Berita

Rizal Ramli/net

Bisnis

Rizal Ramli: Holding BUMN Tidak Perlu Jika Hanya Menambah Birokrasi

SELASA, 28 NOVEMBER 2017 | 21:14 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Ekonom senior Rizal Ramli menanggapi rencana pembentukan holding BUMN bidang tambang. Indonesia Asahan Aluminium Persero (INALUM) akan menjadi induk dari holding pertambangan ini. Pembentukannya juga sebagai langkah awal pemerintah mengambil alih saham Freeport Indonesia.

Rizal mengakui pernah membahas cara mencari uang di luar APBN dengan Presiden Joko Widodo. Dalam diskusi itu, rencana yang disepakati adalah sekuritisasi aset, dengan tidak menjual saham dan aset, melainkan future income diterima sekarang.

Presiden setuju dan berpidato di kabinet tentang perlunya sekuritisasi. Namun, dalam perjalanannya, para pembantunya membelokkan kebijakan dengan sekadar menjual aset. Yang Rizal khawatirkan, sogokan di balik penjualan aset BUMN bernilai besar sekali seperti dalam kasus Indosat dan tanker Pertamina. Bukti-bukti korupsi hilang ketika asetnya dijual.


Karena itu, ia tidak setuju bila aset-aset negara yang bagus malah dijual. Setelah kritik terhadap rencana penjualan aset berhasil, muncul rencana limited concession scheme, sehingga pengelolaannya diserahkan kepada swasta. Ia hanya setuju bila terjadi pergantian direksi, misalnya. Proyek yang sudah jadi (brown project) tidak perlu dijual karena merugikan negara. Namun untuk green project atau proyek baru, ia setuju dengan KSO atau BOT.

"Jika di sekuritisasi, pengawasan sekuritisasi oleh OJK. tidak lagi oleh Menteri BUMN. Akan tetapi, kalau limited concession scheme, tetap juga di Menteri BUMN yang kinerjanya sama sekali  tidak bagus dalam mengelola BUMN," terang Rizal, yang pernah menjabat menteri dan juga anggota tim ahli Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Ia mengatakan, Indonesia punya pengalaman buruk dengan dua bentuk holding, yaitu holding pupuk dan semen yang ternyata tidak membawa perubahan yang signifikan.

"Esensinya, holdingisasi hanya dapat efektif kalau betul ada peningkatan efisiensi dan pengurangan cost. Kalau tidak, itu hanya akan jadi tambahan birokrasi, nanti mau membuat apa-apa harus persetujuan direktur-direktur holding dan birokrasi akan lebih lama lagi dan ribet," tegasnya.

Soal rencana membeli Freeport, Rizal menduga itu hanya upaya untuk menggemukkan aset PT INALUM yang tidak begitu besar. Karena itulah maka ditambahkan tiga BUMN sehingga menjadi lebih besar, mendapat issue financing dengan dalih mau mengambil saham Freeport.

Padahal, Indonesia tak harus membeli Freeport karena sebenarnya masa kontrak perusahaan tambang raksasa dari Amerika Serikat itu bisa diselesaikan pada 2021.

Dia pun mengkritik keras kinerja Menteri BUMN, Rini Soemarno, yang berada di balik gagasan holding BUMN ini. Apalagi, Rini tidak pernah diperbolehkan rapat bersama DPR RI selama hampir dua tahun terakhir.

"Kalau ini terjadi di luar negeri, menteri bersangkutan sudah pasti mengundurkan diri atau dipecat oleh pemerintahnya. Bagaimana aset yang begitu strategis pertanggungjawabannya tidak jelas dan tidak dapat bertemu di DPR? Saya minta Presiden Jokowi cut loss dari kejadian-kejadian tidak lucu ini," ungkap Rizal. [ald]

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Tak Perlu Takut dengan Ide Kewarganegaraan Ganda Prabowo

Minggu, 16 Agustus 2026 | 10:26

Cara Mengubah Desil DTSEN Secara Online dan Offline, Lengkap dengan Langkahnya

Minggu, 16 Agustus 2026 | 10:15

Tak Cuma Revisi, DPR Sepakat Regulasi Baru Migas

Minggu, 16 Agustus 2026 | 10:14

GBNI Dukung Program Kerakyatan Prabowo

Minggu, 16 Agustus 2026 | 09:37

B50 Perkuat Kemandirian Energi, Hemat Devisa, dan Dorong Transformasi Ekonomi

Minggu, 16 Agustus 2026 | 09:34

Presiden Perintahkan Penanganan Darurat, Wamensos Terjun ke Lokasi Gempa NTT

Minggu, 16 Agustus 2026 | 09:28

21 Kantong Parkir Disiapkan Saat Perayaan HUT ke-81 RI di Jakarta

Minggu, 16 Agustus 2026 | 08:31

MBG Harus Kembali ke Tujuan Awal Bukan Jadi Ladang Bisnis

Minggu, 16 Agustus 2026 | 08:21

Ruas Jalan di Jakarta Direkayasa Saat Perayaan HUT ke-81 RI

Minggu, 16 Agustus 2026 | 08:12

Besok! Ongkos Transjakarta, MRT, dan LRT Jakarta Cuma Rp8

Minggu, 16 Agustus 2026 | 07:30

Selengkapnya