Berita

Token PLN/net

Bisnis

Penyederhaan Tarif Listrik Bikin Masyarakat Jadi Boros

SABTU, 09 DESEMBER 2017 | 04:12 WIB | LAPORAN:

Anggota Komisi VII DPR Syaikhul Islam merasa waswas dengan kebijakan PLN yang akan melakukan penyederhanaan tarif listrik di masyarakat. Politisi PKB ini khawatir, penyederhanaan itu mendorong masyarakat menjadi lebih boros dalam menggunakan listrik .

Dalam wacana penyederhanaan tarif ini, daya listrik untuk pelanggan non-subdisi akan disederhanakan dari enam menjadi tiga. Rinciannya, golongan 900 watt akan dinaikkan menjadi 1.300 watt. Kemudian, golongan 1.300 watt, 2.200 watt, 3.300 watt, dan 4.400 akan dinaikkan menjadi 5.500 watt. Sedangkan yang 5.500 watt akan dinaikkan menjadi 13.200 watt. Pemerintah mengklaim, penyederhaan tarif ini untuk mendorong peningkatan produksi masyarakat.

Dari sisi harga, kata Syaikhul, memang tidak masalah. Sebab, saat ini, antara harga golongan 1.300 sampai 5.500 watt sama. Namun, bukan berarti penyederhanaan itu tidak akan berdampak pada masyarakat. Dengan ditambah daya yang begitu besar, bisa-bisa konsumsi listrik masyarakat tidak terkontrol. Hal tersebut tentu akan berujung pada tagihan listrik yang bengkak.


“Kalau disederhanakan seperti ini, kayak anak SD yang biasanya cuma dikasih uang jajan Rp 10 ribu kemudian dinaikkan jadi Rp 1 juta. Kan bisa jadi boros,” ucapnya, Jumat (8/12).

Menurut Syaikhul, banyak masyarakat di daerahnya bertanya-tanya dengan kebijakan PLN yang tiba-tiba akan melakukan penyederhanaan golongan tarif. Mayoritas mereka waswas penyederhanaan listrik itu malah mendorong pada penggunaan listrik secara berlebihan.

“Artinya, ada persepsi masyarakat bahwa penyederhanaan listrik ini malah mendorong mereka tidak hemat listrik. Saya sendiri merasa tidak cocok. Sebab, sebelumnya kita kan sering mendengar imbauan untuk hemat energi. Dengan adanya wacana penyederhanaan ini, apa tidak paradoks?,” cetusnya.

Kalau tujuannya untuk mendorong peningkatan produktivitas Usaha Mikro, Kecil, dan Mengengah (UMKM), tambah Syaikhul, mengapa tidak menggunakan sistem penambahan daya gratis. Dengan begitu, penambahan daya hanya dilakukan oleh pihak yang membutuhkan. Tidak pada semua orang dan tidak dipaksakan.

“Kalau mau mendorong UMKM, kenapa disebut penyederhanaan? Kenapa tidak dibuat bahasa penambahan daya gratis saja. Harusnya yang kecil tetap ada, sehingga tidak ada yang merasa dipaksa. Saya sendiri berpendapat, ada unsur mendorong masyarakat untuk meningkatkan konsumsi,” ucapnya.

Dia memandang PLN terlalu bernafsu untuk menyederhanakan sistem tarif tersebut. Buktinya, PLN sampai berani membagi-bagikan 1 juta Miniature Circuit Breaker (MCB), suatu alat yang mengontrol penggunaan daya listrik, kepada konsumen secara gratis. Padahal, alat tersebut cukup mahal.

“Dalam penyederhanaan golongan tarif ini nantinya dibebaskan biaya pergantian MCB dan abonemen yang sama. Saya curiga, kenapa? Kok tiba-tiba. Katanya PLN lagi inefisiensi, tapi kok baik amat,” demikian Syaikhul. [san]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

Pakai Jaket Gojek Mulyono di Sidang Pledoi, Nadiem Ingin Seret Jokowi?

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:18

UPDATE

BNI Ingatkan Nasabah, Waspada Modus Penipuan BNIdirect

Sabtu, 13 Juni 2026 | 16:06

Diduga Palsukan KTA, Sekjen dan Waketum PPP Dipolisikan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:47

DPR Nilai Dukungan Publik terhadap Program MBG Tetap Kuat Meski Diterpa Kasus Korupsi

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:09

Seleksi Pejabat Kemenag Kini Makin Ketat, Rekam Jejak Jadi Penentu

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:04

Soal Protes Kenaikan BBM, DPR Ingatkan Harga di Indonesia Masih Relatif Murah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:34

Program Padat Karya Jaga Daya Beli Masyarakat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:29

Kejagung: Motor Listrik MBG Bukan untuk Disita, Tapi Segera Disalurkan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:24

LEMIGAS dan Pertagas Resmi Berkolaborasi di Proyek Cisem II

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:55

Fernando Emas: Waspada Reformasi 1998 Jilid II

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:51

Bank Mandiri Siapkan Rp1,95 Triliun untuk Lunasi Green Bond Seri A

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:33

Selengkapnya