Berita

Susi Pudjiastuti/Net

Bisnis

Susi Mimpi Bisa Angkut Ikan Pakai Pesawat

Jalur Pengiriman Terlalu Lama
RABU, 18 OKTOBER 2017 | 08:07 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Menteri Kelautan dan Peri­kanan Susi Pudjiastuti men­gungkapkan, proses pengiri­man ikan saat ini masih rumit dan sulit. Hal ini menyebabkan nilai produk ikan dari Indone­sia tidak tinggi.

"Ikan itu sebelum diekspor, berkeliling dulu di separuh wilayah Indonesia," ujar Susi dalam kuliah umum di Uni­versitas Indonesia, Depok, kemarin.

Susi menjelaskan, produk perikanan berbeda dengan produk pangan lain. Tingkat kesegaran menentukan nilai harga ikan. Jika ikan segar atau ikan hidup, harganya paling tinggi. Sedangkan, untuk ikan kalengan dan asin, harganya paling rendah. Menurutnya, hambatan utama dari pengiri­man ikan segar selama ini adalah jalur pengiriman yang terlalu lama dan rumit. Hal ini menyebabkan ikan yang diekspor dalam bentuk ikan beku sehingga harganya tidak terlalu tinggi.


Susi mengungkapkan, hasil penangkapan ikan dari Meula­boh selama ini tidak langsung diekspor ke Singapura tapi dikirim dulu ke Jakarta. Pada­hal, sebenarnya lebih efisien dikirim langsung.

Susi mengatakan, untuk mendorong kecepatan pen­giriman ikan, bisa dilakukan dengan menggunakan pesawat terbang. Sehingga ikan yang diekspor dalam keadaan segar. Hanya saja, untuk mewujudkan pengangkutan dengan pesawat memerlukan bandar udara di sekitar pantai. Sayangnya, perizinan untuk mendirikan bandara sangat lama. "Ban­dara punya saya, sudah 20 tahun tidak keluar izinnya," curhatnya.

Susi mengaku sudah men­gadu ke Presiden Jokowi. Menurutnya, Presiden juga gemas karena perizinan lama meskipun sudah diberikan ara­han darinya secara langsung.

Pada kesempatan ini, Susi juga memaparkan alasannya melakukan penenggelaman kapal asing. Menurutnya, In­donesia negara kepulauan terbesar di dunia, namun hasil perikananannya cenderung sedikit. Bahkan, di antara negara-negara Asia Tenggara, hasil produksi ikan Indonesia hanya pada peringkat ketiga.

Selain itu, lanjut Susi, sek­tor perikanan tidak signifikan memberikan kontribusi terh­adap peningkatkan kesejahter­aan masyarakat. Jumlah rumah tangga nelayan berkurang 50 persen dari 1,6 juta menjadi 800.000. Banyak nelayan bera­lih profesi menjadi anak buah kapal (ABK) atau urbanisasi ke Jakarta. Hal ini terjadi kar­ena sedikitnya ikan yang bisa ditangkap.

"Ironinya di tengah laut banyak kapal kargo ikan. Ini terjadi karena sejak tahun 2001 pemerintah Indonesia memberi lisensi ke kapal-kapal asing. Dan masalahnya penangkapan dilakukan dengan cara yang tidak bertanggung jawab," ungkapnya.

Oleh karena itu, pihaknya melakukan penegakan hukum terhadap kapal-kapal asing yang melanggar aturan. Selain itu, membenahi aturan main untuk melindungi nelayan dan meningkatkan pendapa­tan negara seperti melakukan moratorium kapal asing dan melarang bongkar muat ikan di tengah laut. ***

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

Besok Pantura Jateng Diprediksi Banjir Rob Lebih Lama

Minggu, 14 Juni 2026 | 22:22

Turun Ke Kupang, Komut Pertamina Pastikan Pasokan Energi di Perbatasan Aman

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:47

Prabowo Terima Laporan Rosan soal Lonjakan Kepercayaan Investor Global

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:40

Masyarakat Harus Jaga Persatuan di Tengah Tekanan Ekonomi Global

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:26

Prabowo Kumpulkan Sejumlah Menteri di Kertanegara, Bahas Apa?

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:21

Ketum PKB: Politik Bukan Cuma Rebutan Kekuasaan!

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:19

Wakapolri dan Akpol '90 Bakti Sosial dan Kesehatan Gratis

Minggu, 14 Juni 2026 | 20:49

Tuan Guru Batak Kecam Eks Ketua BEM UGM yang Diduga Hina Presiden

Minggu, 14 Juni 2026 | 20:32

PKB Jabar Fest Siapkan Kader Muda jadi Pemimpin Masa Depan

Minggu, 14 Juni 2026 | 20:31

KPK Buka Fakta Viral Foto Tumpukan Uang Valas Silmy Karim

Minggu, 14 Juni 2026 | 19:53

Selengkapnya