Berita

Golkar Perlu Bantuan Donald Trump?

SELASA, 12 DESEMBER 2017 | 22:52 WIB | OLEH: DEREK MANANGKA

POLITISI Senayan memiliki salah satu hak istimewa. Yakni melakukan uji kepatutan dan kelayakan terhadap siapa saja yang akan menjadi Duta Besar, Gubernur Bank Indonesia dan Panglima TNI.  

Kepatutan dan kelayakan itu, tidak bisa dirumuskan dalam sebuah UU atau Peraturan Pemerintah. Kepatutan dan Kelayakan, secara implisit lebih bermakna akhlak, moral dan normatif.

Itu sebabnya, sangat jarang DPR menolak atau tidak meloloskan seseorang dari Uji Kepatutan dan Kelayakan tersebut.


Jika makna akhlak, moral dan normatif  ini yang dijadikan patokan maka apapun alasannya, Setyo Novanto sudah tidak patut dan layak berstatus sebagai Ketua DPR-RI atau ‘pimpinan’ dari para politisi Senayan.

Sebab sangat janggal dan jarang �" seseorang yang sudah berada dalam penjara, masih memiliki hak-hak istimewa sebagai Ketua DPR-RI.

Tak ada yang tahu, apakah fasilitas berupa ajudan, pengawal dan mobil pengawal, ikut ditempatkan di dekat ruang dimana Setya Novanto ditahan.

Persoalan seperti ini, mungkin tidak atau belum sempat diatur dalam UU. Maka terjadilah peristiwa politik yang menggelikan atau jadi bahan tertawaan orang-orang waras.

Aneh bin lucu.

Sehingga kita bukannya serius mengatasi “dekadensi moral dan akhlak” ini. Kita hanya sebatas bisa tertawa dalam hati, terbahak sendirian di dalam kamar mandi dan seterusnya.

Mari kita gunakan logika. Bukan argumentasi politik apalagi argumentasi hukum.

Apakah patut dan layak, manakala ada Presiden negara sahabat yang berkunjung ke Indonesia �" lalu dia minta beraudiensi dengan Setya Novanto sebagai Ketua DPR. Tamu negara tersebut lantas minta diantar ke Rumah Tahanan KPK ?

Atau lebih spesifik lagi. Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang pernah menerima audiensi Setya Novanto selaku Ketua DPR-RI, ingin melakukan kunjungan resiprokal kepada Setya Novanto. Lalu Trump harus diantar oleh protokol kenegaraan ke “Istana KPK” ?

Prosedur seperti ini  seharusnya dilakukan secara konsisten, kalau kita menganggap sebagai tersangka yang belum mendapatkan ketetapan hukum bersalah, Setya Novanto masih berhak sebagai Ketua DPR.

Tapi konsistensi menjadi sebuah aib bangsa. Jadi tetap saja dilematis.

Pertemuan empat mata Trump "Novanto di dalam “Istana KPK”, pasti akan menarik perhatian masyarakat dunia, lewat liputan khas media-media Amerika.  Indonesia akan lebih terkenal di dunia.  Walaupun sisi yang dikenal oleh dunia, bukanlah sisi yang membanggakan. Melainkan sisi yang bisa bikin malu "terutama mereka yang urat malunya, belum putus.

Ilustrasi ini terpaksa saya angkat ke permukaan.

Sebab kalu irama di lembaga DPR dan Partai Golkar yang dijadikan ukuran, khususnya yang menyangkut jabatan Ketua DPR-RI dan Ketua Umum Partai Pohon Beringin itu " kecenderung melawan arus.  Gejalanya tidak sehat.

Keberpihakan yang melawan hati nurani orang yang masih waras dalam berpikir, bakal terjadi dan terus menguat. Yang tidak patut kita anggap layak dan wajar.

Persoalan mengganti Ketua DPR-RI,sepertinya tidak menjadi skala prioritas oleh Golkar ataupun politisi yang menghendaki Indnesia harus terus bermasalah..

Okeylah, jabatan Ketua DPR ini hanya “simbol”.  Tapi sangat tidak sehat kalau cara berpolitik seperti itu, dipelihara.

Harus konsisten dong. Dan ingat...

Ketika mau merebut posisi Ketua DPR tersebut, sejumlah politisi melakukan "pemerkosaan" terhadap UU MD3.  Mengubahnya secara diam-diam, hanya untuk menjadi pemenang yang tidak elegan.

Tapi ketika Ketuanya mau diganti, alasan yang muncul, seolah-olah tanpa Ketua DPR, lembaga legislatif kita itu, tetap bisa berfungsi.

Kepemimpinan bisa diatur oleh dua tiga orang. Seakan-akan DPR itu Perusahaan Swasta yang didirikan oleh para makelar politik dimaksud.

Sebetulnya penundaan penggantian Ketua DPR sengaja diperlambat,. Ada proses "buying time"  yang ujung-ujungnya transaksional.
Sejatinya yang membuat politik Indonesia kisruh,  lebih disebabkan oleh banyaknya politisi Senayan yang diam-diam berambisi duduk di kursi itu.

Lumayan khan, jadi Ketua DPR-RI walaupun tinggal beberapa bulan Paling tidak di buku sejarah dan CV akan tercatat dengan tinta mas, prestasi merebut kursi DPR-1 tersebut.  

Muncul persepsi yang membingungkan masyarakat. DPR sebagai lembaga tinggi negara, booleh dan tidak punya Ketua DPR.

Dan kebingungan itu terus dibangun, dipelihara dan diamini.

Mengganti Setya Novanto dari kedudukan Ketua DPR-RI, dibuat sedemikian rupa rumit, bukan karena persoalannya rumit. Tapi cara berpikir para elit politik kita - dalam menghadapi  pergantian itu, dibangun dengan pola pikir yang rumit.

Lama kelamaan, mengganti Setya Novanto sebagai Ketua DPR sama rumit dan sulitnya seperti mengganti Donald Trump sebagai Presiden AS oleh Joko Widodo yang masih menjabat  Presiden RI.

Atau proses mengganti Setya Novanto dari kursi Ketua DPR, sesuatu yang mustahil.

Rakyat Amerika dari seluruh penjuru dunia, menolak Jokowi  menggantikan Donald Trump di Gedung Putih. Namun para penggagas yang merubah UU MD3 bergabung dengan kaum oportunis, berusaha menggoalkan pergantian tersebut.

Dalam contoh lainnya, mengganti Setya Novanto itu mungkin sama sukarnya mengganti Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu dengan Mahmoud Abbas, Presiden Palestina.

Prilaku oleh sejumlah elit politik kita saat ini, memang banyak yang aneh-aneh. Manakala kepentingan pribadi dan golongan sudah tidak sesuai, sesuatu yang tidak ada, bisa diadakan secara tiba-tiba.

Heibatnya, keanehan-keanehan itu mulai mendapatkan pembenaran dan justifikiasi.  Yah berpolitik dengan cara "kotor" memang sebuah keharusan di Indonesia.

Dalam rumus perbandingannya, seorang Joko Widodo yang dipilih langsung oleh sebagian besar rakyat Indonesia, karena alasan ketidak sukaan oleh yang tidak memilihnya, berusaha menggantinya di tengah jalan.

Sebab kalau itu terjadi, perjuangan itu tidak sekedar sebuah kemenangan politik. Melainkan lebih dari itu "bisa membuat malu seorang Presiden Jokowi secara terbuka.

Sebaliknya seorang Setya Novanto yang secara kasat mata sudah melakukan banyak pembangkangan terhadap institusi kenegaraan, masih terus dibela.

Yang memprihatinkan, pembelaan itu lkonn lebih banhyak dipengaruhi oleh status Setya Novanto, sebagai salah seorang politisi terjaya di Indonesia.

Jadi yang diperlukan dari Setnov, bukan kualitasnya. Tapi isi tasnya.

Berbagai alasan, argumentasi dikeluarkan dari sudut pandang sempit termasuk yang tidak kontekstual.

Para pembela mulai dari ahli hukum kaya “hedonis” - yang biasa berbelanja lima milyaran rupiah per sekali jalan ke luar negeri, sampai dengan politisi yang senang melakukan provokasi, ramai-ramai membela Setya Novanto.

Mereka-mereka ini baru sedikit mengendor jiwa partisan dan patriotismenya, setelah  KPK membekukan Rekening Koran Setnov di semua bank.

"Seng ada doi no. Mau apa lagi bela-bela pa tuang Setnov....",  begitu kata seorang putera Papua yang menjadi pemerhati dalam kasus "Papa Minta Saham".

Kata-kata “semua orang di depan hukum, sama..."  atau “pre assumption of innocent”, menjadi pernyataan yang membanjiri halaman-halaman media vetak, media main stream dan media dunia maya.

Kalau  mau ditarik kesimpulan secara instan, cara pandang dan cara kita menghadapi kasus Setya Novanto, memalukan. Jelas-jelas banyak  yang caranya dipaksakan atau direkayasa.

Hal yang memalukan ini  berimbas ke Partai Golkar.

Inilah untuk pertama kalinya Golkar seperti kehilangan kepekaan ataupun keseimbangan. Golkar terlihat sebagai partai penampung orang-orang yang suka bikin malu.

Pekerjaan mengganti Setya Novanto selaku Ketua Umum partai pohon beringin itu pun diersulit. .

Untuk memperoleh kesepakatan diselenggarakannya Munaslub, Golkar sudah harus menanyai satu persatu semua kadernya.

Katanya, cukup dua pertiga perwakilan "DPD yang setuju, Munaslub sudah bisa digelar.

Kenyataannya tidak demikian. Satu suara berupa Hak Veto Setya Novanto yang disimpan di kamar penjara, bisa mengugrukan semuanya.

Setya Novanto, sekalipun dari dalam penjara tetap saja yang paling menentukan.

Kalau keadaan terus begini, mungkin sudah saatnya Golkar minta bantuan.

Yang pantas diminyta  membantu, bukan orang Indonsia atau dari Senayan.  Melainkan seorang  Donald Trump.  Tujuannya agar obyektif.

Presiden Amerika Serikat   pernah menerima Setya Novanto  di Trump Tower, New York.

Trump terkenal dengan  kemampuan manuver politik yang sulit diduga.
 
Trump oleh kalangan tertentu disebut sebagai seorang politikus licin dan li*ik.

Apaboleh buat Trump adalah problem solver Golkar.

Nampaknya  campur tangan orang seperti Donald Trump memang dibutuhkan.

Problem bangsa ini mulai dari yang terbesar, terberat sampai yang terkecil, semakin sulit diselesaikan.

Boleh jadi karena kemampuan kita berpikir sudah rusak, karena sewaktu masih kanak-kanak, kita tidak sempat diimunisasi.

Pertumbuhan otak dan cara kita berpikir  menjadi imun tergadap kecerdasan. Tidak peka terhadap mana persoalan mendesak dan mana yang remeh temeh. 

Semoga saja ada solusi. [***]

Penulis adalah wartawan senior

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Prabowo Apresiasi Rahmat Erwin Usai Raih Emas dan Pecahkan Rekor Dunia

Minggu, 27 September 2026 | 12:11

Partai Koalisi Bela Prabowo Mati-matian tapi Diam Saat Gibran Dikritik

Minggu, 27 September 2026 | 12:05

Daftar 10 Wilayah Terpanas 27 September 2026, Suhu Capai 37,4 Derajat

Minggu, 27 September 2026 | 11:57

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Spesifikasi Samsung Galaxy A08 Resmi Meluncur di Indonesia, Baterai 6.000 mAh

Minggu, 27 September 2026 | 11:37

Indonesia Calonkan Diri untuk Kursi Tidak Tetap DK PBB Periode 2029-2030

Minggu, 27 September 2026 | 11:04

Tak Ada Satupun Partai Koalisi Pasang Badan saat Gibran Hadapi Gugatan Ijazah

Minggu, 27 September 2026 | 10:31

KPK Amankan Perhiasan Diduga Emas Saat Geledah Kanwil BPN Jatim

Minggu, 27 September 2026 | 10:17

Perang Abad 21 Sudah Dimulai, tapi Mukan di Medan Tempur

Minggu, 27 September 2026 | 10:05

Sugiono: RI Percaya PBB, Tapi Multilateralisme Harus Lebih Representatif dan Gesit

Minggu, 27 September 2026 | 09:27

Selengkapnya