Berita

Ilustrasi/Net

Bisnis

Distribusi Gas Melon Belum Tepat Sasaran

JUMAT, 08 DESEMBER 2017 | 22:33 WIB | LAPORAN:

Pemerintah harus segera membuat mekanisme distribusi LPG 3 kg yang lebih komperehensif, agar tepat sasaran.

Begitu dikatakan Komisioner Ombudsman Republik Indonesia, Dadan S Suharwijaya di Jakarta, Jumat (8/12).

"Jadi subsidinya bukan pada barang, tetapi pada kelompok masyarakat pengguna,” tegas dia.


Sejak awal, menurut dia, distribusi gas melon memang menjadi masalah. Sebab, subsidi atas barang kerap diterima kelompok yang tidak berhak. Bahkan, bukan hanya diterima keluarga mampu, namun juga para spekulan.

"Akibatnya, ketika gas melon sampai ke tangan keluarga miskin, harganya meningkat tajam karena sudah melalui rantai distribusi yang lebih panjang,” jelas Dadan.

Menurutnya, hal itu juga yang membuat proses penentuan mekanisme distribusi tidak tepat sasaran. Pemerintah juga harus melakukan identifikasi secara benar dan akurat. Terlebih, lanjutnya, karena terdapat dua kelompok pengguna gas melon.

"Pertama adalah keluarga miskin. Dan kedua, adalah kelompok usaha kecil atau informal,” jelasnya.

Kelompok usaha kecil tersebut, menurut Dadan, sangat rentan tidak teridentifikasi. Karena bisa jadi, meski tidak termasuk keluarga miskin, tetapi dilihat dari sisi usaha, mereka mungkin termasuk sektor usaha yang harus diberi subsidi. "Makanya, harus ada pendataan yang betul. Ini PR Pemerintah, untuk segera memetakan dengan tepat, benar, dan cepat. Jadi harus ada survey, sebenarnya siapa end user-nya,” lanjut dia.

Dalam kaitan itulah Dadang mengingatkan, agar Pemerintah melakukan kerjasama lintas sektoral. Bisa jadi antara Kementerian ESDM, Kementerian Perdagangan, Kementerian Sosial, dan juga Pemerintah Daerah. Bahkan jika diperlukan, Pemerintah juga bisa merangkul berbagai paguyuban pedagang sektor informal, terutama untuk menentukan siapa saja pengguna subsidi tersebut.

"Makanya, kalau semua UKM terregistrasi di Kantor Perizinan dan sebagainya, sudah terdaftar sebagai UKM atau sektor informal, itu akan memudahkan. Bahkan, Pemerintah juga bisa merangkul paguyuban PKL dan mempergunakan data mereka,” ujarnya.

Terpisah, mantan Ketua DPR Marzuki Ali juga mendesak Pemerintah agar subsidi gas melon diberikan tepat sasaran. Jangan sampai seperti sekarang, dimana banyak keluarga mampu yang justru berlomba mendapatkan LPG 3 kg tersebut.

"Yang terjadi kan seperti itu. Banyak pengoplosan, banyak rumah makan besar pakai gas melon, sehingga perhitungan kuota untuk memenuhi keluarga miskin tidak terpenuhi. Itu semua karena tidak tepat sasaran,” kata Marzuki

Dalam konteks ini, Marzuki sependapat terhadap pencabutan subsidi atas barang dan digantikan subsidi langsung kepada masyarakat. Melalui cara ini, selain subsidi bisa tepat sasaran, juga untuk mengurangi disparitas harga yang rawan terhadap praktik pengoplosan.

Mengenai mekanisme pemberian subsidi langsung tersebut, kata Marzuki, bisa dikaitkan dengan data lain, seperti Kartu BPJS dan juga data penerima BLT. Kartu BPJS bisa dipergunakan, terutama kepada mereka yang iurannya juga disubsidi Pemerintah. “Mekanisme itu bagus, tetapi datanya juga harus akurat,” kata dia.

Selain pengalihan subsidi langsung, menurut Marzuki, yang juga bisa dilakukan adalah melalui kendali distribusi. Dalam hal ini, sebaiknya peran agen kembali diluruskan agar gas melon tidak dilepas begitu saja ke pasar. “Dari agen sudah ketahuan, siapa saja yang berhak menerima. Jika mekanisme ini sesuai aturan, maka sudah selesai. Tidak harus mengecek ke masyarakat, karena agen-agen itu yang mengatur penjualan,” kata dia. [sam]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

Pakai Jaket Gojek Mulyono di Sidang Pledoi, Nadiem Ingin Seret Jokowi?

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:18

UPDATE

BNI Ingatkan Nasabah, Waspada Modus Penipuan BNIdirect

Sabtu, 13 Juni 2026 | 16:06

Diduga Palsukan KTA, Sekjen dan Waketum PPP Dipolisikan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:47

DPR Nilai Dukungan Publik terhadap Program MBG Tetap Kuat Meski Diterpa Kasus Korupsi

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:09

Seleksi Pejabat Kemenag Kini Makin Ketat, Rekam Jejak Jadi Penentu

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:04

Soal Protes Kenaikan BBM, DPR Ingatkan Harga di Indonesia Masih Relatif Murah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:34

Program Padat Karya Jaga Daya Beli Masyarakat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:29

Kejagung: Motor Listrik MBG Bukan untuk Disita, Tapi Segera Disalurkan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:24

LEMIGAS dan Pertagas Resmi Berkolaborasi di Proyek Cisem II

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:55

Fernando Emas: Waspada Reformasi 1998 Jilid II

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:51

Bank Mandiri Siapkan Rp1,95 Triliun untuk Lunasi Green Bond Seri A

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:33

Selengkapnya