Berita

Foto/Net

Bisnis

Pemerintah Cari Kambing Hitam

Rupiah Loyo Lagi
RABU, 04 OKTOBER 2017 | 09:09 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pelemahan kurs rupiah yang terjadi sejak pekan lalu terus berlanjut. Kemarin, rupiah hampir menyentuh angka Rp 13.600 per dolar AS. Ini adalah pelemahan terburuk sepanjang 10 bulan terakhir. Dikhawatirkan pelemahan terus berlanjut hingga akhir tahun. Soal ini, Bank Indonesia (BI) mengkambinghitamkan pengaruh global.

Merujuk pasar spot sore kemarin, rupiah bergerak di rentang Rp 13.550-13.590 per dolar AS. Padahal sepanjang tahun ini rupiah berada di kisaran Rp 13.300. Kenapa terus melemah? Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara menyebut pelemahan ini cenderung bersifat global. Kata dia, bukan rupiah saja yang melemah. Mata uang di kawasan Asia lainnya ikut melemah terhadap dolar AS. Sebut saja dolar Singapura, Yen Jepang dan Yuan China yang rata-rata melemah di kisaran 1,7-2,2 persen. "Apa artinya? Artinya global," kata Mirza saat ditemui di Rakornas Kadin di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, kemarin.

Mirza memaparkan, ada beberapa penyebab dari pelemahan mata uang tersebut. Pertama, ada isu Presiden AS Donald Trump mengajukan proposal terkait penurunan pajak. Meski proposal ini belum komprehensif, kongres dan senat telah menerima usulan tersebut. Hal ini menumbuhkan harapan baru bahwa ekonomi AS akan tumbuh lebih cepat lagi sehingga suku bunga naiknya jadi lebih cepat. Akibatnya, dolar AS yang melemah sejak awal tahun berubah membaik dalam 10 hari terakhir.


Kedua adalah Gubernur Bank Sentral AS The Fed, Jannet Yellen yang mengatakan suku bunga AS memiliki kemungkinan naik lebih tinggi. Pernyataan tersebut membuat pasar mellihat ada kemungkinan kenaikan suku bunga untuk ketiga kalinya di tahun ini. Pelaku pasar uang berspekulasi mengenai adanya pergantian Gubernur The Fed. Mereka khawatir, calon pengganti Yellen akan memiliki pandangan moneter yang lebih ketat.

Mirza menjelaskan, meski terus mengalami penurunan dalam sepekan terakhir, dia menjamin fundamental ekonomi Indonesia masih oke-oke saja.

Pengamat ekonomi Avilliani berharap BI mengantisipasi pelemahan rupiah. Soalnya, pelaku ekonomi butuh kepastian dalam berusaha. Artinya, jangan sampai rupiah bergerak terlalu cepat. "Kalau bisa stabil dalam waktu yang lama," kata Aviliani yang juga menjabat Dewan Penasihat Kadin di lokasi yang sama, kemarin.

Dia menjelaskan, ke depan masih akan terjadi fluktuasi mata uang. Sebab, investor cenderung masih memindahkan dananya dari satu negara ke negara yang lain mencari lokasi terbaik. "Ini yang harus kita jaga, jangan sampai mengganggu iklim usaha karena biar bagaimanapun nilai tukar kita sangat berpengaruh," ujarnya.

Meski demikian, Aviliani menegaskan melemahnya rupiah tidak boleh dibiarkan terlalu lama. "Sampai nanti begitu terus, ini akan terjadi inflasi yang tidak kita inginkan," ucapnya.

Pengamat ekonomi dari UI Faisal Basri menilai, lemahnya rupiah teradap dolar AS bukan akibat dari pemangkasan suku bunga acuan BI menjadi 4,25 persen. BI menurunkan suku bunga karena dianggap rupiah stabil dan inflasi cukup rendah. Padahal, menurut dia, inflasi yang rendah itu hanyalah semu.

"Kenapa? Karena memang sudah dipatok oleh pemerintah. Harga beras dan gula dipatok sekian, harga BBM, listrik, elpiji juga nggak boleh naik. Jadi ini semacam komando, ini yang menyebabkan nilai inflasi rendah itu semu. Akibatnya apa? Rupiah melemah menjadi risikonya. Saya khawatir pelemahan ini bisa sampai akhir tahun," kata Faisal saat ditemui Rakyat Merdeka, kemarin.

Faisal menyarankan sebaiknya pemerintah mewaspadai dampak kebijakan tersebut ke depannya. Pasalnya, Indonesia merupakan negara terbuka yang sangat tergantung pada luar negeri. Saat ini saja, sekitar 30 persen obligasi pemerintah dipegang asing. Sementara di pasar saham juga hampir separuhnya dikuasai asing. Sehingga, jika kebijakan ekonominya terlalu ambisius membuat kestabilan ekonomi makro juga ikut terganggu. "Ini konsekuesi logis dari penurunan suku bunga acuan yang terus menerus," tuturnya.

Apakah pelemahan rupiah juga akibat dari rencana Donald Trump melakukan pemangkasan pajak? Faisal bilang, bisa saja. Hanya menurut dia, porsinya sangat kecil. Faisal mengatakan, di antara penurunan mata uang asing lainnya hari ini (kemarin), rupiah termasuk kategori yang cukup stabil di kawasan Asia Tenggara. ***

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

UPDATE

PDIP Duga Ada Pengerahan Komcad Saat Pengamanan Demo Mahasiswa, Ini Penjelasannya

Senin, 15 Juni 2026 | 08:19

Bursa Asia Hijau Sambut Kesepakatan Damai AS-Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 08:12

Harga Minyak Dunia Rontok Usai Trump Umumkan Kesepakatan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:54

Harga Logam Mulia Melonjak, Emas Mendekati Rekor Baru

Senin, 15 Juni 2026 | 07:42

AS dan Iran Bakal Teken Perjanjian Damai di Swiss Jumat Ini

Senin, 15 Juni 2026 | 07:26

Pemerintah Dorong Susu Hadir Setiap Hari dalam Program MBG

Senin, 15 Juni 2026 | 07:15

Trump Klaim Amankan Kesepakatan Damai Terbesar dengan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:00

Pengelolaan Blok Andaman Diusulkan Pakai Skema Hybrid

Senin, 15 Juni 2026 | 06:50

Dokter Tifa Dukung Prabowo Pimpin RI Tanpa Gibran

Senin, 15 Juni 2026 | 06:27

Suap di Bea Cukai Sangat Mengerikan, Bukti Negeri Ini Semakin Busuk oleh Koruptor

Senin, 15 Juni 2026 | 06:23

Selengkapnya