Berita

Jusuf Kalla (JK)/net

Politik

KISRUH GOLKAR

Kenapa JK Diam Saja?

SABTU, 30 SEPTEMBER 2017 | 14:53 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Gugatan praperadilan Setya Novanto terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dikabulkan Hakim PN Jakarta Selatan.

Tapi, Partai Golkar yang dipimpin Novanto tidak menyambutnya dengan sukacita. Masih ada pekerjaan berat yang harus diselesaikan.

Politikus senior Partai Golkar, Zainal Bintang, mengatakan bahwa rehabilitasi citra Golkar menjadi pekerjaan rumah yang sulit dan berat.


Memang, usaha menjaga soliditas internal Golkar masih bisa dilakukan elite DPP bekerjasama dengan pengurus daerah, khususnya provinsi. Tetapi, Golkar juga harus mempertimbangkan keberadaan lebih dari 14 juta suara pemilih yang pernah diraih pada Pemilu 2014.

Menurutnya, tidak mudah mempertahankan kesetiaan pemilih dalam jumlah besar itu. Sementara, konflik internal elite Golkar terus menerus meletup dan lawan poltik dari luar tidak mau berhenti menggergaji elektablitas "beringin".

Bintang menilai, manuver elite Golkar yang terekam media massa malah kian membuat bingung masyarakat. Gonta-ganti pernyataan tidak bisa menolong keadaan. Hal itu karena, pertama dan utama, kasus korupsi yang menimpa Setya Novanto bernilai sangat besar. Meski kasus itu adalah perkara pribadi Setya Novanto dan bukan urusan Golkar sebagai lembaga, rakyat sudah terlanjur marah. Kepercayaan masyarakat yang merupakan kekuatan alamiah parpol sudah hampir tidak ada.

"Yang terjadi saat ini adalah masalah distrust (ketidakpercayaan) masyarakat. Yang ngomongin soal distrust ini kan Pak Jusuf Kalla (JK), mantan Ketua Umum Golkar dan sekarang menjabat sebagai Wakil Presiden," kata pria yang juga wartawan senior itu.

Bintang yakin masyarakat sekarang mempertanyakan peran JK. JK tidak boleh diam dan harus menunjukkan tanggung jawab morilnya kepada keluarga besar parpol yang pernah dipimpinnya. Terlepas dari pro dan kontra, tanggung jawab sebagai konsekuensi moral obligasi sebagai pemimpin harus ditunjukkan JK.

Sebagai Wakil Presiden RI, JK memiliki kekuasaan yang besar dan jaringan yang luas. Karenanya ia dituntut  mengambil langkah terobosan menyelamatkan Golkar. Golkar yang berantakan atau Golkar yang stabil tidak bisa lepas dari nama JK sampai kapanpun.

"Saya mengemukakan pandangan ini tidak berarti saya pendukung JK atau saya anti Novanto. Saya rasional dan objektif saja," tutup Bintang. [ald]

Populer

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

UPDATE

Rayakan HUT Perusahaan Lewat Santunan Anak Yatim

Kamis, 09 Juli 2026 | 01:59

Polisi Geledah Rumah terkait Kasus Dugaan Korupsi Kejagung, 74 Kg Emas Diamankan

Kamis, 09 Juli 2026 | 01:40

Ketahanan Energi Indonesia Masih Pincang Tanpa Ada Cadangan Strategis

Kamis, 09 Juli 2026 | 01:12

Polisi Geledah 12 Titik Kasus Korupsi, Rumah Mewah Jampidsus Tidak Termasuk

Kamis, 09 Juli 2026 | 00:50

Peradi Profesional Catat Rekor Kerja Sama dengan 112 Perguruan Tinggi

Kamis, 09 Juli 2026 | 00:45

IPW Dukung Polri Usut Dugaan Korupsi di Lingkungan Kejagung

Kamis, 09 Juli 2026 | 00:26

Yogyakarta dan Takdir Dirgantara

Kamis, 09 Juli 2026 | 00:01

Kritik terhadap Pemerintah Bagian dalam Kehidupan Demokrasi

Rabu, 08 Juli 2026 | 23:41

Pertamina Berdayakan Difabel Kampung Rajut Inspirasi Green Warrior Bandung

Rabu, 08 Juli 2026 | 23:18

Polisi Sita Uang Miliaran Rupiah Usai Geledah Kafe dan Money Changer di Cipete

Rabu, 08 Juli 2026 | 23:14

Selengkapnya