Berita

Polusi/Net

Dunia

Provinsi Hebei China Masih Jadi "Tuan Rumah" Kota-kota Paling Berpolusi

KAMIS, 18 JANUARI 2018 | 14:21 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Provinsi Hebei di China masih merupakan lokasi di mana enam dari 10 kota paling berasap atau terpapar polusi berada pada tahun 2017 lalu, sama seperti tahun sebelumnya.

Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup China yang dipublikasikan pada hari Kamis (18/1), posisi itu tidak berubah meskipun ada kampanye untuk memperbaiki kualitas udara selama musim dingin ketika tingkat asap mencapai puncaknya. Karena di musim itu, konsumsi batubara secara tradisional melonjak untuk menjalankan boiler untuk pemanasan. Hal itu berimbas pada peningkatan polutan udara yang berbahaya.

Hebei sendiri merupakan wilayah penghasil baja terbesar di China.


Menurut angka yang diterbitkan oleh Kementerian Perlindungan Lingkungan (MEP), ibu kota provinsi Hebei, Shijiazhuang, melihat rata-rata kadar asap tertinggi di seluruh China pada partikulat tahun lalu dengan lebar 2,5 mikron, yang dikenal sebagai PM2.5, yang mudah dihirup. ke paru-paru menyebabkan kerusakan pernafasan.

Selain itu juga ada kota lainnya yang paling berasap karena polusi udara Hebei, Handan dan Tangshan, kota produksi baja terbesar di dunia, serta Xingtai, Baoding dan Hengshui.

Hebei secara keseluruhan melihat konsentrasi PM2.5 mencapai 65 mikrogram per meter kubik tahun lalu, turun 7,1 persen dibandingkan tahun 2016. Target pemerintah adalah memangkas angka tersebut lebih jauh 14 persen pada tahun 2020.

Kepala biro lingkungan provinsi, Gao Jianmin, juga mengatakan awal bulan ini bahwa provinsi ini akan berusaha tahun ini untuk memindahkan kota-kota Shijiazhuang, Hengshui dan Tangshan dari daftar 10 besar kota terburuk dengan polusi.

Secara keseluruhan, rata-rata pembacaan PM2.5 di 338 kota yang dipantau di China mencapai 43 mikrogram per meter kubik pada tahun 2017, turun 6,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Menurut penelitian yang diterbitkan oleh kelompok lingkungan Greenpeace minggu lalu, Beijing, Hebei dan bagian lain China utara melihat perbaikan dramatis dalam kualitas udara selama musim dingin sebagai akibat dari tindakan keras serta kondisi cuaca yang lebih baik, namun kemajuan terhenti di bagian lain dari negara. Demikian seperti dimuat Channel News Asia. [mel]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Terbuka Peluang Duetkan Pramono-AHY di 2029

Jumat, 11 September 2026 | 06:21

Komnas Palestina Salurkan 300.000 Liter Air Bersih ke Gaza

Jumat, 11 September 2026 | 06:08

Buku 'Islam Ala Prabowo' Bukan Produk MUI

Jumat, 11 September 2026 | 05:31

Tak Ada Alasan MK Menolak Gugatan Denny Indrayana Cs

Jumat, 11 September 2026 | 05:14

Kemenhaj Tutup Celah Jual Beli Antrean Haji Khusus

Jumat, 11 September 2026 | 05:04

Tiket Termurah Persija vs Persib Rp150 Ribu, Termahal Rp1,5 Juta

Jumat, 11 September 2026 | 04:24

Pansus Papua DPD RI Harus Bongkar Akar Konflik

Jumat, 11 September 2026 | 04:00

Perampasan Aset: Keharusan Hukum vs Kecemasan Publik

Jumat, 11 September 2026 | 03:39

Kudu Yakin Persib Libas Persija 2-0

Jumat, 11 September 2026 | 03:18

Terima Aspirasi Buruh

Jumat, 11 September 2026 | 03:00

Selengkapnya