, 02 April 2026 | 14:02

Kepala BNPB hingga BMKG Turun Langsung ke Lokasi Gempa di Sulut dan Malut

Kamis, 02 April 2026 | 13:59

TEBE Siap Tebar Dividen Rp200,46 Miliar, Cek Jadwal Lengkapnya

Kamis, 02 April 2026 | 13:51

Penerapan WFH di DKI Bisa Jadi Contoh Penghematan BBM

Kamis, 02 April 2026 | 13:40

Awas Penunggang Gelap Gelar Operasi Senyap Jatuhkan Prabowo Lewat Kasus Aktivis KontraS

Kamis, 02 April 2026 | 13:33

Kemkomdigi Tunggu Itikad Baik Youtube dan Meta Patuhi PP Tunas

Kamis, 02 April 2026 | 13:20

Trump akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

Kamis, 02 April 2026 | 13:19

Demi AI, Oracle PHK 30.000 Karyawan Lewat Email

Kamis, 02 April 2026 | 13:19

ASN Diwanti-wanti WFH Bukan Libur Panjang

Kamis, 02 April 2026 | 13:15

Aksi Heroik Sugianto Bikin Prabowo Bangga, Diganjar Penghargaan Presiden Korsel

Kamis, 02 April 2026 | 13:09

Selengkapnya