Berita

Jaya Suprana

Memetik Hikmah Dari Kegaduhan

KAMIS, 19 OKTOBER 2017 | 08:10 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

DALAM pidato kegubernuran perdana 17 Oktober 2017, Gubernur Anies Baswedan menyelipkan dua kalimat sebagai berikut "Dulu kita semua pribumi ditindas dan dikalahkan, kini telah merdeka. Kini saatnya kita menjadi tuan rumah di negeri sendiri."

Melawan Penindasan
Selama berpendapat belum dilarang maka saya berpendapat bahwa dua kalimat itu bersifat positif dan konstruktif dalam memberikan semangat bagi kita semua pribumi yang ditindas dan dikalahkan oleh kaum penjajah untuk bangkit menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Semangat Bung Karno mengajak bangsa Indonesia melawan penindasan tersirat di dalam pidato Gubernur Anies . Setelah 72 tahun  kemerdekaan diproklamirkan Bung Karno dan Bung Hatta memang masih ada sesama warga Indonesia masih belum  menikmati nikmatnya kemerdekaan bangsa, negara dan rakyat Indonesia seperti Anies dan saya. Maka Gubernur Anies berniat membebaskan warga Jakarta dari penindasan oleh siapa pun apalagi sesama bangsa Indonesia sendiri. Namun tidak semua pihak sependapat dengan saya. Terbukti ada pihak yang tidak berkenan atas (sebuah) kata "pribumi" di dalam pidato perdana Gubernur Anies.

Makna

Makna
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata "pribumi" adalah sebuah kata benda bermakna "penghuni asli; yang berasal dari tempat yang bersangkutan." Sinonim "pribumi" dalam bahasa Melayu adalah "bumiputera" yang di Indonesia tidak pernah dihebohkan bahkan sejak 1912 lestari diabadikan sebagai nama AJB Bumiputera. Di ranah akademis, kata "pribumi" lazim digunakan oleh para antropolog sebagai identitas para penduduk asli seperti Maya, Inka, Apache, Comanche di benua Amerika, Aborijin di Benua Australia, Maori di Selandia Baru. Eskimo-Aleut di Alaska. Bahkan pada bulan Agustus 2016, Presiden Taiwan Tsai Ing-wen telah resmi meminta maaf kepada warga Austronesia sebagai pribumi Taiwan yang teraniaya selama berabad-abad. Mohon dimaafkan bahwa setelah menelaah makna kata "pribumi" saya gagal paham mengenai kenapa kata "pribumi" sampai sedemikian digaduhkan di persada Nusantara masa kini.

Sasaran Tembak    
Secara psikososiopolitis, Anies Baswedan sebagai Gubernur Jakarta kini berada pada posisi "harus salah." Kemenangan Anies Baswedan pada pilkada Jakarta 2017 telah menghadirkan kebencian luar biasa pada diri para pendukung Basuki Tjahaja Purnama yang sama sekali tidak bisa ikhlas menerima kekalahan pujaan hati mereka. Kebencian kemudian menumpuk menjadi dendam. Rasa dendam memposisikan diri Anies Baswedan sebagai sasaran tembak bagi para pendendam yang mencari bahkan mencari-cari kesalahan Anies Baswedan sehingga cucu pejuang kemerdekaan Abdurrahman Baswedan dipaksa untuk mautakmau berada  pada posisi "harus salah." Manusia mustahil sempurna maka Anies Baswedan yang juga manusia biasa jelas mustahil sempurna. Jika dicari apalagi dicari-cari pasti ditemukan ketidak-sempurnaan dalam bentuk kesalahan pada diri Anies. Bahkan kalau perlu direkayasa suatu kesalahan yang sebenarnya bukan kesalahan demi dipaksakan menjadi suatu kesalahan.

Hikmah
Kegaduhan akibat sebuah kata "pribumi" di dalam sebuah pidato kegubernuran merupakan proses trial and error sebagai pembelajaran bagi kita semua. Insya Allah, Anies Baswedan dapat memetik hikmah pelajaran dari kegaduhan atas sebuah kata "pribumi." Gubernur memang tidak sama dengan menteri pendidikan. Sebagai menteri pendidikan, Anies berkomunikasi dengan para guru, dosen, mahaguru, pengajar, cendekiawan yang memiliki pemahaman akademis saling serupa satu dengan lainnya. Sebagai gubernur, Anies berkomunikasi dengan masyarakat relatif lebih  pluralis dengan anekaragam pemahaman saling beda satu dengan lainnya. Lebih parah lagi, di dalam masyarakat juga termasuk para lawan politik yang dendam terhadap Anies Baswedan akibat menang pilkada 2017.

Maka apa boleh buat, adalah lebih bijak apabila Gubernur Anies Baswedan menghindari penggunaan kata-kata rawan tafsir seperti "pribumi" yang rawan ditafsirkan ke berbagai penjuru termasuk ke yang sulit masuk akal sehat sehingga sulit diperhitungkan sebelumnya. Ketimbang menghadapi resiko disalah-salahkan lalu dihujat-hujat bahkan dipolisikan, rasanya tetap lebih bijak apabila di masa mendatang Gubernur Anies Baswedan menghindari penggunaan kata pribumi pada pidato-pidato resminya. [***]

(Penulis adalah pendiri Pusat Studi Kelirumologi dan Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan)

Populer

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Roy Suryo Cs di Atas Angin terkait Kasus Ijazah Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:12

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Kasihan Banyak Tokoh Senior Ditipu Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 14:19

Partai Politik Mulai Meninggalkan Jokowi

Selasa, 17 Februari 2026 | 13:05

Sangat Aneh Bila Disimpulkan Ijazah Jokowi Asli

Kamis, 19 Februari 2026 | 18:39

UPDATE

Kuota Internet Hangus Digugat ke Mahkamah Konstitusi

Jumat, 27 Februari 2026 | 00:01

Mantan Personel Militer Filipina Ungkap Skandal Politik Uang Pejabat Negara

Kamis, 26 Februari 2026 | 23:56

Penanganan Kasus Lapangan Padel Jangan hanya Reaktif Usai Muncul Polemik

Kamis, 26 Februari 2026 | 23:38

Legislator PKS Soroti Ketimpangan Politik Hukum Laut Nasional

Kamis, 26 Februari 2026 | 23:22

PLN Enjiniring Raih Dua Penghargaan ITAY 2026

Kamis, 26 Februari 2026 | 23:17

Tiga Syarat ‘State Capitalism’

Kamis, 26 Februari 2026 | 23:04

CMNP Minta Sita Jaminan Rumah Hary Tanoe di Beverly Hills

Kamis, 26 Februari 2026 | 22:47

IPK 2025 Anjlok ke 34, Rudy Darsono: Efek Jera Cuma Jualan Politik

Kamis, 26 Februari 2026 | 22:37

Konektivitas Nasional di Daerah Bencana Pulih 100 Persen

Kamis, 26 Februari 2026 | 22:32

BPKH Perkuat Sinergi Investasi Nasional dan Internasional Lewat Revisi UU

Kamis, 26 Februari 2026 | 22:18

Selengkapnya