Berita

Fajar Riza Ul Haq/Dok

Nusantara

Rekoleksi Memori Lokal, Indonesia Butuh Museum Digital

JUMAT, 27 OKTOBER 2017 | 07:30 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Staf Khusus Menteri Pendidikan dan Kebudayaan,  Fajar Riza Ul Haq menekankan kembali pentingnya aras kebudayaan sebagai salah satu penangkal jitu paham ektremisme yang menyiarkan permusuhan.

Hal itu disampaikan Fajar di hadapan pelaku seni dan kebudayaan se-Kabupaten Bogor dalam forum bertajuk 'Ngawangkong Kebudayaan Sunda Urang Bogor' di Joglo Keadilan, tadi malam. Acara ini dihelat oleh Dewan Kesenian Kebudayaan Kabupaten Bogor dan Yayasan Satu Keadilan.

Fajar memaparkan, Indonesia sesungguhnya telah memiliki regulasi terkait dengan pemajuan dan perlindungan kebudayaan, melalui UU 5/2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Namun sayangnya, banyak masalah yang sudah terlihat bakal muncul pada tataran implementasinya.


“Misalnya, sudah terlihat dari rumusan UU tersebut bahwa perhatian yang paling besar diberikan justru kepada apa yang disebut tradisi, bukan kepada problematika kebudayaan kekinian,” tutur Fajar.

Seolah-olah, Fajar menambahkan, kebudayaan daerah dianggap sebagai pemanis untuk kepentingan pariwisata, tidak lebih dari itu.

Lebih jauh, Fajar mengusulkan agar masyarakat seni dan kebudayaan melakukan suatu upaya untuk mendokumentasikan memori-memori lokal yang termuat dalam kebudayaan-kebudayaan daerah. Salah satu jalannya dengan membuat digital museum sebagai upaya pendokumentasian yang memanfaatkan kemajuan teknologi.

"Memori lokal terancam terhapus dengan sangat cepat. Kita harus mendayagunakan teknologi seperti aplikasi untuk pemajuan budaya," ujar Fajar.

Fajar menilai, justru di sinilah letak penting kebudayaan lokal sebagai salah satu sarana jitu melawan paham ekstremisme yang kini membelah masyarakat. Memori kultural lokal tidak selalu menyangkut masa lalu yang kadaluwarsa.

Lebih dari itu, ia mengandung simbol-simbol yang selama ini telah terbukti menjamin keberlangsungan kebersamaan dan toleransi di Indonesia. Namun bila melihat hari ini, toleransi yang sesungguhnya merupakan kearifan lokal tersebut nyatanya kian tergerus.

"Suatu paradoks, 40 tahun lalu di mana masyarakat kita mungkin masih banyak yang buta huruf, umumnya justru lebih toleran dan berkebudayaan adiluhung. Apa sarananya? Teater, wayang, tutur dan kitab kuning, kidung, pantun, syair. Hal-hal ini menjadi sarana di mana nilai-nilai luhur dan agama diajarkan melalui simbolisme yang canggih. Kini sebaliknya, sebagian besar orang melek huruf, tetapi kecanggihan kulturalnya justru surut. Mereka tidak lagi mengenyam intisari simbolis dari ajaran-ajaran lama. Sebagai gantinya, mereka merangkul tafsir harfiah atas agama yang sempit, mutlak, dan non-simbolis. Akibatnya ada di depan mata, matinya simbolisme tradisional yang diikuti dengan kebangkitan konservatisme, menilai dengan kacamata hitam-putih. Kemodernan tidak lagi menghasilkan pencerahan, melainkan penyuraman," urai Fajar.

Fajar juga memberi perhatian khusus bagi kontribusi pemuda. Hari ini pemuda dituntut mampu menjadi pilar kemajuan bangsa dari berbagai aspek. Peran ini merupakan peluang yang harus dimanfaatkan para pemuda untuk membuktikan diri bahwa kehadirannya akan berdampak kepada generasi-generasi mendatang secara terus-menerus.

“Yang lebih penting adalah pemuda terlibat secara pro aktif merawat dan melestarikan kelangsungan keberagaman yang telah terbangun dalam semangat kemanusiaan, kenusantaraan, kebangsaan, dan ke-bhineka tunggal ika-an sebagai cultural value bangsa Indonesia,” ucap Fajar.[wid]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

Polisi Tangkap Pembacok Pegawai Toko Roti di Cengkareng

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:55

Bank Mandiri Gelar Mandiri Lelang Festival 2026, Penawaran 50% di Bawah Pasaran

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:51

KPK Jangan Omdo, Dugaan Korupsi Sinyal Kereta Harus Dibongkar Tuntas

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:40

DPR Sebut Skandal Seksual di Ponpes Pati sebagai Pelanggaran HAM Berat

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:16

Unhas Siap jadi Pusat Unggulan MBG di Indonesia Timur

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:50

Kapolri Siap Eksekusi 3.000 Halaman Rekomendasi Reformasi Polri

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:44

Kompetisi Perguruan Tinggi Tanpa Fondasi Keadilan

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:25

Pelanggaran Tambang Tidak Cukup Diselesaikan dengan Uang

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:00

KPK Kembangkan Penyidikan Baru Kasus OTT Anak Buah Bobby Nasution

Selasa, 05 Mei 2026 | 19:49

Prabowo Terima 10 Buku Rekomendasi Reformasi Polri di Istana

Selasa, 05 Mei 2026 | 19:47

Selengkapnya