Berita

Foto/Net

Politik

Fadli Jadikan Kasus Asmat Sebagai Senjata

SABTU, 27 JANUARI 2018 | 05:50 WIB | LAPORAN:

Wakil Ketua DPR Fadli Zon menuding Pemerintah telah lalai dalam membangun manusia. Bukti yang dipakainya adalah kasus gizi buruk dan wabah campak yang terjadi di Kabupaten Asmat, Papua. Lebih dari 60 orang tewas dalam kasus tersebut.

Kata Fadli, kalau Pemerintah sigap, kasus tersebut tidak akan terjadi.

"Harusnya Pemerintah bisa mengantisipasi Kejadian Luar Biasa (KLB) gizi buruk dan campak di Asmat. Apalagi pemerintah sendiri telah menyampaikan bahwa gejala KLB ini telah berlangsung sejak September 2017,” ucap pentolan Gerindra ini.


Sejak pertengahan 2017, lanjut dia, publik telah disuguhi data tentang tingginya gizi buruk kronis yang menjangkiti 27,5 persen atau sekitar 6,5 juta anak Indonesia. Bukan hanya di pelosok Papua, penderita gizi buruk juga ada di Jawa. Sayangnya, Pemerintah adem-adem saja. Alhasil, kasus Asmat pun terjadi.

Fadli menduga, hal ini terjadi lantaran Pemerintah terlalu fokus dan jorjoran dalam membangun infrastruktur. Fokus Pemerintah itu membuat hal-hal lain yang amat penting terlupakan. Dengan ada kasus Asmat, dia pun meminta agar kebijakan membangun infrastruktur itu dievaluasi.

"Tingginya angka gizi buruk ini seharusnya jadi bahan evaluasi serius Pemerintah (terhadap pembangunan infrastruktur," tegas dia.

Kata Fadli, gizi buruk merupakan kenyataan di depan mata. Sedangkan kebutuhan infrastruktur bersifat jangka panjang. Karenanya, ia meminta Pemerintah segera mengubah haluan prioritas pembangunan. Pembangunan SDM tidak boleh diletakkan di belakang pembangunan fisik atau di bawah pembangunan infrastruktur.

"Dalam jangka panjang, tingginya angka gizi buruk akan memengaruhi manusia Indonesia, berupa hilangnya produktivitas dan meningkatnya biaya kesehatan. Jangan lupa, 95 persen pembentukan otak anak terjadi pada seribu hari pertama kehidupannya atau hingga usia 6 tahun. Jika balita yang mengalami gizi buruk tak segera diintervensi, ia akan menjadi generasi yang hilang," tutur dia.

Selain penanganan intensif, lanjut dia, Pemerintah juga harus segera memperbaiki infrastuktur kesehatan di Asmat. Sebab, dari data yang yang ia peroleh, dokter yang ada di Asmat hanya 12 orang. Dari 16 Puskesmas yang ada, hanya tujuh yang mempunyai dokter.

"Jumlah tenaga medis dan prasarana kesehatan yang ada di sana tidak memadai. Sesudah penanganan KLB, perlu dipikirkan bagaimana memperbaiki kebutuhan infrastruktur dasar kesehatan di Papua. Sebab, penanganan gizi buruk tak bisa dilakukan dengan memberikan makanan tambahan, perlu edukasi efektif terhadap masyarakat di sana," tandasnya. [nes]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

AS Gempur ISIS di Suriah

Minggu, 11 Januari 2026 | 18:14

Aksi Kemanusiaan PDIP di Sumatera Turunkan Tim Kesehatan Hingga Ambulans

Minggu, 11 Januari 2026 | 18:10

Statistik Kebahagiaan di Jiwa yang Rapuh

Minggu, 11 Januari 2026 | 17:52

AS Perintahkan Warganya Segera Tinggalkan Venezuela

Minggu, 11 Januari 2026 | 17:01

Iran Ancam Balas Serangan AS di Tengah Gelombang Protes

Minggu, 11 Januari 2026 | 16:37

Turki Siap Dukung Proyek 3 Juta Rumah dan Pengembangan IKN

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:53

Rakernas PDIP Harus Berhitung Ancaman Baru di Jawa Tengah

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:22

Rossan Roeslani dan Ferry Juliantono Terpilih Jadi Pimpinan MES

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:15

Pertamina Pasok BBM dan LPG Gratis untuk Bantu Korban Banjir Sumatera

Minggu, 11 Januari 2026 | 14:50

Pesan Megawati untuk Gen Z Tekankan Jaga Alam

Minggu, 11 Januari 2026 | 14:39

Selengkapnya