Berita

Stephen Paddock/Net

Global

Mengapa Pelaku Serangan Las Vegas Tak Disebut Teroris?

SELASA, 03 OKTOBER 2017 | 19:18 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Teror maut yang merenggut 59 nyawa di tengah festival musik di Las Vegas kemarin disebut-sebut polisi setempat sebagai serangan paling mematikan dalam sejarah modern Amerika Serikat.

Pelaku, seorang mantan akuntan, warga lokal berusia 64 tahun bernama Stephen Paddock melepaskan tembakan ke penonton konser di sebuah festival musik country di Las Vegas dengan senapan mesin.

Terlepas dari skala serangan dan fakta bahwa Paddock dipersenjatai dengan lebih dari 10 senapan, Sheriff Las Vegas Joe Lombardo segera menolak kaitan apapun pelaku dengan terorisme. Sebagai gantinya, ia mengklasifikasikan Paddock, seorang pria kulit putih dan warga setempat dengan istilah "local individual" (individu setempat) dan "lone wolf" (serigala tunggal). Istilah itu pula lah yang banyak dikutip media internasional terkait kasus tersebut.


Khaled A. Beydoun, seorang profesor hukum di Universitas Detroit Mercy School of Law dan penulis "American Islamophobia: Memahami Akar dan Kebangkitan Ketakutan" awal pekan ini menulis artikel menarik di Washington Post. Ia mengangkat sisi lain situasi tersebut.

Ia menilai bahwa meski motif di balik serangan Paddock belum terungkap, namun banyak yang menyoroti soal mengapa tidak disematkan kata "teroris" pada Paddock. Statusnya sebagai individu lokal dinilai tidak relevan bila digunakan sebagai alasan untuk tidak menyematkan istilah "teroris" pada Paddock.

Hal tersebut mungkin akan berbeda bila Paddock adalah seorang Muslim. Istilah yang belakangan dibangun dengan citra negatif seperti "jihad", "Islam" dan"Muslim" akan segera diasumsikan dengan terorisme, bahkan bila hal tersebut belum terbukti.

Dengan demikian, penembakan di Las Vegas segera menimbulkan beberapa pertanyaan terkait ras dan agama dan bagaimana mereka menggambarkan istilah "teroris".

Presiden Trump, dinilai dalam artikel tersebut, telah mengantar pada tahap ketiga perang melawan teror, dan retorika "benturan peradaban" di seputar kebijakan anti-terorisme AS dan telah terpaku pada umat Islam.

Trump terus meneruskan kebijakan anti-radikalisasi  yang berusaha mengidentifikasi dan menangkap radikal Muslim "homegrown".

Namun sosok seperti Paddock, atau Dylann Roof, remaja yang membunuh sembilan pengunjung gereja di Charleston, S.C., pada tahun 2015, digambarkan sebagai "serigala tunggal" dan bukan "teroris". Hal itu menunjukkan daftar pengecualian yang ekstensif telah tersedia bagi pelaku kekerasan kekerasan kulit putih.

Tentu saja, banyak orang Muslim Amerika yang terlibat dalam upaya kontra-radikalisme di Minneapolis, Boston, Los Angeles atau Washington, D.C., kota-kota di mana program kontra-radikalisasi ditegakkan dengan ketat terkait dengan komunitas tertentu. Mereka, muslim Amerika yang terlibat juga merupakan warga lokal.

Namun sayangnya, karena kulit mereka yang cokelat, atau hitam serta status mereka yang merupakan Muslim, membuat mereka tetap dicap sebagai "orang asing" di depan mata negara dan penegak hukum setempat yang bertugas bertanggung jawab untuk mengejar radikalisme.

Berkali-kali, setelah serangan teroris yang melibatkan individu Muslim di Amerika Serikat, orang-orang Muslim Amerika diharapkan untuk menolak dan mengutuk serangan tersebut. Umat Muslim Amerika mau tidak mau, dibebani oleh konsekuensi Islamofobia yang berkembang, mereka seolah dituntut oleh lingkungan untuk meminta maaf atas aksi oknum lain yang mengaku Muslim.

Namun, tidak ada yang mengharapkan orang kulit putih untuk meminta maaf atas nama semua pria kulit putih lainnya, meskipun 63 persen penembakan massal sejak 1982 dilakukan oleh demografis mereka.

Standar ganda dan penggabungan terorisme dengan satu kelompok tidak hanya merupakan cermin stereotip populer, namun juga merupakan cerminan dari garis dasar inti dalam sistem hukum di Amerika Serikat. Mereka adalah pesan yang memerintahkan kita, sebagai masyarakat, untuk segera mencari pembalasan dendam dan keadilan atas nama negara kita ketika pelaku terorisme adalah Muslim, namun mundur dari analisis politik atau penunjuk jari saat pelakunya berkulit putih.

Sementara kita fokus pada boogeymen Muslim di dekat dan jauh, kita mengabaikan teroris bersenjata bersenjata penuh kebencian di dalam rumah sendiri. [mel]

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

Fokusmaker Sentil Azis Narang: Jangan Jual SOKSI untuk Kepentingan Politik Pribadi

Sabtu, 07 November 2026 | 18:26

Airlangga Akui Kasus Penyadapan pada Presiden Ganggu Sentimen Investor

Sabtu, 07 November 2026 | 18:17

Bantah Terlibat Penyadapan Ilegal, Bahlil: Ini Ulah Abuleke

Sabtu, 07 November 2026 | 17:48

ARBI Bakal Gelar Aksi Akbar di Al-Azhar, Ini Lima Tuntutannya

Sabtu, 07 November 2026 | 17:40

HUT ke-73 KPU Dirayakan Sederhana, Refleksi Integritas Bareng Para Mantan

Sabtu, 07 November 2026 | 16:45

Ketum Peradi Profesional: Advokat Bukan Pelengkap Peradilan

Sabtu, 07 November 2026 | 16:08

Menimbang Perpres 107/2026 dan Dampaknya pada Kelancaran Pengadaan Energi

Sabtu, 07 November 2026 | 15:48

Tekanan Jual Mereda, Harga Bitcoin Menguat ke 75.928 Dolar AS

Sabtu, 07 November 2026 | 15:40

Film Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang Tayang Jelang Imlek

Sabtu, 07 November 2026 | 15:18

Pangdam XXII/Tambun Bungai Pimpin Pemulangan Jenazah Sertu Anumerta Heri Prasetyo ke Kediri

Sabtu, 07 November 2026 | 15:14

Selengkapnya