Berita

Penutupan KTT ASEAN-Australia/CNA

Dunia

KTT ASEAN-Australia Hasilkan Komitmen Keamanan Siber Dan Perdagangan Bebas

SENIN, 19 MARET 2018 | 07:17 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

KTT khusus ASEAN-Australia yang digelar selama dua hari di Sydney ditutup pada Minggu (18/3) dengan komitmen bersama terhadap kejahatan siber dan perdagangan bebas.  berakhir akhir pekan kemarin di Sydney

Topik kunci dalam KTT ini adalah kejahatan siber. Pihak ASEAN dan Australia dalam KTT tersebut mengadopsi sebuah pernyataan bersama yang disebut dengan deklarasi Sydney. Deklarasi itu menetapkan komitmen bersama mereka untuk meningkatkan kerja sama dalam berbagai isu.

Para pemimpin bertukar pandangan mengenai cara-cara untuk meningkatkan kerja sama dalam masalah keamanan, terutama keamanan siber. Untuk itu, nota kesepahaman penting untuk memerangi terorisme internasional ditandatangani pada hari Sabtu, dengan fokus pada pengembangan kemampuan untuk menangani penggunaan teknologi teroris guna menyebarkan ideologi mereka.


"Tidak ada tempat yang jauh dari mana saja ketika menyangkut terorisme, dan tidak ada satu pun dari kita yang bisa mengatasi ancaman ini sendirian," kata Perdana Menteri Australia, Malcolm Turnbull sambil menambahkan bahwa undang-undang yang berlaku secara offline harus diterapkan secara online.

Beberapa inisiatif diumumkan di KTT tersebut, seperti standar digital baru untuk memudahkan bisnis melakukan perdagangan digital lintas batas.

Isu kedua yang jadi prioritas dalam KTT tersebut juga adalah kesepatan mengenai tidak adanya proteksionisme, yang artinya akan melegalkan arus perdagangan bebas.

Kesepakatan seperti itu, serta konferensi bisnis yang diadakan di sela-sela KTT untuk mempromosikan perdagangan dan investasi antara ASEAN dan Australia, adalah anggukan terhadap liberalisasi perdagangan dan integrasi ekonomi regional.

"Kami sangat percaya bahwa sistem perdagangan multilateral bebas, terbuka dan berbasis aturan adalah kunci pertumbuhan dan kemakmuran kawasan ini," kata Perdana Menteri Singapura  Lee Hsien Loong yang memimpin KTT.

Di lain pihak, Turnbull juga mengamati bahwa tidak ada proteksionis di sekitar meja KTT Khusus ASEAN-Australia.

Kedua belah pihak berkomitmen untuk menyelesaikan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP) pada tahun ini. Perjanjian perdagangan bebas tersebut memiliki 16 mitra negosiasi, yang terdiri dari 10 negara anggota ASEAN, Australia, China, Selandia Baru, India, Jepang dan Korea Selatan serta akan mencakup 30 persen dari PDB global. RCEP telah melewatkan tiga tenggat waktu sejak perundingan dimulai pada akhir 2012.

"Ini akan mengirim sinyal yang jelas kepada mitra eksternal ASEAN dan semua negara lain mengenai komitmen kami untuk mempromosikan perdagangan internasional, menentang proteksionisme, dan menjaga agar arsitektur regional tetap terbuka dan inklusif," kata Lee.

Isu lain yang juga menjadi sorotan dan pembahasan dalam KTT tersebut adalah masalah-masalah regional ASEAN dan sekitarnya, seperti masalah Laut China Sleatan, dugaan genosida di Rakhine Myanmar serta isu soal Korea Utara. Demikian seperti dimuat Channel News Asia. [mel]

Populer

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Kasus OTT Pemalang: Anggota Polri yang Bertugas di KPK Jadi Tersangka

Kamis, 30 Juli 2026 | 10:29

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

UPDATE

Perbedaan Perlakuan Tersangka Jadi Ujian Kesetaraan Hukum

Minggu, 09 Agustus 2026 | 08:23

KDKMP Kembalikan Kendali Ekonomi ke Warga Desa

Minggu, 09 Agustus 2026 | 08:19

Jangan Terjebak Angka, Pertumbuhan Ekonomi Harus Berdampak ke Masyarakat

Minggu, 09 Agustus 2026 | 07:24

Gus Salam: Caketum PBNU Harus Bersaing Secara Sehat

Minggu, 09 Agustus 2026 | 07:21

Kuasa Hukum Yaqut Tegaskan Kebijakan Kuota Haji Harus Dinilai Utuh

Minggu, 09 Agustus 2026 | 07:14

Konsolidasi Rakyat untuk Pemerintahan Bersih

Minggu, 09 Agustus 2026 | 06:48

Petani Diminta Jangan Tertipu Konten Pupuk Viral di Medsos

Minggu, 09 Agustus 2026 | 06:23

Menteri Luar Negeri Layak Diganti karena Dicap Tidak Profesional

Minggu, 09 Agustus 2026 | 05:54

InfraNexia jadi Pilar Utama Bisnis Telkom untuk Wholesale Connectivity

Minggu, 09 Agustus 2026 | 05:27

BGN Libatkan Peran Guru Perkuat Pengawasan MBG

Minggu, 09 Agustus 2026 | 04:48

Selengkapnya