Berita

Nasaruddin Umar/Net

Mengenal Inklusifisme Islam Indonesia (4)

Masuknya Islam Di Indonesia: Teori Arab

SELASA, 30 JANUARI 2018 | 12:00 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

FAKTOR sejarah dan proses serta siapa yang ber­pengaruh di dalam proses pengislaman di Indonesia sangat menentukan ink­lusifisme Islam Indonesia. Setidaknya ada lima teori yang sering dijadikan refe­rensi dalam menggambar­kan kapan Islam masuk di Indonesia. Per­tama, teori yang mengatakan Islam masuk di Indonesia sejak awal yakni sekitar abad ke-7 Masehi yang dibawa oleh orang-orang Arab muslim yang memiliki kekuatan dakwah yang amat keras. Adalah suatu kebanggan tersendiri jika para sahabat dan tabi'in wafat di tempat yang berbeda dengan tanah kela­hirannya. Semakin jauh merantau menyebar­kan Islam semakin memiliki makna jihad yang lebih besar. Jika di China saja ada klaim ada sahabat Nabi wafat di sana, dan sahabat lain wafat di Uzbekistan (ma wara' al-nahr), dan Turki, maka tentu kepulauan Indonesia mer­upakan tempat paling strategis untuk men­jadi pelabuhan persinggahan para penganjur Islam dari tanah Arab. Apalagi menurut ahli sejarah semenjak zaman Fir’aun sudah terjadi kontak dagang Afrika, Arab, dan kep­ulauan Nusantara. Konon salah satu bahan untuk mengawetkan mayat (mummy) ke­luarga raja saat itu ialah semacam balsam yang bahan bakunya diperoleh dari kawasan kepulauan Nusantara, khususnya di Sumat­era dan Jawa. Sumber lain menyebutkan abad ke-3 sebelum Masehi hubungan da­gang Arab dan China sudah lancar, apalagi dalam abad ke-7 Masehi. Hadis Nabi juga menggambarkan betapa pentingnya posisi China saat itu sehingga memerintahkan sa­habatnya melakukan ekspedisi intelektual ke China, sebagaimana hadisnya yang terke­nal: Uthlub al-‘ilm wa lau bi al-shin (tuntutlah ilmu walau sampai ke tanah China).

Teori ini cenderung diperkuat oleh Van Leur, Anthony H. Johns, T.W Arnold, Buya Hamka, dan sejumlah manuskrip yang ditemukan di Iran yang dulu merupakan pusat kerajaan Persia di masa lampau. Teori ini juga didukung oleh beberapa bukti antara lain, pada abad ke-7 Masehi, Pantai Timur Sumatera sudah terdapat perkampungan Is­lam khas dinasti Ummayyah, Arab. Kemudi­an mazhab paling umum dianut di kawasan Samudera Pasai ialah Mazhab Syafi’i, sama dengan mazhab yang secara umum dianut di pesisir pantai Arab dan Mesir saat itu. Bah­wa sekarang Saudi Arabia dominan berma­zhab Wahabi itu sejarah baru bagi negeri itu, baru sekitar 200 tahun yang lalu. Sebelum­nya banyak bukti sejarah menujukkan Hijaz dan sekitarnya pada abad ke-7 Hijriyah dom­inan Mazhab Syafi’i. Kitab-kitab Fikih yang pernah lahir dari ulama di abad ini membela dan memberikan dukungan pendapat ma­zhab Syafi’i. Yang paling mudah dilacak ialah penggunaan istilah Al-Malik untuk para raja atau penguasa saat itu. Istilah ini juga digu­nakan di Samudera Pasai.

Sesungguhnya secara sosiologis di antara semua teori inilah yang paling mendekati ke­nyataan. Karena kalau dikatakan abad ke-13 sebagaimana teori yang akan dijelaskan kemudian, berarti sama dengan datangnya agama Kristen. Padahal yang kelihatannya berakar dan menjadi agama mayoritas di Indonesia adalah Islam, bukannya agama Kristen yang juga dianut pemerintah kolo­nial yang pernah menguasai Indonesia seki­tar 250 tahun lamanya. Banyak bukti sejarah kontemporer menyebutkan kehadiran pen­jajah Spanyol dan Belanda mempunyai misi yang sama untuk mengkristenkan Nusantara atau paling tidah melemahkan kekuatan In­donesia, baik secara kuantitaif maupun se­cara kualitatif. Disertasi Prof. Aqib Suminto yang disusun di Belanda sangat gamblang menjelaskan hal ini.


Hingga kini, teori Arab dianggap sebagai teori yang paling kuat. Hanya saja dilihat dari teori ilmu sejarah masih dianggap belum cu­kup bukti yang kuat untuk mendukungnya, mengingat masih terbatasnya bukti-bukti for­mal yang dapat ditemukan. Mungkin pada satu saat, satu persatu bukti yang menguat­kan akan muncul. Allahu a'lam.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

IJTI: Buku Saku 0 Persen Rujukan Penting Pers dan Publik

Sabtu, 11 April 2026 | 18:18

Prabowo Minta Maaf Belum Bawa Pencak Silat ke Olimpiade

Sabtu, 11 April 2026 | 17:50

Aktivis Tegas Lawan Pengkhianat Konstitusi

Sabtu, 11 April 2026 | 17:27

OTT KPK Tangkap 18 Orang, Bupati Tulungagung Digulung

Sabtu, 11 April 2026 | 16:19

Ingatkan JK, Banggar DPR: Kenaikan Harga BBM Bisa Turunkan Daya Beli Masyarakat

Sabtu, 11 April 2026 | 16:14

Wamen Ossy: Satgas PKH Wujud Penyelamatan Kekayaan Negara

Sabtu, 11 April 2026 | 15:54

Jawab Tren, TV Estetik dengan Teknologi Flagship Diluncurkan

Sabtu, 11 April 2026 | 15:21

KNPI Soroti Gerakan Pemakzulan: Sebut Capaian Pemerintahan Prabowo Sangat Nyata

Sabtu, 11 April 2026 | 14:54

Setelah 34 Tahun, Prabowo Pamit dari Kursi Ketum IPSI di Munas XVI

Sabtu, 11 April 2026 | 14:47

Hadiri Munas IPSI, Prabowo Ungkap Jejak Keluarga dalam Dunia Pencak Silat

Sabtu, 11 April 2026 | 14:28

Selengkapnya