Berita

Nasaruddin Umar/Net

Pancasila & Nasionalisme Indonesia (155)

Mendalami Sila Kelima: Memberi Tempat Bagi Agama Lokal

JUMAT, 19 JANUARI 2018 | 10:10 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

ISLAM dan Pancasila mem­beri tempat kepada agama-agama lokal di Indonesia. Dalam kenyataannya hing­ga saat ini masih ada se­jumlah agama lokal masih tetap eksis walaupun diter­pa berbagai tantangan. Na­mun demikian sudah ada beberapa di antaranya yang punah atau ber­manifestasi menjadi kepercayaan baru atau berintegrasi dengan sejumlah agama dan ke­percayaan besar atau kecil lain. Kepunahan agama dan kepercayaan lokal bukan karena sengaja dihilangkan, tetapi lebih merupakan ketidakmampuannya menghadapi tantangan yang semakin menantang. Kalangan ahli seja­rah agama-agama menilai bahwa agama yang didominasi oleh ajaran yang sulit diterima akal sehat berangsur-angsur akan ditinggalkan oleh pemeluknya.

Anggapan seperti ini tidak sepenuhnya be­nar karena masih banyak sekali sistem ajaran yang sulit dicerna akal tetapi tetap bertahan dan dipertahankan masyarakat. Termasuk da­lam Islam, misalnya jika logika yang diguna­kan untuk memahami keberadaan tayammum, yaitu penggunaan debu sebagai pengganti air untuk menyucikan diri, maka mungkin sulit di­pahami. Banyak doktrin besar dalam agama besar yang tidak sejalan dengan logika tetapi tetap dipertahankan. Tidak tanggung-tanggung yang justru mempertahankannya ialah para to­koh pemikir dari agama tersebut. Inilah mis­teri agama. Dalam Islam, dikenal ada Rukun Iman untuk mengamankan sistem ajaran yang mungkin sulit dicerna oleh akal. Memang benar bahwa jika semua ajaran agama harus serasi dan sejalan dengan logika, maka seketika itu agama berheti statusnya sebagai agama dan menjelma menjadi filsafat etika. Filsafat tidak akan pernah bisa memanusiakan manusia se­cara sejati. Mungkin atas dasar kenyataan ini, Prof Hull dalam History and Philosophy of Sci­ence menyatakan, agama tidak mungkin bisa diasingkan dengan pemeluknya.

Menarik untuk dikaji mengapa agama-agama lokal dan sejumlah aliran kepercayaan tetap bertahan hidup? Sumber kekuatannya dari mana? Bagaimana mereka menyiasati kehidu­pan masyarakat modern yang serba rasional? Bagaimana sistem regenerasi dan memelihara generasi mudanya supaya mereka tetap ken­tal dengan agama dan kepercayaannya? Apa yang sebaiknya dilakukan pemerintah terhadap mereka? Kalangan sosiolog agama sep­erti Max Weber pernah menyatakan, populasi umat beragama selalu terapung bersama ag­amanya. Semodern apapun sebuah bangsa agama tetap eksis di dalamnya.


Problemnya yang sering muncul ialah mes­tikah mereka "dibina" menurut 'apa adanya'  sekalipun ada terlintas dalam kesadaran bah­wa agama dan kepercayaan tersebut berdiri di atas landasan yang batil? Mestikah mereka "dibina" dengan 'bagaimana seharusnya' seka­lipun ada dugaan keharmonisan di antara mer­eka akan terganggu. Dengan kata lain, mes­tikah kehormonisan itu dipertahankan walau di atas landasan yang batil, atau mestikah sesuatu yang haq itu ditegakkan sekalipun harus mengorbankan keharmonisan di dalam masyarakat. Pertanyaan mendasar ini sering menjadi wacana akhir-akhir ini.

Memang serba dilema, mendiamkan per­soalan ini sama artinya melakukan pembiaran terhadap sebagian warga bangsa kita hidup di dalam ketidakadilan. Pada sisi lain menghadir­kan regulasi baru untuk mengakomodir mereka bisa menimbulkan ketegangan konseptual baru dan berdampak pada sistem kenegaraan yang sudah terlanjur mapan. Sebutlah misalnya, jika mereka diakomodir dalam bentuk pemberian pengakuan maka dampaknya ialah persentasi penganut agama yang sudah mapan pasti men­galami penurunan signifikan secara statistik, kar­ena agama lokal dan aliran kepercayaan yang pernah "menumpang" dalam kolom agamanya hijrah ke kolomnya sendiri. Belum lama ini akh­irnya kolom agama bagi para penghayat "agama lokal" diberi kesempatan mencantumkan status agamanya di kolom KTP. Diharapkan dengan de­mikian mereka bisa merasakan nuansa keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Lagi Sakit, Jangan Biarkan Jokowi Terus-terusan Temui Fans

Senin, 12 Januari 2026 | 04:13

Eggi-Damai Dicurigai Bohong soal Bawa Misi TPUA saat Jumpa Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 04:08

Membongkar Praktik Manipulasi Pegawai Pajak

Senin, 12 Januari 2026 | 03:38

Jokowi Bermanuver Pecah Belah Perjuangan Bongkar Kasus Ijazah

Senin, 12 Januari 2026 | 03:08

Kata Yaqut, Korupsi Adalah Musuh Bersama

Senin, 12 Januari 2026 | 03:04

Sindiran Telak Dokter Tifa Usai Eggi-Damai Datangi Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 02:35

Jokowi Masih Meninggalkan Jejak Buruk setelah Lengser

Senin, 12 Januari 2026 | 02:15

PDIP Gelar Bimtek DPRD se-Indonesia di Ancol

Senin, 12 Januari 2026 | 02:13

RFCC Complex Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 01:37

Awalnya Pertemuan Eggi-Damai dengan Jokowi Diagendakan Rahasia

Senin, 12 Januari 2026 | 01:16

Selengkapnya