Berita

Ninik Rahayu/Net

Wawancara

WAWANCARA

Ninik Rahayu: Pemerintah Sangat Rendah Awasi Pekerja Migran

RABU, 20 DESEMBER 2017 | 09:54 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Komisioner Ombudsman Ninik Rahayu menegaskan, penga0wasan dalam proses penempatan pekerja migran harus benar-benar dilakukan oleh pemerintah. Pasalnya, ber­dasarkan kajian yang dilakukan pada Juni sampai September 2017, dengan data dari wilayah pengirim dan juga wilayah transit pekerja migran yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kepulauan Riau dan DKI Jakarta, ditemukan malaadmin­istrasi pada proses prapenempa­tan pekerja buruh migran.

Apa saja bentuk malaadmin­istrasi itu? Berikut wawancara lengkap Komisioner Ombudsman, Ninik Rahayu dengan Rakyat Merdeka:

Maladministrasi apa saja yang ditemukan Ombudsman dalam proses rekrutmen calon pekerja migran?

Ya seperti pemalsuan identitas dan kurangnya informasi bagi buruh migran. Kurangnya pelati­han dan pemeriksaan kesehatan juga disebut sebagai aspek mal­administrasi. Pada saat proses pendokumentasian, kami men­emukan banyak hal. Seperti ke­lengkapan data mulai dipalsukan umurnya, identitas alamatnya, kemudian kurangnya informasi/ pengarahan dari PPTKISmen­genai hak dan kewajiban, gaji dan hubungan kerja. Contoh lain maladministrasi adalah minim­nya pendidikan dan pelatihan, juga pemeriksaan kesehatan dan kondisi psikologis calon pekerja migran.

Ya seperti pemalsuan identitas dan kurangnya informasi bagi buruh migran. Kurangnya pelati­han dan pemeriksaan kesehatan juga disebut sebagai aspek mal­administrasi. Pada saat proses pendokumentasian, kami men­emukan banyak hal. Seperti ke­lengkapan data mulai dipalsukan umurnya, identitas alamatnya, kemudian kurangnya informasi/ pengarahan dari PPTKISmen­genai hak dan kewajiban, gaji dan hubungan kerja. Contoh lain maladministrasi adalah minim­nya pendidikan dan pelatihan, juga pemeriksaan kesehatan dan kondisi psikologis calon pekerja migran.

Kenapa hal itu bisa ter­jadi?

Hal ini terjadi karena kurang­nya pengawasan pemerintah, dalam hal ini yang seharusnya dilakukan oleh Kemenaker, BNP2TKI, pemerintah daerah, dan disnaker. Faktor lainnyaadalah rendahnya kontrol masyarakat untuk melindungi dan mencegah migrasi yang tidak aman. Jadi kedepan pemerintah diharapkan memperhatikan betul pengiriman tenaga kerja ini, karena berdasarkan peraturan yang baru, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2017 Tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia yang mengatur bahwa pengiriman pekerja migran itu tidak lagi dilakukan oleh swasta, namun dilakukan oleh pemer­intah daerah yang bekerjasama dengan pemerintah provinsi lalu dengan pemerintah pusat, termasuk dengan Kementerian Luar Negeri.

Jadi ini benar-benar pemerin­tah harus mengubah semuanya, secara individual. Sehingga banyak sekali pekerja migran itu tidak mendapat pelatihan, tidak ada asuransi, tidak ada tes kesehatan, tidak ada kesiapan psikologis dan lainnya. Jadi itu sama saja orang pergi begitu saja, lalu disana meraka seperti dibohongi.

Lalu yang kedua adalah peran Kementerian Luar Negeri untuk melakukan kerjasama kepada negara-negara yang menjadi tujuan kerja para pekerja mi­gran. Termasuk mendeportasi orang-orang Indonesia juga yang selama ini menjadi penampung disana, itu tidak boleh ragu-ragu. Kita harus membuat perjanjian bahwa mereka harus didepor­tasi di Indonesia. Karena ini banyak sekali. Ada yang nyokol di Singapura, Malaysia, Arab Saudi, Taiwan. Kalau ini tidak kita tangani serius dengan me­minta mereka untuk pulang ke Indonesia, mereka akan ditindak disana, bukan di Indonesia. Jadi diharapkan Kementerian Luar Negeri ada hubungan kerjasama dengan negara-negara tujuan pekerja migran, sehingga mer­eka bisa dideportasi dan diadili di Indonesia saja. Karena modus secara perorangan ini banyak sekali dilakukan. Untuk itu, ketika nanti pemerintah memi­liki kewajiban untuk melaku­kan rekrutmen, maka proses pengawasan harus benar-benar dilakukan supaya kasus-kasus pengiriman pekerja migran secara individual ini tidak teru­lang lagi.

Apakah ada oknum yang bermain dalam kasus ini?
Pastilah. Ini kan seharusnya menjadi tanggung jawab pemer­intah, lalu ketika ada dokumen yang salah, ada indikasi mal­administrasi dalam pengiriman pekerja migran, tadi juga diakui oleh Kemenlu bahwa kondisi ini juga terjadi. Kemarin juga tidak ada pelatihan kok, for­malitas saja. Hal itu menunjuk­kan bahwa pengawasan dari pemerintah sangat rendah. Ya seharusnya kan kalau memang tidak memenuhi syarat, ya tidak boleh pergi kan.

Apa ini ada indikasi ke tindak pidana perdagangan orang?
Betul. Begini, ketika para pekerja migran itu pergi tanpa ada prosedur pengiriman yang benar, maka itu bisa dikatakan dia itu sudah terekspolitasi, dia sudah menjadi korban dari tin­dak pidana perdagangan orang. Hanya masalahnya, korban ini tidak selalu bisa melapor ke kita. Ada yang bisa melapor, ada yang takut, ada juga yang tidak mengerti bagaimana cara melapor. Jadi kalau ditanya, siapakah orang yang menjadi korban perdagangan orang? Yaitu mereka yang bekerja tanpa adanya perlindungan, itu mereka jadi korban. Itulah yang ada dalam definisi Pasal 2. Mereka unsurnya sudah memenuhi.

Oh ya, beberapa waktu lalu ada indikasi pengiriman pekerja migran non prose­dural mengelabui petugas dengan modus wisata ziarah dan melancong, apa modus itu juga ditemui Ombudsman?
Iya, itu termasuk ke dalam proses rekrutmen secara indi­vidual. Jadi mereka memanfaat­kan itu. Kalau dilihat modusnya memang via umroh ya, kalau via haji sepertinya kecil kemungki­nannya, jadi umroh ini memang yang lumayan besar potensinya, terus mereka tinggal disana. Berarti ini kan seharusnya ada kerjasama juga dengan pihak Imigrasi.

Lalu apa rekomendasi yang akan diberikan oleh Ombudsman kepada pemerintah?
Kita memberikan saran kepada pemerintah untuk melakukan perbaikan dalam proses pelayan­an pekerja migran. ***

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Jadi Menperin, Sarmuji Tegaskan akan Lanjutkan Rintisan Agus Gumiwang

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:23

Mengenang Warisan Luhur Pesona Batik Tulungagung di Hari Batik Nasional

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:16

Ketua KPK Ucapkan Selamat kepada Kapolri Jenderal Suyudi, Dorong Sinergi Pemberantasan Korupsi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

MUI: Jangan Sampai Konser “Till The Whole World Knows” Jadi Sarana Propaganda Zionisme

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

BEI Awasi Pergerakan Tiga Saham yang Masuk Radar UMA

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:49

KPK Ungkap Besaran Uang Silmy Karim ke Dosen UB Saat Bimbingan Doktoral

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Garuda Tantang Gajah Perang di Final FIFA ASEAN Cup 2026

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Emas Antam Mulai Turun Hari Ini, Intip Daftar Lengkapnya

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:14

Dua Tahun Danantara, Efisiensi BUMN Digenjot untuk Kejar Pertumbuhan

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:02

Harga Minyak Naik Lagi ke Level 102 Dolar AS

Jumat, 02 Oktober 2026 | 10:59

Selengkapnya