Berita

Foto/Net

Politik

Ahoker Udik, Ribut Soal Becak

JUMAT, 19 JANUARI 2018 | 14:54 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

AHOKER benci Anies. Itu pasti. Jurnalis Dick Lyles berkata, "Hate makes people stupid". Salah satu ciri Ahoker, ya Go-Block. Tidak tahu tapi sok tahu. Benar kata Rio Sumantri, "Too much hate, makes people crazy".

Nyender pada kualitas bencinya, posisi Ahoker ada di antara standpoint: stupid dan crazy.

Anies punya rencana: izinkan becak. Ahoker merespon dengan memes. Setiap hari, publik diguyur meme bombardment. Kontennya jahat. Norak. Fitnah dan hoax. Ngasal. Sik penting bisa caci-maki Anies.


Asem tenan, Ahoker giat usaha mencitrakan diri sebagai "orang kota". Padahal tidak lebih dari Metropolitan garbage cans. Alis di-tattoo. Pake blue jeans. Nge-blonde tapi "buceri". Alhasil, jadinya dekil dan kumuh.

They think they are smart ass. Bikin komparasi foto electric train di Singapore versus becak reyot ala Jakarta.

Mereka kira, becak itu outmoded. Old fashion trash from the past. Tidak compatible dengan gaya-gayaan kota besar yang modern. Syahdan, mereka kurang piknik. "Udik..!" kata Geisz Cholifah.

Todays, ada sekitar 4 juta becak beroperasi di seluruh dunia. Becak or Pedicab ada di Budapest, Barcelona, Oxford, Sydney, Chiang Mai, Vancouver, Berlin hingga Shanghai. Hanya Jakarta dan Pakistan yang melarang operasi becak.

Di Madagaskar, becak disebut cyclo-pousse. Jadi moda transportasi umum. Sering juga disebut pousse-pousse atau push push yang artinya gowes-gowes.

Selain bernama pedicab, becak dikenal dengan sebutan velotaxi, rickshaw, cyclo, bikecab  bicitaxi, dan taxi ecologico.

Di Amerika, becak rolling about the city. Bebas. Lepas. Tidak dihina. Tidak dinista. Di city centers, park lands, sports stadia, nightlife districts, dan tourist heavy areas.

Ahoker memang sableng. Mereka pelintir berita. Seolah Anies mau jadikan Jakarta sebagai ibukota becak.

Padahal Dhaka adalah Rickshaw Capital of the World. Sekitar 400 ribu unit becak beroperasi di sana. Jauh lebih banyak dengan jumlah becak di Auckland yang hanya punya 19 unit.

Sekali pun becak bikin Dhaka jadi macet, crowded, semerawut dan kacau balau tapi anehnya becak sering ajadi simbol seni Bangladesh. Becak muncul di lukisan dan handycraft.

Anies tidak berpikir memadati Jakarta dengan segitu banyak becak. Ahoker jangan ngawur lah.

Hanya Gubernur Wiyogo Atmodarminto yang menyatakan becak identik dengan exploitation de l'homme par l'homme. Entah dari mana rumusnya. Alhasil, puluhan ribu becak diberangus. Dibuang ke laut. Sebagai rumpon. Yang untung, pengusaha automobile. Problem kemiskinan? Tetap tidak berubah. Orang miskin semakin susah cari nafkah.

Daripada jadi rampok, profesi penarik becak lebih terhormat. At least, biasa aja itu profesi. Cuma Ahoker yang menghina profesi tukang becak. Sok kaya. Tidak pernah nonton film Pedicab Driver (1989) yang dibintangi Sammo Hung kali ya.

Akibat tidak dikelola dengan benar, becak dinista. Padahal di Eropa dan Amerika, produsen becak hidup secara profesional. Misalnya, Eco-chariots, London Pedicabs, Tikki Tikki, Coaster Pedicab, Velotaxi GmbH, Paradise Pedicabs dan sebagainya.

Di tahun 2000-an, ada inovasi becak listrik. Electric-assist pedicab didesain di Jerman, diproduksi di Czech Republic dan dikloning di China.

Januari 2008, New York justeru larang becak listrik. The City Council hanya mengizinkan muscle power pedicab. Alias becak-gowes.

Selain listrik, Thomas Lundy of Amsterdam mengadopsi becak semi-solar powered. Ahoker boro-boro bisa bikin becak tenaga surya, kepikiran pun tidak. Tapi bawelnya minta ampun. Cerigih.

So, becak punya banyak manfaat bila dikelola dengan benar. Biarkan Anies berimprovisasi. Semoga sukses. [***]

Penulis adalah aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (KOMTAK)

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

UPDATE

Menteri Ekraf: Kreativitas Tak Bisa Dihargai Nol atau Dipatok

Jumat, 03 April 2026 | 20:06

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

Harga Plastik Dalam Negeri Meroket, Ini Kronologinya

Jumat, 03 April 2026 | 19:42

Kapolda Riau Perketat Penanganan Karhutla Hadapi Ancaman Super El Nino

Jumat, 03 April 2026 | 19:18

Upacara Penghormatan UNIFIL untuk Tiga Prajurit TNI di Lebanon

Jumat, 03 April 2026 | 19:01

Labirin Informasi pada Perang Simbolik

Jumat, 03 April 2026 | 18:52

KPK Siapkan Pemeriksaan Ono Surono Usai Penggeledahan

Jumat, 03 April 2026 | 18:35

BNPB: Tidak Ada Tambahan Korban Gempa Magnitudo 7,6 Sulut dan Malut

Jumat, 03 April 2026 | 18:31

Resiliensi Bangsa: Dari Mosi Integral 1950 hingga Geopolitik Kontemporer 2026

Jumat, 03 April 2026 | 18:03

FWP Polda Metro Hibur Anak Yatim ke Wahana Bermain

Jumat, 03 April 2026 | 17:45

Selengkapnya