Berita

M. Jusuf Kalla/Net

Jaya Suprana

Terima Kasih, JK!

SENIN, 04 DESEMBER 2017 | 08:54 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

DENGAN judul bombastis 'Hebat Ke Wakil PM China, JK: Jangan Kirim Banyak Tenaga Kerja', Kantor Berita Politik RMOL 28 November 2017 memberitakan bahwa  Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) benar-benar memahami kegerahan rakyat Indonesia atas serbuan tenaga kerja asing (TKA) asal China. Keberpihakannya pada kaum pekerja Indonesia itu ia tunjukkan saat bertemu Wakil PM China Liu Yandong di kantor Wapres.

Investasi
JK mengapresiasi investasi China di Indonesia. Menurut¬nya, China cukup banyak me-nanamkan modalnya di Tanah Air. Namun, JK berpesan untuk tidak terlalu banyak membawa tenaga kerjanya. Karena, masyarakat Indonesia juga membutuh¬kan lapangan pekerjaan.

"Saya katakan tadi investasi anda bagus, cuma jangan terlalu banyak bawa tenaga kerja. Dia setuju untuk terlebih dahulu melatih tenaga kerja kita baik di sini maupun di Tiongkok," kata JK seperti diberitakan RMOL.Co, Selasa (28/11). JK mengatakan, Indonesia dan China saling membutuhkan. Karena sesama negara memiliki jumlah warga negara dalam jumlah besar. Dengan memiliki 250 juta penduduk, Indonesia merupakan pasar yang menjan¬jikan, begitu pun sebaliknya. Kedua masyarakat kedua negara juga memerlukan hubungan baik untuk kerja sama. JK mengungkapkan, kunjungan Liu Yandong ke Indo¬nesia berkaitan dengan agenda pertemuan tingkat tinggi hubungan antar masyarakat di Surakarta pada 28-29 November.

"Saya katakan tadi investasi anda bagus, cuma jangan terlalu banyak bawa tenaga kerja. Dia setuju untuk terlebih dahulu melatih tenaga kerja kita baik di sini maupun di Tiongkok," kata JK seperti diberitakan RMOL.Co, Selasa (28/11). JK mengatakan, Indonesia dan China saling membutuhkan. Karena sesama negara memiliki jumlah warga negara dalam jumlah besar. Dengan memiliki 250 juta penduduk, Indonesia merupakan pasar yang menjan¬jikan, begitu pun sebaliknya. Kedua masyarakat kedua negara juga memerlukan hubungan baik untuk kerja sama. JK mengungkapkan, kunjungan Liu Yandong ke Indo¬nesia berkaitan dengan agenda pertemuan tingkat tinggi hubungan antar masyarakat di Surakarta pada 28-29 November.

Resah
Atas nama rakyat Indonesia, terutama kaum pekerja Indonesia, saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya serta penghargaan setinggi-tingginya atas keberanian Wapres Jusuf Kalla menyatakan yang benar sebagai benar dan yang tidak benar sebagai tidak benar kepada WaPM Liu Yandong. Sudah cukup lama, masyarakat pekerja Indonesia merasa resah akibat banjir tenaga kerja China masuk ke persada Nusantara dengan dalih investasi  industri mau pun pembangunan infra struktur . Alasan pemerintah RRChina adalah  tenaga kerja Indonesia tidak memiliki kemampuan untuk melakukan pekerjaan terkait investasi pembangunan infra struktur mau pun industri yang dilakukan RRChina di Indonesia.

Alasan yang sama juga dimanfaatkan oleh pemerintah RRChina dalam melakukan investasi skala dahsyat di benua Afrika. Meskipun masyarakat pekerja Indonesia sudah resah luar biasa, tetapi dari pihak pemerintah Indonesia tidak terdengar suara-suara untuk membela kaum pekerja  Indonesia dari serbuan pekerja China. Alih-alih membela Tanah Air Udara sendiri, malah beberapa pejabat tinggi Indonesia --mungkin akibat takut dituduh SARA --membenarkan alasan RRChina memboyong pekerja China untuk bekerja di Indonesia akibat kaum pekerja Indonesia memang tidak mampu melakukan pekerjaan yang hanya mampu dikerjakan oleh pekerja RRChina.

Hak Pekerja Indonesia
Sebagai warga Indonesia yang berpengalaman bekerja di mancanegara, saya manolak anggapan bahwa pekerja Indonesia memiliki mutu kemampuan kerja lebih rendah di bawah pekerja negara asing. Asal diberi kesempatan, kepercayaan dan pendidikan yang memadai maka saya yakin bahwa pekerja Indonesia mampu melakukan apa saja yang mampu dilakukan pekerja negara mana pun termasuk yang termaju di planet bumi ini. Pekerja Indonesia adalah sesama manusia dengan pekerja negara mana pun di dunia ini maka tidak benar apabila ada sesama manusia lebih unggul ketimbang sesama manusia selama mereka diberi kesempatan yang sama. Baru Wapres JK lah yang berani menegur koleganya yaitu Wakil PM RRChina untuk mengurangi jumlah pekerja China mengambil alih lapangan kerja di Indonesia yang jelas sebenarnya merupakan hak kerja pekerja bukan China tetapi Indonesia. Terima kasih, JK![***]

Penulis adalah warga Indonesia yang berpihak ke pekerja Indonesia


Populer

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Bahlil Ungkap Defisit Minyak RI Hampir 1 Juta Barel per Hari

Selasa, 15 September 2026 | 10:24

Pemerintah Terus Perbaiki DTSEN agar Bansos Tepat Sasaran

Selasa, 15 September 2026 | 10:15

Jelang Sertijab Menteri Keuangan, Rupiah Melemah ke Rp17.674 per Dolar AS

Selasa, 15 September 2026 | 10:10

Pitra Romadoni Pilih Restoratif Justice soal Kasus ITE di Polres Bogor

Selasa, 15 September 2026 | 10:05

Bahlil Buka Suara soal Antrean BBM Subsidi di Makassar

Selasa, 15 September 2026 | 10:05

KPK Benarkan Presiden Direktur Summarecon Agung Turut Terjaring OTT

Selasa, 15 September 2026 | 10:02

IBC Mulai Produksi Baterai di Karawang, Kapasitas Awal 6,9 GWh

Selasa, 15 September 2026 | 09:57

Ruang Akademik Menuju Ekosistem Hak Asasi Manusia

Selasa, 15 September 2026 | 09:48

Turun Dua Hari Beruntun, Emas Antam Ambruk ke Rp2,5 Juta per Gram

Selasa, 15 September 2026 | 09:44

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon Usai OTT

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

Selengkapnya