Berita

Andres Pastrana/Reuters

Dunia

Mantan Presiden Kolombia Dan Bolivia Ditolak Masuk Ke Kuba

KAMIS, 08 MARET 2018 | 11:15 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Mantan Presiden Kolombia Andres Pastrana dan mantan Presiden Bolivia Jorge Quiroga mengatakan bahwa mereka ditolak masuk ke Kuba pada hari Rabu (7/3). Mereka melakukan perjalanan ke negara itu untuk menerima penghargaan dari sebuah kelompok pembangkang lokal.

Mantan pemimpin konservatif tersebut mengatakan bahwa mereka ditahan di bandara Havana saat mereka tiba di negara tersebut untuk menerima penghargaan tersebut atas nama Inisiatif Demokratik Spanyol dan Amerika (IDEA), sebuah forum yang terdiri dari 37 mantan presiden dan kepala negara.

"Kediktatoran Kuba mendeportasi kita hari ini dari pulau tersebut untuk membela prinsip-prinsip demokrasi di kawasan ini," tulis Pastrana di akun Twitternya.


Dia juga memasang foto dirinya dan Quiroga di atas sebuah pesawat, menepuk tanda "L" dengan ibu jari dan forefingers untuk menandakan "libertad" yang berarti "kebebasan".

Kementerian Luar Negeri Kuba menolak untuk mengomentari insiden tersebut. Namun surat kabar Partai Komunis Granma menuduh IDEA, dalam sebuah tajuk rencana pada hari Rabu (7/3) dengan judul "Hadiah, provokasi dan gagasan gagal," untuk mengupayakan sabotase "proyek progresif" di seluruh Amerika Latin.

"Seperti pada 2017, pengiriman hadiah disertai dengan rencana untuk melakukan provokasi di ibukota Kuba minggu ini, menciptakan ketidakstabilan dan merusak citra internasional negara tersebut," tulis Granma.

Sementara itu Kementerian Luar Negeri Kolombia dalam sebuah penyataan mengatakan bahwa pihaknya telah menghubungi pemerintah Kuba mengenai insiden tersebut dan diberitahu oleh kedutaan Kuba di Kolombia bahwa Pastrana telah diberitahu pada hari Selasa bahwa dia tidak akan diangkut ke pulau tersebut karena kehadirannya yang direncanakan di IDEA.

"Pemerintah Kolombia menyesalkan bahwa insiden semacam ini menimpa orang-orang Kolombia yang telah berteman dengan negara-negara yang dekat dengan negara kita," begitu bunyi pernyataan tersebut. [mel]

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

UPDATE

Gugurnya Prajurit Jadi Panggilan Indonesia Tak Lagi Jadi Pemain Cadangan

Selasa, 31 Maret 2026 | 12:20

Aktivis KontraS Ungkap Kondisi Terkini Andrie Yunus di RSCM

Selasa, 31 Maret 2026 | 12:19

Trump Ngotot akan Tetap Hancurkan Listrik dan Semua Pabrik di Iran

Selasa, 31 Maret 2026 | 12:17

KPK Kembangkan Kasus Suap Importasi

Selasa, 31 Maret 2026 | 12:09

Pertamina Bantah Kabar Harga Pertamax Tembus Rp17 Ribu per Liter

Selasa, 31 Maret 2026 | 12:02

Siang Ini Jakarta Diprediksi Kembali Hujan Ringan

Selasa, 31 Maret 2026 | 12:00

Tiga Prajurit RI Gugur di Lebanon, Menlu Desak DK PBB Rapat Darurat

Selasa, 31 Maret 2026 | 11:45

Transparansi Terancam: 37 Ribu Pejabat Belum Serahkan LHKPN

Selasa, 31 Maret 2026 | 11:40

Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS Dilimpahkan ke Puspom TNI

Selasa, 31 Maret 2026 | 11:27

Gibran Didorong Segera Berkantor di IKN Agar Tak Mubazir

Selasa, 31 Maret 2026 | 11:18

Selengkapnya