Berita

Nasaruddin Umar/Net

Mengenal Inklusifisme Islam Indonesia (20)

Mengapa Islam Menjadi Agama Mayoritas Di Indonesia? (4)

SABTU, 17 FEBRUARI 2018 | 09:01 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

SALAH satu kekuatan Is­lam ialah lebih mudah me­nyatu dengan nilai-nilai lokal. Islam memiliki Aja­ran Dasar dan Non-Dasar. Ajaran Dasar bersifat ab­solut, universal, dan eter­nal, seperti Rukun Iman dan Rukun Islam. Sedang­kan Ajaran Non-Dasar besifat fleksibel, kon­temporer, dan umumnya berbicara tentang hal-hal yang bersifat cabang (furu'iyyah). Wacana Islam Nusantara berada di dalam ranah Ajaran Non-Dasar. Selama Islam Nu­santara masih tetap di dalam wacana Aja­ran Non-Dasar maka tidak perlu dikhawatir­kan akan adanya kerancuan ajaran, karena Islam sebagai agama akhir zaman selalu membuka diri untuk menerima dan diterima oleh nilai-nilai lokal, sepanjang masih se­jalan atau tidak bertentangan dengan Ajaran Dasarnya.

Sebagai agama terbuka, Islam memiliki pola dialektik dengan lingkungan garapan­nya, memiliki batas toleransi dan kekuatan adaptasi yang memungkinkan dirinya diteri­ma setiap orang dan kultur lokal, sungguh­pun orang dan kultur itu sama sekali asing dengan dirinya sendiri sebagai agama yang pertama kali diturunkan di dalam masyarakat Arab. Keunikan yang dimiliki Islam, seba­gaimana umumnya agama-agama lain, ser­ing berhadapan dengan masalah kontekstual dan kontemporer rumit. Namun perlu dicatat bahwa meskipun Islam memiliki kekuatan tol­eransi dan adaptasi terhadap nilai-nilai keari­fan lokal tetapi tegak di atas prinsip Ajaran Dasarnya. Kearifan lokal yang tidak sejalan atau bertentangan dengan Ajaran Dasarnya dengan tegas Islam menolaknya. Islam mengenal dan memperjuangkan toleransi tetapi Islam juga memiliki konsep bid'ah, yaitu sebuah kriteria yang dapat dijadikan ukuran untuk menentukan ajaran mana yang perlu ditolak dan yang dapat diterima. Ajaran yang menyimpang dari prinsip ajaran atau Ajaran Dasar maka itulah disebut bid'ah. Hanya ada yang dikenal bid'ah positif (bid'ah hasanah) dan bid’ah negatif (bid'ah sayyiah).

Tidak mudah dan tentu memerlukan waktu untuk menciptakan harmonisasi antara aja­ran dan kearifan lokal. Seperti halnya dengan agama-agama lain, persoalan yang sering muncul ialah mestikah keharmonisan dipertahankan sekalipun ditegakkan di atas landasan yang batil? Atau mestikah harmonisasi itu dikorbankan demi menegakkan aja­ran yang haq? Di sinilah seninya mengem­bangkan ajaran agama di atas nilai-nilai lokal yang sudah mapan. Satu sisi kita harus mengembangkan ajaran agama secara utuh (kafah) tetapi di sisi lain harus tetap melestarikan kearifan lokal. Di sinilah salah satu fung­si negara bagaimana menjembatani kete­gangan konseptual yang berhadap-hadapan satu sama lain di dalam Negara.


Islam Nusantara, sekali lagi ditegaskan, tidak bermaksud menaiki level Ajaran Dasar, apalagi menggesernya, karena kalau hal itu terjadi maka persoalan sinkretisme dan khurafat akan muncul, padahal keduanya di­tolak oleh Ajaran Dasar Islam. Islam Nusan­tara berada di ranah level bawah, di dalam wilayah Ajaran Non Dasar. Kesederhanaan memahami dan menjalankan ajaran Islam membuat warga bangsa Indonesia merasa lebih praktis hidup di dalam agama Islam. Apalagi pengajur Islam Islam di masa-masa awal menunjukkan ketulusan dan kepemiha­kan kepada kaum pribumi. 

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Trump Tunjuk Katie Zacharia Jadi Sekretaris Pers Gedung Putih

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:27

Saat Outing Kantor Bergeser Jadi Strategi Korporat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:09

Harga Emas Meroket di Akhir Pekan Jadi Semahal Ini

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:57

FORU Anjlok 11,39 Persen, Transaksi Tembus Rp253 Miliar saat IHSG Rebound

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:44

Komisi V DPR Wanti-wanti Tiga Kementerian Jangan Saling Lempar Tanggung Jawab Soal Ojol

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:30

Harga Logam Dunia Bangkit Usai Aksi Borong di Level Rendah

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:01

Tiga Anggota OPM Meninggal Dunia Usai Kontak Tembak di Maybrat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:46

Teguh Santosa: Pepera 1969 Sejalan dengan Prinsip Self Determination

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:31

Kapolri Pimpin Sertijab di Mabes Polri, Komjen Asep Resmi Jadi Irwasum

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:17

Wall Street Tutup Pekan Kedua di Zona Hijau

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya