Berita

Foto/Net

Bisnis

KAI Perbarui Sistem Sinyal Lintas Jatinegara-Manggarai

Genjot Keselamatan Perjalanan Kereta
SENIN, 02 OKTOBER 2017 | 08:49 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

PT Kereta Api Indonesia (KAI) Persero Daerah Operasi (Daop) I Jakarta melakukan pembaruan sistem persinyalan kereta api jalur Manggarai sampai Jatinegara pada Sabtu (30/9). Pembaruan sistem ini untuk meningkatkan keandalan keselamatan perjalanan kereta api di ruas tersebut.

 Senior Manager PT Kereta Api Indonesia Daop 1 Jakarta Suprapto mengatakan, pada Sabtu (30/9) pukul 00:00 WIB s/d 04:00 WIB dilaksanakan perubahan (switch over) sistem persinyalan dari sistem SSI (solid state interlocking) yang sudah bertugas dari Tahun 1994 ke sistem persinyalan kyosan K5B buatan Jepang.

"Pergantian persinyalan ini sebelumnya sudah dilaksana­kan pada koridor lintas Stasiun Cakung hingga Stasiun Cikarang pada 7 Juni 2017. Sekarang di­lakukan di lintas Stasiun Jatineg­ara-Manggarai. Namun ke depan akan ada di lintas lainnya secara bertahap," kata Suprapto kepada Rakyat Merdeka.


Meski begitu, Suprapto mem­bantah kalau revitasilasi pers­inyalan ini merupakan langkah persiapan KAI Daop Idalam menghadapi musim penghujan. Menurutnya, pembaruan sistem persinyalan dan gangguan akibat curah hujan tidak saling ber­hubungan.

"Kalau di musim penghujan, gangguan bisanya lebih kepada faktor alam. Seperti sambaran petir yang mengganggu jaringan listrik dan persinyalan, ini faktor alam dan tidak bisa dihindari. Sementara pembaruan dilakukan untuk meningkatkan keandalan operasional," kata Suprapto.

Dijelaskan, sistem persinyalan merupakan salah satu kom­ponen vital dalam suatu sistem perjalanan kereta api, sehingga usaha perawatan dan pergan­tian sistem persinyalan secara berkala sangatlah penting untuk dilakukan.

Dengan perubahan sistem persinyalan ini, KAI berharap bisa semakin meningkatkan keselamatan dan kelancaran per­jalanan kereta api yang melintas di wilayah Stasiun Jatinegara- Stasiun Manggarai.

Suprapto mengatakan, banyak keunggulan dari penggunaan sistem persinyalan baru ini, misalnya menambah kelancaran perjalanan kereta api sekaligus dapat menambah beban ka­pasitas lintas dan bisa semakin menjamin dalam segi keamanan alat-alat persinyalan yang pen­empatan modulnya bisa bersatu dalam suatu bangunan gedung.

"Di wilayah PT KAI Daop 1 Jakarta terdapat tujuh jenis sistem persinyalan, di antaranya: SSIWestinghouse Inggris, SSIAls­tom Australia, SSIGEC Alstom Prancis, VPI DBRI Inggris, Me­kanik S&H, dan PLC Mc Allister (Vialis Belanda)," ujarnya.

Suprapto mengatakan, peng­gunaan sistem persinyalan baru ini sudah harus segera dilakukan agar perjalanan kereta api di wilayah PT KAI Daop 1 Jakarta yang berjumlah total 1.229 per hari, bisa semakin lancar dan tepat waktu.

"Saat ini, ada 1.229 perjalanan kereta api ini terdiri dari 118 KA Jarak jauh /menengah, 28 KA lokal, 58 KA Barang, 945 perjalanan KRL dan direncana­kan 80 perjalanan bagi KA Bandara," tegasnya.

Pengamat transportasi Azas Tigor Nainggolan mengatakan, selain membaruan persinyalan, KAI diminta juga meningkatkan antisipasi memasuki musim penghujan.

"Biasanya kerap terjadi gang­guan akibat cuaca ekstrim. Ini harus disiapkan antisipasinya. Dengan antisipasi yang baik, gangguan bisa diminimalisir," kata Azas kepada Rakyat Merdeka.

Selama ini, gangguan persiny­alan kerap dikeluhkan pengguna kereta api karena jadi faktor dominan keterlambatan perjalan­an kereta, khususnya Kereta Rel Listrik (KRL) commuter line.

"Hampir sebagian besar ke­terlambatan perjalanan akibat gangguan persinyalan. Ini harus bisa diatasi KAI, apalagi jumlah pengguna commuter line terus meningkat, belum lagi ditam­bah hadirnya kereta bandara. Jangan sampai, saat intensitas perjalanan tinggi, terjadi gang­guan dan berdampak luas pada perjalan KRL, kereta jarak jauh, hingga kereta bandara," tegas Azas. ***

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya