Berita

Foto/Net

Jaya Suprana

Pak Amien Dan Kecebong

MINGGU, 10 DESEMBER 2017 | 18:25 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

MEDIA nasional memberitakan bahwa mantan Ketua MPR Amien Rais turut menghadiri acara Kongres Alumni 212 di Wisma PHI, Jakarta Timur pada Kamis, 30 November 2017.

Dalam sambutannya, Amien Rais menyindir para "kecebong". "Biarlah anjing menggonggong kafilah berlalu. Kepada para kecebong, teruskan percebonganmu, tapi kita tetap menuju tujuan kita," kata Amien Rais saat memberi sambutan.

Dalam media nasional istilah 'kecebong' adalah istilah yang diberikan kepada pendukung Presiden Joko Widodo.


Istilah itu muncul karena hobi Jokowi dalam memelihara kodok ketika menjadi Walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta. Karena itu, para pendukung Jokowi disebut para 'cebongers'.

Julukan itu juga ditujukan kepada para pendukung Ahok karena kedua kelompok tersebut kerap saling mendukung satu sama lain.

Dalam sambutannya itu, Amien Rais menekankan tentang pentingnya tekad kalangan Muslim dalam memperjuangkan Islam. "Nabi Nuh dalam seratus tahun baru satu orang yang jadi pengikut. Kita ini cuma ditantang 'cebong-cebong'. Itu biasa, kita enggak boleh takut," kata Amien Rais.

Jamanout Kuper
Akibat tergolong generasi jamanout yang kuper, maka semula saya telmi mengenai heboh soal “kecebong” di jaman now. Semula saya cuma tahu bahwa kecebong identik dengan berudu yang merupakan tahap pra-dewasa (larva) dalam daur hidup amfibia.

Berudu eksklusif hidup di air dan bernapas menggunakan insang, seperti ikan. Tahap akuatik (hidup di perairan) inilah yang membuat amfibia memperoleh namanya (amphibia = "hidup [pada tempat] berbeda-beda").

Kebanyakan berudu herbivora, memakan alga dan bagian-bagian tumbuhan. Beberapa spesies merupakan  omnivora (pemakan segala). Namun setelah mengerti makna istilah “kecebong” di jaman now maka mohon dimaafkan bahwa saya tidak setuju dengan sindiran pak Amien terhadap “kecebong”.

Tidak setuju
Ketidak-setujuan saya terhadap pak Amien yang saya kagumi sebagai Lokomotif Reformasi analog dengan ketidak-setujuan saya terhadap Gus Dur yang saya hormati sebagai mahaguru kebangsaan saya.

Jika dulu saya tidak setuju Gus Dur menyamakan para anggota DPR dengan anak-anak di Taman Kanak-Kanak maka kini saya tidak setuju Pak Amien menyamakan pendukung Ahok dengan kecebong.

Ketidak-setujuan saya bukan berarti saya tidak menghormati Pak Amien dan Gus Dur namun murni berdasar ketidak-layakan belaka.

Menurut saya, baik anak-anak mau pun kecebong sama-sama tidak layak diseret masuk ke ranah politik. Sebab baik anak-anak mau pun kecebong sama-sama masih lugu, polos, tulus dan jujur maka sama sekali tidak punya pamrih apa pun apalagi pamrih harta benda, jabatan atau kekuasaan. [***]

Penulis adalah pendiri Pusat Studi Kelirumologi

Populer

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Roy Suryo Cs di Atas Angin terkait Kasus Ijazah Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:12

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Kasihan Banyak Tokoh Senior Ditipu Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 14:19

Partai Politik Mulai Meninggalkan Jokowi

Selasa, 17 Februari 2026 | 13:05

Sangat Aneh Bila Disimpulkan Ijazah Jokowi Asli

Kamis, 19 Februari 2026 | 18:39

UPDATE

Kuota Internet Hangus Digugat ke Mahkamah Konstitusi

Jumat, 27 Februari 2026 | 00:01

Mantan Personel Militer Filipina Ungkap Skandal Politik Uang Pejabat Negara

Kamis, 26 Februari 2026 | 23:56

Penanganan Kasus Lapangan Padel Jangan hanya Reaktif Usai Muncul Polemik

Kamis, 26 Februari 2026 | 23:38

Legislator PKS Soroti Ketimpangan Politik Hukum Laut Nasional

Kamis, 26 Februari 2026 | 23:22

PLN Enjiniring Raih Dua Penghargaan ITAY 2026

Kamis, 26 Februari 2026 | 23:17

Tiga Syarat ‘State Capitalism’

Kamis, 26 Februari 2026 | 23:04

CMNP Minta Sita Jaminan Rumah Hary Tanoe di Beverly Hills

Kamis, 26 Februari 2026 | 22:47

IPK 2025 Anjlok ke 34, Rudy Darsono: Efek Jera Cuma Jualan Politik

Kamis, 26 Februari 2026 | 22:37

Konektivitas Nasional di Daerah Bencana Pulih 100 Persen

Kamis, 26 Februari 2026 | 22:32

BPKH Perkuat Sinergi Investasi Nasional dan Internasional Lewat Revisi UU

Kamis, 26 Februari 2026 | 22:18

Selengkapnya