Berita

Jaya Suprana

Bravo Anies, Sandi, Mahesh!

RABU, 25 OKTOBER 2017 | 09:47 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

Kompas.com memberitakan bahwa Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Wakil Gubernur Sandiaga Uno meninjau proyek pembangunan mass rapid transit ( MRT) di Fatmawati, Jakarta Selatan, Jumat (20/10). Usai meninjau, Anies tiba-tiba didatangi seorang pemilik lahan yang selama ini menuntut Pemprov DKI Jakarta di pengadilan.

Mahesh
Pemilik lahan tersebut bernama Mahesh yang memiliki Toko Karpet Serba Indah di Jalan Fatmawati kawasan Haji Nawi. Kepada Mahesh, Anies meminta agar tidak menghitung untung rugi dalam proyek nasional itu. "Kalau kita hanya hitung untung rugi, enggak ada untungnya," ujar Anies.

Mahesh mengatakan, dia mengerti bahwa lahannya dibutuhkan untuk kepentingan masyarakat banyak. Dia sejak awal dia mengikhlaskan lahannya dipakai. Namun dia meminta penggantian lahannya dilakukan sesuai harga appraisal. "Kami sudah bilang Pak, lahan kami boleh dipakai tapi tolong sesuai UU," kata Mahesh. "Jadi boleh nih ya eksekusi," tanya Anies. "Boleh, bongkar sekarang juga boleh, Pak. Sekarang saya ajak Bapak, saya lebih senang," jawab Mahesh.

Mahesh mengatakan, dia mengerti bahwa lahannya dibutuhkan untuk kepentingan masyarakat banyak. Dia sejak awal dia mengikhlaskan lahannya dipakai. Namun dia meminta penggantian lahannya dilakukan sesuai harga appraisal. "Kami sudah bilang Pak, lahan kami boleh dipakai tapi tolong sesuai UU," kata Mahesh. "Jadi boleh nih ya eksekusi," tanya Anies. "Boleh, bongkar sekarang juga boleh, Pak. Sekarang saya ajak Bapak, saya lebih senang," jawab Mahesh.

Setelah itu, mereka mendatangi toko milik Mahesh. Sebenarnya belum ada kesepakatan berapa nilai ganti rugi yang harus dibayar Pemprov DKI untuk mengganti lahan Mahesh. Namun, Mahesh bersedia untuk merundingkan masalah pembayaran lahan sambil jalan.

Tidak Menghambat Pembangunan

Sementara perundingan bergulir, Mahesh mengizinkan bangunan di atas lahannya dibongkar agar pembangunan MRT tidak terhambat. "Kami butuhnya di sini adalah supaya konstruksinya enggak berhenti. Soal nilai dan lain-lain Bapak mau terus (proses di pengadilan) engga masalah. Tapi jangan sampai proyeknya berhenti, Pak. Jadi kalau Bapak menghentikan proyek ini, ganggu seluruh Jakarta, Pak," kata Anies kepada para pemilik lahan yang masih menolak penggusuran.

Setelah itu, Anies dan Mahesh secara simbolis membongkar toko yang selama ini belum bisa digusur. Keduanya bersama-sama memegang sebuah martil besi dan merusak bagian pagarnya. Setelah itu mereka semua bersalaman. Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno langsung memeluk Mahesh. "You are hero of the month," kata Sandi.  

Musyawarah-Mufakat

Apabila berita itu bukan hoax, saya menyampaikan penghormatan dan penghargaan setinggi-tingginya bagi Anies, Sandi , Mahesh. Mereka bertiga berhasil membuktikan kesaktian musyawarah-mufakat sebagai solusi bagi permasalahan apa pun. Mereka bertiga mulai bermusyawarah-mufakat mulai pukul 15.45 dan pembongkaran lahan secara simbolis dilakukan oleh seorang gubernur bersama seorang rakyat sekitar pukul 16.12.

Dalam waktu sesingkat itu, pemilik lahan yang selama ini menggugat Pemprov mengikhlaskan lahannya dibongkar tanpa melalui proses pemberian SP. Peristiwa indah itu menjadi makin indah karena ternyata seorang pemilik lahan lain yang juga berseteru dengan Pemprov DKI ikut menghampiri Anies. Pria tersebut menegaskan kepada Anies bahwa hanya Mahesh yang membuat kesepakatan. Dia memilih untuk menunggu proses di pengadilan. "Hanya Mahesh punya ya, Pak," kata pria itu. "Enggak apa-apa, biar jadi contoh," kata Anies.

Peristiwa saling menghormati dan menghargai antara pemerintah dan rakyat tersebut membuktikan bahwa fenomena kalau-mau-pasti-mampu yang terkandung di dalam falsafah musyawarah-mufakat memang selaras dengan agenda Pembangunan Berkelanjutan yang telah disepakati PBB sebagai pedoman pembangunan abad XXI . Bravo Anies, Sandi, Mahesh![***]

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan yang prihatin nasib rakyat tergusur



Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

UPDATE

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

Pimpinan Baru OJK Perlu Perkuat Pengawasan Fintech Syariah

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:25

Barang Ilegal Lolos Lewat Blueray Cargo, Begini Alurnya

Jumat, 06 Februari 2026 | 02:59

Legitimasi Adies Kadir sebagai Hakim MK Tidak Bisa Diganggu Gugat

Jumat, 06 Februari 2026 | 02:36

Uang Dolar Hingga Emas Disita KPK dari OTT Pejabat Bea Cukai

Jumat, 06 Februari 2026 | 02:18

Pemda Harus Gencar Sosialisasi Beasiswa Otsus untuk Anak Muda Papua

Jumat, 06 Februari 2026 | 01:50

KPK Ultimatum Pemilik Blueray Cargo John Field Serahkan Diri

Jumat, 06 Februari 2026 | 01:28

Ini Faktor Pendorong Pertumbuhan Ekonomi Kuartal IV-2025

Jumat, 06 Februari 2026 | 01:08

KPK Tetapkan 6 Tersangka OTT Pejabat Bea Cukai, 1 Masih Buron

Jumat, 06 Februari 2026 | 00:45

Pengamat: Wibawa Negara Lahir dari Ketenangan Pemimpin

Jumat, 06 Februari 2026 | 00:24

Selengkapnya