Berita

Yaman/Net

Dunia

Analis: Kematian Mantan Presiden Bawa Yaman Ke Level Perang Sipil Baru

SELASA, 05 DESEMBER 2017 | 11:56 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Kematian mantan presiden Yaman Ali Abdullah Saleh menimbulkan keraguan tentang masa depan negara yang dilanda perang tersebut, karena sebuah perang koalisi pimpinan Saudi melawan pemberontak Houthi kemungkinan akan meningkat.

Menurut sejumlah analis, pembunuhan Saleh awal pekan ini dianggap sebagai pukulan yang sangat besar kepada pasukannya.

"Rumahnya dikepung selama dua hari terakhir dan hari ini mereka menyerang rumah tersebut. Dia lolos, dia ditemukan di sebuah kendaraan yang bentrok dengan pasukan pemeriksaan Houthi," kata Hakim al-Masmari, pemimpin redaksi Yaman Post kepada Al Jazeera.


"Di sinilah dia dibunuh bersama sejumlah pembantu seniornya," sambungnya.

Saleh, yang memerintah Yaman selama lebih dari tiga dekade dan memainkan peran penting dalam perang sipil yang sedang berlangsung di negara tersebut, telah meminta koalisi pimpinan Saudi untuk mengangkat pengepungan yang dikenakannya kepada Yaman dalam sebuah pidato di televisi pada akhir pekan kemarin.

Dia juga secara resmi memutuskan hubungan dengan Houthi, dan mengatakan bahwa dia terbuka untuk berdialog dengan koalisi militer pimpinan Saudi yang telah berperang dengan aliansi pemberontaknya selama lebih dari dua tahun.

Sementara Arab Saudi memuji sikap Saleh, tidak demikian dengan pihak Houthi.

Pada tahun 2015, Arab Saudi, bersama dengan negara-negara Muslim Sunni lainnya, secara militer melakukan intervensi di Yaman untuk mengembalikan pemerintahan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi, yang digulingkan oleh kelompok Houthi tahun sebelumnya.

Aliansi Saleh yang rapuh dengan kepemimpinan Houthi sebagian besar dipandang sebagai sesuatu yang integratif, menyatukan partai Kongres Rakyat Rakyat (GPC) dan fraksi Houthi Ansarallah, yang saling bertentangan satu sama lain di masa lalu.

Masmari mencatat kematian Saleh dapat menyebabkan koalisi pimpinan Saudi untuk lebih meningkatkan operasi militernya.

Sejak perpecahan baru-baru ini, koalisi tersebut telah mengintensifkan serangan udara di daerah-daerah yang dikuasai Houthi di Sanaa, yang menargetkan bandara dan kementerian dalam negeri yang ditinggalkan.

Joost Hiltermann, direktur program Timur Tengah Kelompok Krisis Internasional, mengatakan bahwa perputaran aliansi Houthi-Saleh akan meningkatkan fragmentasi dan konflik dengan menambahkan lapisan balas dendam.

"GPC Saleh, partai penting di pusat, dapat mengalami fraktur lebih jauh, dengan banyak orang bergabung dengan pejuang anti-Houthi," kata Hiltermann kepada Al Jazeera.

"Tidak ada yang menang," tambahnya.

Ia menjelaskan bahwa perkembangan terakhir merupakan kemunduran besar bagi koalisi pimpinan-Saudi, yang mencakup Uni Emirat Arab (UEA) sebagai pemain kunci.

"Mereka mempertaruhkan harapan mereka pada Saleh menundukkan Houthi, tapi keadaan tampaknya berubah secara berbeda. Ini menunjukkan kebangkrutan pendekatan militer mereka terhadap perang," kata Hiltermann.

Awal tahun ini, serangkaian email yang bocor mengungkapkan keinginan Arab Saudi untuk mengakhiri perang di Yaman selama pembicaraan dengan mantan pejabat Amerik Serikat.

Meskipun tidak ada langkah-langkah resmi untuk menarik diri dari konflik tersebut, Hiltermann mengatakan Riyadh saat ini memiliki lebih sedikit pilihan untuk keluar dengan hasil yang dinegosiasikan.

"Jika mereka memutuskan untuk melipatgandakan pemboman udara, warga sipillah yang akan menderita, di atas malapetaka kemanusiaan yang telah kita lihat di Yaman," katanya.

Pertarungan pemberontak tersebut terjadi saat penghuni Sanaa sebagian diblokade sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan.

Analis lain, Andreas Krieg yang merupakan seorang analis politik King's College London, mengatakan bahwa jangka pendek di Yaman akan menjadi keadaan tidak aman yang lebih buruk dari sebelumnya.

"Saleh adalah seorang integrator. Houthi yang membunuhnya mengambil lem dari persamaan," kata Krieg kepada Al Jazeera.

Meski masih belum jelas apakah aliansi di lapangan akan bergeser, Krieg yakin hal tersebut pasti akan terjadi.

"Pengeboman koalisi sudah cukup buruk, sekarang akan ada tingkat perang sipil yang baru," katanya.

Arab Saudi ingin menarik diri dari konflik "mahal", tapi menurutnya, sekarang tidak ada jalan keluar dari perang untuk koalisi. [mel]

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

OJK Catat Penyaluran Kredit Tembus Rp 8.659 Triliun, Sektor UMKM Mulai Tunjukkan Perbaikan

Rabu, 06 Mei 2026 | 08:14

Trump Mendadak Hentikan Operasi Project Freedom di Selat Hormuz

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:52

Harga Emas Rebound Saat Pasar Pantau Geopolitik dan Data Tenaga Kerja

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:23

Sektor Teknologi Eropa Bangkit dari Keterpurukan, STOXX 600 Menghijau

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:05

Kemenag Fasilitasi Kepindahan Santri Ponpes Ndolo Kusumo

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:45

Dana Wakaf Baitul Asyi untuk Jemaah Haji Aceh Diusulkan Naik

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:32

Rudy Mas’ud di Ujung Tanduk

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:09

Rakyat Antipati dengan PSI

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:38

10 Orang Jadi Korban Penyiraman Air Keras Kurir Ekspedisi

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:19

Kapal Supertanker Iran Masuk RI Bukan Dagang Biasa

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:08

Selengkapnya