Berita

Abdul Rahman Kadir/Humas BNPT

Pertahanan

Inilah Kenapa Radikalisme Merambah Dunia Maya

RABU, 18 OKTOBER 2017 | 16:44 WIB | LAPORAN:

Dunia maya (internet) telah menjadi ‘kendaraan’ utama pelaku terorisme untuk mempersiapkan dan melakukan aksinya.

Kemajuan pesat informasi dan teknologi komunikasi menjadikan kelompok teroris itu sangat leluasa memanfaatkan untuk kepentingan propaganda mereka karena di dunia maya itu bisa melakukan apa saja tanpa batas.

"Ini yang melatarbelakangi kenapa radikalisme merambah dunia maya dengan memanfaatkan jejaring sosial dan media, dengan sasaran kaum muda dan penggiat dunia maya," kata Deputi Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi (Deputi 1) BNPT Mayjen TNI Abdul Rahman Kadir pada ‘Public Lecture Pencegahan Paham Radikal Terorisme' di Aula Sabang Merauke Akademi Angkatan Udara (AAU) Yogyakarta, Rabu (18/10).


Public Lecture ini dihadiri dari kurang lebih 700 peserta dari taruna tiga angkatan darat, laut, udara dan Polri, mahasiswa, pelajar, jajaran SKPD DI Yogyakarta, dan perwakilan organisasi masyarakat. Selain Deputi 1, juga hadir Sekretaris Utama (Sestama) BNPT Mayjen TNI R. Gautama Wiranegara mewakili Kepala BNPT Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, MH.

Mayjen Abdul Rahman menjelaskan, saat ini terorisme bukan persoalan lokal saja, tapi persoalan seluruh bangsa di dunia.

"Seluruh bangsa tidak ada lagi yang imun terhadap pengaruh paham radikal terorisme. Dulu terorisme hanya ada di belahan dunia tertentu, sekarang tidak ada lagi karena sudah menyebar ke seluruh dunia," imbuhnya.

Bicara tentang terorisme, media, dan dunia maya, ia menggarisbawahi isi surat satu pimpinan Al Qaeda, Aiman Aljawahir kepada pengikutnya bahwa saat tengah terjadi peperangan dan separuh lebih peperangan itu terjadi melalui media. Jurubicara Al Qaeda, Al Adnani, mengemukakan daripada merekrut dan membawa anggota baru ke Afganistan, akan lebih mudah dan berharga, bila memindahkan pusat pelatihan ke setiap rumah, dan setiap desa perkampungan muslim di berbagai negara.

"Artinya, para pelaku terorisme itu sangat pintar dan sudah membaca jauh-jauh hari pentingnya media dan dunia maya untuk menjalankan aksi mereka," terangnya.

Kalau didinamikakan, lanjut Abdul Rahman, itu terlihat dari pola propaganda kelompok radikal itu yang bergeser dari cara-cara konvensial, ke cara-cara yang mereka gunakan sekarang yaitu media dan dunia maya.

"Dulu terorisme melakukan rekrutmen dengan melalui hubungan kekeluargaan, pertemanan, ketokohan, dan lembaga keagamaan. Jadi mulai merekrut sampai pembaitan, mereka harus tatap muka untuk melakukan indoktrinasi, rekrutmen, pembaiatan. Sekarang beda, terorisme sudah menggunakan website, medsos, social messenger,” jelas mantan Danrem 074/Warastratama Solo ini.

Salah bukti pola itu adalah pelaku yang siap melakukan aksi bom bunuh diri di istana negara yang tertangkap di Bintara, Bekasi. Perempuan pelaku itu dibaiat melalui online, setelah itu nikah secara online. Belum lagi setelah medsos muncul, dan terakhir social messenger.

Ia menambahkan, ada beberapa alasan kenapa teroris selalu menggunakan dunia maya yaitu dunia maya mudah diakses, tidak ada kontrol, regulasi, dan aturan. Audien luas bahkan bisa anonim, langsung komunikasi, murah, multimedia, kemudian kalau kita lihat internet sudah jadi sumber pemberitaan dan kebutuhan kita.

"Intinya, kelompok teroris menggunakan internet untuk melakukan perang psikologis, propaganda, pengumpulan dana dan data, serta berdiskusi antar mereka," pungkasnya.[wid]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Terbuka Peluang Duetkan Pramono-AHY di 2029

Jumat, 11 September 2026 | 06:21

Komnas Palestina Salurkan 300.000 Liter Air Bersih ke Gaza

Jumat, 11 September 2026 | 06:08

Buku 'Islam Ala Prabowo' Bukan Produk MUI

Jumat, 11 September 2026 | 05:31

Tak Ada Alasan MK Menolak Gugatan Denny Indrayana Cs

Jumat, 11 September 2026 | 05:14

Kemenhaj Tutup Celah Jual Beli Antrean Haji Khusus

Jumat, 11 September 2026 | 05:04

Tiket Termurah Persija vs Persib Rp150 Ribu, Termahal Rp1,5 Juta

Jumat, 11 September 2026 | 04:24

Pansus Papua DPD RI Harus Bongkar Akar Konflik

Jumat, 11 September 2026 | 04:00

Perampasan Aset: Keharusan Hukum vs Kecemasan Publik

Jumat, 11 September 2026 | 03:39

Kudu Yakin Persib Libas Persija 2-0

Jumat, 11 September 2026 | 03:18

Terima Aspirasi Buruh

Jumat, 11 September 2026 | 03:00

Selengkapnya