Berita

Foto/Net

On The Spot

Mau Bangun Rumah Bagus Harus Keluar Dari Kampung

Suku Sasak Setia Jalani Budayanya
SENIN, 26 MARET 2018 | 11:40 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) tidak hanya dikenal dengan pantainya. Masih banyak ditemui desa-desa tradisional yang tetap memegang teguh budayanya. Salah satunya warga yang tinggal di Dusun Ende, Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, NTB.

 Akses menuju desa ini cukupmudah, hanya 20 menit perjalanan darat dari Bandara Internasional Lombok (BIL), Praya, NTB. Kondisi jalan sudahmulus dan lebar, sehingga mudah dilalui kendaraan jenis apapun, baik besar maupun kecil.

Sesampai di dusun yang hanya seluas 1 hektare ini, pengunjung yang datang langsung disambut dengan ramah oleh beberapa warga desa yang mengenakan pakaian adat suku Sasak lengkap dengan udeng di kepala.


"Selamat datang di dusun tanpa bangunan modern. Kalau mau bangun lebih bagus harus keluar dari kampung ini," ujar Kidim, salah satu warga Sasak Ende, Lombok Tengah, NTB, Jumat (24/3).

Dusun Sasak Ende diapit oleh perkampungan modern yang berada di depannya. Masyarakat adat dan juga warga sekitar bisa hidup berdampingan secara rukun dan damai. Letak dusun berada di dataran tinggi. Akses jalan dusun hanya satu selebar kurang dari dua meter.

Kondisinya masih batu krikil dan beralaskan tanah padat. Akibatnya debu beterbangan bila terkena angin yang cukup kencang. "Jalan tidak boleh dicor atau aspal, harus tetap beralaskan tanah," ujar Kidim kembali.

Sejauh mata memandang, berdiri rumah-rumah penduduk dengan bangunan tradisional. Totalnya ada 30 rumah. Bangunannya terbuat dari kayu dan bambu. Atapnya, menggunakan anyaman alang-alang. Tidak ter­lihat kendaraan roda empat, roda dua maupun sepeda kayuh yang biasa tersedia di depan rumah.

"Warga hanya boleh mempu­nyai sepeda motor, tapi di parkir di luar kampung," ungkap Kidim kembali.

Menariknya, lantai rumah menggunakan kotoran sapi atau kerbau yang dicampur dengan tanah yang disebut "bale tani". Akibatnya bau cukup menyengat diantara rumah-rumah warga. Hal itu ditambah banyaknya kandang sapi yang berada di depan rumah. "Kotoran sapi fungsinya untuk merekatkan. Bisa dibilang sebagai semen," sebut pria 40 tahun ini.

Sebulan sekali, kata Kidim, lantainya dipoles kembali den­gan kotoran sapi bercampur air agar lantai tidak terkikis dan menjadi debu. "Kalau musim panas juga tidak banyak nya­muk," kata dia.

Sementara, lantai rumah dibuat berundak setinggi setengah meter di atas tanah. Pintu masuknya dibuat agak pendek, kurang dari 1,5 meter. "Pintunya dibuat rendah agar tamu yang masuk membungkukkan kepala tanda menghormati tuan rumah." ungkapnya.

Masuk lebih dalam, hanya ada satu ruang dengan tiang penyangga tepat di tengahnya. Tak ada jendela sama sekali. Akibatnya hanya ada sedikit ca­haya matahari yang menerobos ke dalam rumah melalui bilik bilik kecil. Beberapa peralatan rumah juga berserakan di lantai. Dapur dan kamar mandi berada di luar rumah.

Sementara, listrik sudah masuk desa ini, namun mereka han­ya menggunakannya seperlunya saja. Tidak tampak ada peralatan elektronik lainnya seperti tele­visi, radio dan magic jar.

"Kalau televisi kami me­mang memperbolehkan, tapi warga enggan menggunakannya agar kehidupan bisa tenang," ujarnya.

Di dalam rumah, satu keluarga harus tidur terpisah. Wanita di dalam dan pria tidur di luar. Bila anak perempuan telah beranjak remaja, maka akan dibuat sekat pemisah di dalam rumah. "Anak perempuan juga diajari menenun sebagai syarat sebelum me­nikah," tandasnya.

Kidim menuturkan, suku Sasak Ende mempunyai budaya khusus dalam mencari jodoh karena tidak ada tradisi pacaran. Bila di kampung sedang ada acara, para gadis akan bertu­gas membantu urusan dapur. Kesempatan inilah yang digu­nakan para pria untuk mengincar gadis pilihannya.

"Bila sudah menentukan pilihan, gadis itu akan disen­ternya sebagai penanda suka," terangnya.

Setelah itu, lelaki tersebut akan mulai melakukan pendekatandengan mendatangi rumah gadis tersebut pada malam hari. "Jadi sudah biasa gadis di sini punya beberapa teman pria dalam waktu bersamaan,"  sebut dia.

Sebab, kata dia, sang gadis tidak boleh menolak kunjungan pria yang menyukainya. Sehingga, bila gadis tersebut didatangi cowok pertama, selanjut­nya datang cowok kedua yang datang saling berdekatan dan seterusnya, maka cowok yang datang lebih dahulu harus meninggalkan rumah wanita terse­but. "Begitu seterusnya sampai batas waktu kunjungan habis jam10 malam," jelasnya.

Bila sang gadis telah menen­tukan pilihan dan sepakat akan menikah, maka keduanya harus mengadakan rencana "pencu­likan". "Adat kampung sini menerapkan sistem kawin lari," ucapnya.

Setelah itu, para waktu yang telah disepakati, pria tersebut akan menculik sang gadis dan membawanya ke rumah orang­tuanya paling lama dua minggu. "Aksi penculikan ini tidak boleh diketahui keluarga wanita, bila diketahui bisa marah dan memu­kul pria tersebut," jelasnya.

Setelah itu, keluarga pria menghadap keluarga wanita dan pernikahan segera dilang­sungkan dan pihak keluarga ga­dis tidak dapat menolak. "Kami tidak ada tradisi seserahan kar­ena bagi keluarga perempuan sangat memalukan," ucapnya.

Tidak hanya itu, terang dia, selama melihat-lihat kehidupan warga pengunjung akan disuguhiTari Parasean. Tari Parasean ini seperti perang antara dua orang lelaki yang menggunakan tameng dan senjata rotan dengan iringan musik gamelan khas suku Sasak. Keduanya akan saling pukul hingga ada salah satu diantaranya terkena pukul di kepala hingga mengeluarkan darah dan dinyatakan kalah.

"Dulu tari ini digunakan untuk memohon hujan. Jika salah satu sudah terkena sabetan rotan sehingga darah mengucur, itu­lah yang dilambangkan dengan hujan," terang Kidim yang juga warga asli dusun Ende.

Terkait mata pencaharian warga, Kidim mengatakan, may­oritas bekerja sebagai petani tradisional padi Gogo Ranca, khas Lombok yang ukurannya lebih besar dari biasa.

"Hasil panen hanya dinikmati satu kali setahun, sehingga tidak ada stok berlebih untuk dijual," sebutnya.

Sehingga, kata dia, para wan­ita harus bisa menenun buat tambahan penghasilan keluarga. "Kami cukup terbantu dengan banyaknya wisatawan karena mereka banyak membeli hasil tenun ibu-ibu," ucap Kadim.

Kendati demikian, lanjutnya,wisatawan yang datang ke kam­pung ini tidak dipatok biaya tertentu dan mereka memberikan sesuai kemampuannya.

"Berapapun yang diberi­kan wisatawan kami terima," pungkasnya.

Latar Belakang
Perkembangan Zaman Mulai Ancam Keberadaan Rumah Adat Suku Sasak


Suku Sasak telah menghuni Pulau Lombok selama berabad-abad. Diperkirakan, mereka telah menghuni wilayah tersebut sejak 4 ribu sebelum Masehi.

Di Nusa Tenggara Barat (NTB) terdapat empat desa wisata Suku Sasak yang tidak jauh dari Mandalika. Pertama, Dusun Ende yang terletak di Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah.

Kedua, Dusun Sade, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Ketiga, Desa Tetebatu, Kecamatan Sikut, Kabupaten Lombok Timur. Keempat, Desa Sukarara, Kecamatan Jonggot, Lombok Tengah.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB telah menetapkan Dusun Ende sebagai objek wisatasejak 1999, tetapi baru ramai dikunjungi wisatawan dalam 10 tahun terakhir, seiring pesatnya perkembangan wisata di Pulau Lombok.

Mayoritas suku Sasak be­ragama Islam. Kedatangan Islam terjadi selama kurun waktu abad ke-16 dengan menguasai Kerajaan Selaparang, salah satu kerajaan yang cukup kuat di Pulau Lombok. Islam kemudian menyebar di Lombok, meski masih tetap tercampur dengan kebudayaan lokal.

Orang Sasak sendiri terkenal pintar membuat kain dengan cara menenun, dahulu setiap perempuan akan dikatakan de­wasa dan siap berumah tangga jika sudah pandai menenun. Menenun dalam bahasa orang Sasak adalah Sesek.

Kata sesek berasal dari kata sesak, sesek atau saksak. Sesek dilakukan dengan cara me­masukkan benang satu persatu (sak sak), kemudian benang dis­esakkan atau dirapatkan hingga sesak dan padat untuk menjadi bentuk kain dengan cara memu­kul mukulkan alat tenun.

Uniknya, suara yang terdengarketika memukul mukul alat tenunitupun terdengar seperti suara sak sak dan hanya dilakukandua kali saja. Itulah asal kata sasak yang kemudian diambil sebagai nama suku di Pulau Lombok.

Orang suku Sasak yang mula-mula mendiami pulau Lombok menggunakan bahasa Sasak sebagai bahasa sehari hari. Bahasa Sasak sangat dekat dengan bahasa suku Samawa, Bima dan bahkan Sulawesi, terutama Sulawesi Tenggara yang berbahasa Tolaki.

Budayawan Lombok, Datu Artadi menjelaskan, banyak ru­mah asli suku Sasak di sebagian wilayah sudah direnovasi, se­hingga tidak menampilkan sisi asli rumah adat suku Sasak. Pemerintah, sarannya, harus memiliki komitmen yang kuat untuk mempertahankan dan mempro­teksi rumah adat agar tidak hilang keasliannya atau berubah.

"Sebab, di situlah terkandungnilai sejarah, nilai seni budayayang sangat tinggi," ujar Artadi.

Menurut Artadi, perkemban­gan zaman juga mengancam keberadaan rumah- rumah adat, sehingga kebutuhan hidup bisa berimplikasi terhadap kesehar­ian masyarakat adat yang ber­mukim di sana.

Sehingga, lanjutnya, pemer­intah harus menyiapkan lokasi permukiman lain di luar lokasi rumah adat, sehingga keaslian­nya bisa dipertahankan.

Artadi menegaskan, rumah adat suku Sasak merupakan aset besar yang harus dilestari­kan. Terlebih saat pariwisata di wilayah Lombok terus berkem­bang, satu dengan lainnya harus saling melengkapi.

"Sebab, pariwisata itu tidak hanya alam. Meskipun di Lombok Utara punya Gili Trawangan, Meno, dan Gili Gili, budaya juga bagian yang tidak bisa diabai­kan," pungkasnya. ***

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Turbulensi Kepercayaan dalam Teropong Nobel Ekonomi

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 22:16

Jadi Tersangka KPK, Bupati Klaten Didepak PDIP

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:45

Kapolri Rangkul Ulama Jatim untuk Jaga Kamtibmas

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:32

Ilham Habibie hingga Chappy Hakim Dianugerahi Golden PIN INACA

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:02

DPR: Kehadiran Kapolri di BEI Sinyal Negara Serius Menegakkan Hukum

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 20:33

Ketua Gappura Minta DPR Turun Tangan Mediasi PHK dan GHS di Krakatau Steel

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 19:35

Walhi Soroti Tanggung Jawab Lintas Sektor dalam Penanganan Karhutla

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 19:28

Kementerian UMKM Pulihkan 908 Usaha Terdampak Bencana di Sumatera

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 18:51

Komjak Diminta Turun Tangan Teliti JPU di Kasus Febrie

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 18:30

Surati Presiden Prabowo, YLKI Minta Menteri Bahlil Dicopot

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 17:49

Selengkapnya