Berita

Publika

Polusi Visual

SABTU, 18 NOVEMBER 2017 | 10:52 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

POLUSI visual merupakan aesthetic issue: Velbak terbuka, Billboard, kabel-kabel listrik, antena, kerangka reklame berkarat.

Mereka rusak pemandangan (a vista) di Jakarta. Triger eye fatigue. Terutama reklame. Multi-billion rupiah industry. Tapi enggak terlalu banyak faedahnya buat masyarakat. Tidak serap tenaga kerja sebesar pabrik-pabrik tekstil.

Jalanan penuh papan iklan is disaster. Selain jadi polusi visual, tiang-tiang reklame berbahaya. Banyak yang roboh.


Bagi Marxist thinkers, iklan adalah alat kapitalisme. It is seen as a socially useless device necessary in order to get excess production sold.

Belakangan, para pemikir konservatif dan ekonom juga mengkritisi iklan. Professor Mark Miller menyebut iklan sebagai "species of propaganda."

Di buku "The Theory of Monopolistic Competition", Professor Chamberlin membuat distingsi antara "production costs" dan "selling costs."

Konsumen membayar biaya iklan. Product-nya enggak berubah. Itu-itu saja. Padahal, tanpa iklan, produk itu bisa dijual dengan harga lebih murah. Biaya iklan ini masuk "selling cost".

Enggak heran bila ada yang bilang, "advertising is condemned as wasteful".

After Anies-Sandi jadi gubernur, ada benturan antara pemain reklame konvensional melawan Large Electronic Display (LED).

Pasal 8 Pergub 148 tahun 2017 membagi 4 zona billboard: Kawasan kendali ketat, sedang, rendah dan khusus.

ASOSIASI Perusahaan Media Luargriya Indonesia (AMLI) minta Pergub 148 ini direvisi. Mereka ingin pasang billboard konvensional di Jl. Thamrin-Sudirman. Pergub 148 hanya mengizinkan Reklame LED dipasang di area ini. Sedangkan reklame konvensional masih bertengger di zona-zona kendali rendah. Misalnya, Jembatan Penyebrangan Orang (JPO) di banyak wilayah masih jadi sasaran run amok reklame-reklame konvensional.

Reklame konvensional statik sudah ditinggalkan Broadway, New York, Oxford, London, dan Tokyo Jepang. Semuanya mengimplementasi LED. AMLI sendiri akui itu.

Kelemahan reklame konvensional adalah sifatnya statis. Satu produk. Bertengger sampai warnanya luntur. Tiang-tiang pancangnya tinggi, menutupi pemandangan, dan rentan roboh.

Di beberapa titik, kerangka reklame konvensional jadi bangkai berkarat. Ngga ada pengiklan. Dibiarkan saja begitu. Bikin Jakarta jadi mirip kota hantu.

Pajak LED jauh lebih besar. Tiangnya rendah karena lebih berat. Lebih irit, satu billboard LED bisa tayangkan 5-8 produk.

Kontradiksi antar pemain reklame ini tidak bersentuhan langsung dengan masyarakat. Ada sekitar 80-100 pemain di Jakarta. N it is too much. Rata-rata pemain iklan konvensional yang menolak inovasi LED. Mereka lebih senang pasang tiang pancang dan menganggur setahun. Enggak perlu punya workshop. Tinggal pesan ke tukang besi.

Beda dengan LED Companies yang harus mengontrol layar setiap hari.

Semoga Anies-Sandi bisa memutuskan yang terbaik. Saya sendiri lebih senang LED. Kalau perlu, larang reklame konvensional secara total di Jakarta.

Mungkin, saya terlalu sering nonton video klip live show Alicia Keys yang berjudul "Empire State of Mind (Here in Times Square)". Di situ ada pagelaran LED fantastik menempel di gedung-gedung pencakar langit. That's A Metropolis should be.

Penulis adalah aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Jenderal Agus Subiyanto Tinjau Gladi Bersih Upacara HUT Ke-81 TNI

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 18:11

Rayakan Milad ke-81, GPI Gelar Sidang Dewan Organisasi di Bogor

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 17:22

Jalan Panjang Brigjen Ami Prindani Hingga Jadi Kadensus 88 Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Kurikulum Berbasis Cinta Dorong Pesantren Tanamkan Kesadaran Ekologi

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

PKPA Peradi Profesional Raih Rekor MURI Peserta Terbanyak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:52

Trump Pangkas Dana Iklim Global, Program Konservasi Orangutan RI Ikut Kena Imbas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:22

Ekspor Lesu - Stok Melonjak: Harga Minyak Sawit Mentah Catat Penurunan Mingguan Kedua

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:57

PP GPI Apresiasi Gebrakan Reformasi Suyudi di Tubuh Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:45

DOJ Tutup Kasus Powell, Proyek Renovasi Fed Masih Berujung Audit

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:31

Selengkapnya