Berita

Nasaruddin Umar/Net

Pancasila & Nasionalisme Indonesia (158)

Mendalami Sila Kelima: Melindungi Properti Kelompok Minoritas

SENIN, 22 JANUARI 2018 | 10:42 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

DALAM Islam, status prop­erti kelompok mayoritas sama dengan properti kel­ompok minoritas. Dalam hadis shahih diriwayat­kan oleh Safwan ibn Sulai­man, Nabi pernah bers­abda: "Barang siapa yang mendhalimi orang-orang yang menjalin perjanjian da­mai (mu'ahhad) atau melecehkan mereka, atau membebaninya sesuatu di luar kesanggupan­nya, atau mengambil hartanya tanpa persetu­juannya, maka saya akan menjadi lawannya nanti di hari kemudian" (HR. Bukhari-Muslim). Hadis ini sangat tegas meligitimasi sebuah umat ideal (khaira ummah) di mana hak-hak setiap warga dijamin tanpa membedakan jenis kelamin, etnik, kewarganegaraan, agama, dan kepercayaan. Semua warga diberikan jaminan untuk berkreasi dan berusaha mengumpulkan harta yang wajar baginya tanpa harus dihalan­gi oleh siapapun. Al-Qur'an juga menegaskan perlunya memuliakan dan kemanusiaannya, sebagaimana ditegaskan dalam ayat: Dan se­sungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam. (Q.S. Al-Isra'/17:70).

Semenjak masa Nabi, sahabat, dan generasi sesudahnya, hingga sekarang, selain Ta­nah Haram (Mekkah), warga non-muslim be­bas keluar masuk di negeri-negeri muslim. Bahkan warga non-muslim bisa diberi hak un­tuk tinggal di negeri muslim dengan berbagai jaminan keamanan. Nabi selalu mencontohkan bagaimana besar apresiasinya terhadap warga non-muslim yang tinggal di negeri muslim. Nabi sangat tegas dalam hal ini, sebagaimana da­pat dilihat dalam redaksi ayat dan hadis hadis di atas.

Sejarah mencatat bagaimana warga non-muslim bisa berinteraksi dengan saudara-sau­daranya yang muslim dalam berbagai bidang. Mereka bisa melakukan interaksi bisnis satu sama lain sebagaimana dilakukan kelompok Yahudi dan Nashrani di Madinah. Warga non-muslim di masa Nabi tidak pernah merasa war­ga kelas dua. Mereka bisa menjumpai Nabi dan keluarganya kapan pun dan di manapun. Nabi tidak pernah menggeneralisir para warga non-muslim yang sering memerangi Nabi dengan warga non-muslim yang menjalin perjanjian damai dan hidup terlindungi di dalam otoritas wilayah muslim. Hal ini membuktikan bahwa Nabi pantas dikagumi oleh semua orang tan­pa membedakan agama, suku, dan golongan. Pantar kalau ia dinobatkan sebagai Peringkat Utama dari 100 tokoh terkemuka yang pernah dilahirkan di muka bui ini oleh Michael Hart, atau Tokoh Utama di antara 11 Tokoh yang per­nah lahir di muka bumi ini oleh Thomas Carlile.


Yang paling penting bagi kita semua ba­gaimana kearifan Nabi ini bisa diikuti oleh se­mua pihak. Nabi Muhammad saw, tokoh yang sering disebut lahir jauh melampaui kurun wak­tunya ini betul-betul menarik untuk dikaji. Ke­bijakan-kebijakn dan statmen-statmennya se­lalu tepat untuk semua orang dan dan di setiap waktu. Nabi hampir-hampir tidak pernah ada orang yang tersinggung pada setiap kebijakan dan statmennya. Kita tentu merindukan sosok orang seperti ini.nJika ia berjumpa dengan anak-anak kecil maka kepala anak-anak itu di

Warga non-muslim sebetulnya tidak ada ala­san khawatir dengan pemerintahan Islam, apal­agi dengan memunculkan istilah Islam Phobia. Islam bukan agama yang menakutkan. Seba­liknya Islam menjanjikan rasa aman kepada semua orang. Islam, sesuai dengan namanya berarti damai, tidak pernah dimaksudkan un­tuk menakut-nakuti orang. Segala hal yang menyebabkan kesengsaraan, kesedihan, dan malapetaka pasti itu tidak sejalan dengan Is­lam bahkan bisa disebut sebagai musuh Islam. Musuh kemanusiaan adalah juga musuh Islam. Musuh bangsa Indonesia adalah juga musuh umat Islam. Setiapkali pasukan tentara mau menjalankan misi suci dan perdamaian di suatu wilayanh, Nabi selalu hadir mengingatkan ke­pada para prajuridnya agar samasekali tidak mengganggu rumah ibadah orang lain, tidak mencabut atau menebang pepohonan tanpa tu­juan khusus, dan tidak merusak properti orang lain selama proprti itu tidak digunakan untuk tu­juan politis.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Irjen Slamet Uliandi Tersangka Keempat Kasus Penyadapan Telepon Prabowo

Jumat, 06 November 2026 | 02:03

Dzulfikar dan Fuji Abdul Tekankan Intelektualisme Pemuda untuk Pengabdian Bangsa

Jumat, 06 November 2026 | 01:31

Pramono Bertahap Menata Parkir Liar hingga Fasilitas Tanah Abang

Jumat, 06 November 2026 | 01:17

Kalau Hasil Labfor Polri Diragukan, Siapa Lagi yang Mau Dipegang?

Jumat, 06 November 2026 | 01:05

Menjaga Riau dari Ancaman Karhutla Lewat Mitigasi Berkelanjutan

Jumat, 06 November 2026 | 00:32

PPKK Perkuat Pengamanan Kawasan Kemayoran

Jumat, 06 November 2026 | 00:17

Tunjukkan Ijazah di Pengadilan Belum Tentu Akhiri Polemik

Jumat, 06 November 2026 | 00:08

Listyo Sigit Cs Pakai Mesin Sadap Seharga Rp212 Miliar

Kamis, 05 November 2026 | 23:39

Gratis Masuk Ancol Bulan November, Cek Caranya

Kamis, 05 November 2026 | 23:12

Jokowi Menolak Ijazah Diuji Ulang, Pengamat: Apa karena Kapolri sudah Diganti?

Kamis, 05 November 2026 | 23:01

Selengkapnya