Berita

Novel Baswedan/Net

Hukum

Eddy Kusuma Wijaya: Ada Kesan Novel Baswedan Diistimewakan

SENIN, 09 OKTOBER 2017 | 08:16 WIB | LAPORAN:

. Perlakuan istimewa yang diberikan pemerintah kepada penyidik senior KPK Novel Baswedan kembali dipertanyakan.

"Perawatan atau pengobatan atas diri Novel Baswedan di Singapura sudah terasa berlebihan dan sangat luar biasa. Ada kesan dia diistimewakan," ujar Anggota Komisi III DPR Irjen Pol. (Purn) Eddy Kusuma Wijaya, Senin (9/10).

Sebab menurutnya, Novel sudah tinggal berbulan-bulan di RS Singapura. Di negara itu pun dia bisa secara leluasa jalan-jalan dan melakukan kegiatan lainnya.


Novel dibawa berobat ke rumah sakit di  Singapura setelah dia disiram air keras oleh orang tak dikenal usai salat subuh di Masjid Kelapa Gading, Jakarta Utara, 11 April 2017.

Terkait hal itu, Eddy mempertanyakan soal biaya Novel selama perawatan di Singapura. "Dari mana duitnya?"katanya dalam nada bertanya.

Selain itu juga dipertanyakan prosedur dan biaya seseorang pegawai negeri berobat di luar negeri. Padahal, pengobatan Novel bertahap dan berperiode atau bisa berobat jalan.

Politisi PDIP yang juga anggota Pansus Angket KPK ini juga mempertanyakan sikap Komisi III DPR sebagai mitra kerja KPK belum pernah mempertanyakan masalah ini.

Pihaknya pun merasa heran sikap DPR maupun pemerintah terkesan lembut dan santun menghadapi KPK, sehingga lembaga antirasuah ini menjadi anak manja khususnya Novel.

Begitu juga Polri kata Eddy, terkesan enggan mengusut kasus pembunuhan yang ditangani Novel ketika bertugas di Lampung dengan tegas sesuai koridor hukum yang berlaku. Padahal sudah ada laporan masyarakat yang melaporkan Novel, tetapi Polri tidak seperti menghadapi dan mengungkap kasus lainnya.

"Ada tanda-tanda apa ini? Apa lagi pihak kejaksaan sudah seperti orang kena struk dan lumpuh kalau sudah menghadapi KPK dan kasus Novel Baswedan," ujar pensiunan jenderal polisi ini.

Kasus pembunuhan di Bengkulu sudah P21, sudah ditetapkan hari sidang, tapi kemudian di SP3 oleh kejaksaan tetapi dipraperadilkan oleh pihak korban dan pihak korban menang. Artinya kata Eddy, kasus Novel  segera disidangkan, tapi kembali jadi masalah karena sidangnya juga tak pernah muncul.

"Hal ini menimbulkan tanda tanya ada apa di kejaksaan. Hukum macam apa di Indonesia ini, mana fungsi pengawasan DPR yang katanya pengawasan tertinggi di dalam sistem ketatanegaraan kita," katanya. [rus]

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

KPK Panggil Bos Rokok HS di Kasus Suap Cukai

Kamis, 02 April 2026 | 10:39

UPDATE

Tidak Mengutuk Tapi Ayo Gugat Israel di PBB

Minggu, 05 April 2026 | 01:55

Energi Transisi Sulap Desa Rentan jadi Resisten

Minggu, 05 April 2026 | 01:32

1.305 Rekomendasi Audit BPK di Kementerian PU Belum Tuntas

Minggu, 05 April 2026 | 01:10

Pakistan Gratiskan Transportasi Umum Buntut Demo Kenaikan BBM

Minggu, 05 April 2026 | 00:52

Menang di Tingkat Kasasi, Natalia Rusli Fokus Kawal Perkara Pidana

Minggu, 05 April 2026 | 00:32

Pemerintah Desak DK-PBB Lindungi Pasukan Perdamaian di Lebanon

Minggu, 05 April 2026 | 00:12

Pelni Sukses Layani 467 Ribu Penumpang Selama Arus Mudik-Balik Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 23:57

KSAD: Tiga Prajurit Gugur, Kami Sangat Kehilangan

Sabtu, 04 April 2026 | 23:32

Menlu Ungkap Ada Tiga Prajurit TNI Lagi Terluka di Lebanon

Sabtu, 04 April 2026 | 23:11

ITERA: Fenomena Langit Lampung Timur Diduga Sampah Antariksa Roket China

Sabtu, 04 April 2026 | 22:42

Selengkapnya