Berita

Enggar/net

Bisnis

Jokowi Kesal Ekspor Indonesia Turun, Menteri Enggar Salahkan Negara Lain

RABU, 31 JANUARI 2018 | 22:04 WIB | LAPORAN:

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita berkilah jika salah satu penyebabnya menurunnya jumlah ekpor Indonesia akibat negosiasi perdagangan yang makin sulit akibat banyak negara lain yang mulai menerapkan kebijakan proteksionisme.

"Dengan berbagai dinamika perdagangan luar negeri, negosiasi menjadi semakin sulit dibandingkan tahun-tahun lalu karena proteksionisme," kata dia saat konferensi pers di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (31/1).

Enggar menegaskan, pemerintah terus mengejar target untuk menyelesaikan 13 perjanjian dagang pada 2018 demi meningkatkan kinerja ekspor. Salah satu perjanjian dagang yang tengah dikejar adalah Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).


"Kunci keberhasilan peningkatan ekspor itu pada saat kita sudah menandatangani perjanjian dagang. Kalau perjanjian dagang bisa kita kejar di 2018, hasilnya baru bisa dinikmati di 2019," tegasnya.

Enggar kinerja ekspor Indonesia masih lebih rendah dibanding negara tetangga seperti Vietnam, Malaysia dan Thailand. Menurutnya, perdagangan Indonesia tertinggal karena mereka sudah lebih dulu memiliki perjanjian dagang dengan negara-negara lain.

"Kita hampir 10 tahun tidak ada perjanjian dagang apa pun. Baru tahun lalu berhasil ditandatangani perjanjian dagang dengan Chile," ungkapnya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) membuka rapat kerja Kementerian Perdagangan (Kemendag) dengan kekecewaannya atas kinerja ekspor Indonesia. Sepanjang 2016 dilaporkan eskpor dalam negeri kalah jauh dibandingkan negara tetangga seperti Thailand, Malaysia, atau Vietnam.

Jokowi mengatakan, dari data yang dia peroleh negara Thailand mampu melakukan ekspor mecapai 231 milar dolar AS, Malaysia 184 miliar dolar AS, dan Vietnam 160 miliar dolar AS. Sedangkan Indonesia hanya mempu menembus angka 145 miliar dolar AS.

"Yang jelas kalau lihat angka ekspor Indonesia sangat kalah tertinggal dengan negara sekitar," ujar Jokowi dalam sambutannya di Istana Merdeka, Rabu (31/1).

Jokowi membeberkan, jika dilihat dari jumlah penduduk, Indonesia unggul dari negara tetangga. Penduduk Thailand saat ini sekitar 68,86  juta, Malaysia 31,9 juta, dan Vietnam 92,7 juta jiwa. Artinya, kata kepala negara, sumber daya manusia (SDM) di Indonesia sangat berlimpah. SDM inilah yang harus diolah secara bersama-sama agar bisa menghasilkan perekonomian yang tinggi.

Dalam pembukaan ini, Jokowi juga menegur Kemendag yang dianggap bekerja terlalu monoton. Kemendag hanya bisa mengandalkan pasar-pasar tradisional dalam menyalurkan barang ekspor. Padahal pasar non-tradisional seperti di Asia dan Afrika sangat banyak.

Misalnya di Pakistan jumlah pendudukan negara tersebut mencapai sekitar 193 juta jiwa dan di Bangladesh mencapai 163 juta jiwa. Jumlah penduduk yang besar ini menjadi potensi bagi Indonesia dalam hal perdagangan. Walaupun selama ini perdagangan dengan kedua negara surplus, tapi surplus dari Indonesia masih kecil dibandingkan dengan potensinya.

"Afrika ini tidak pernah kita tengok. Bahkan ada expo di sana saja kita tidak pernah ikut. Kesalahan seperti ini yang rutin dan tidak pernah diperbaiki," ujarnya.

Jokowi mendesak Menteri Enggar untuk melakukan evaluasi dan membuat gagasan-gagasan baru agar Indonesia bisa bersaing dengan negara lain dalam hal perdagangan. [san]

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

ANTAM Pertahankan Posisi di Tiga Indeks ESG KEHATI Periode Juni–November 2026

Jumat, 19 Juni 2026 | 12:22

Dari Korupsi BGN ke RUU HAM: Meninjau Korban yang Terlupakan

Jumat, 19 Juni 2026 | 12:02

KSAU Resmikan Skadron Udara 18 di Lanud Halim, Perkuat Dukungan Penerbangan Kenegaraan

Jumat, 19 Juni 2026 | 12:01

Pimpinan DPR Siap Temui Mahasiswa yang Demo di Parlemen Hari Ini

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:57

PGN Gelar Program Bedah Dapur GasKita 2026 demi Manjakan Pelanggan

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:45

KPK Dalami Peran Mertua Menpora Dito Ariotedjo dalam Skema Kuota Haji 50:50

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:42

BPJPH dan ESQ Siapkan SDM Tangguh Hadapi Wajib Halal 2026

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:37

Sugiono Sampaikan Salam Prabowo untuk Putin, Minta Maaf Absen di KTT ASEAN-Rusia

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:35

Harga Minyak Dunia Stabil saat Selat Hormuz Kembali Dibuka

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:27

93 Sekolah Rakyat Permanen Hampir Rampung, Mensos Imbau Pemda Perkuat Kolaborasi

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:09

Selengkapnya