Berita

Jaya Suprana

Sengketa Segitiga Bhutan-China-India

RABU, 27 SEPTEMBER 2017 | 08:24 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

KERAJAAN Bhutan tersohor sebagai negara aman, tenteram, damai yang menggunakan kebahagiaan sebagai pengukur kesejahteraan negara, bangsa dan rakyatnya. Medio 2017 suasana aman, tenteram, damai Bhutan terusik oleh sengketa perbatasan segitiga Bhutan-China-India .  Terbawa gelora semangat pembangunan infra struktur dengan semboyan One Road One Belt, China membangun jalan raya melintasi dataran tinggi Doklam di kawasan Himalaya yang menurut Bhutan termasuk wilayah Bhutan. Meski Doklam tidak termasuk wilayah India namun pemerintah India protes keras terhadap pembangunan jalan oleh China di Doklam sebagai "significant change of status quo with serious security implications for India," karena Doklam memang memiliki peran militer strategis serta vital bagi kepentingan geopolitik India.

China
Kerajaan Bhutan menganggap pembangunan jalan raya di Doklam oleh China merupakan pelanggaran kedaulatan wilayah Bhutan. Namun China mengklaim Doklam sejak dahulu kala masuk wilayah China maka menolak campur tangan dari pihak manapun termasuk Bhutan apalagi India. Meski Bhutan tidak menjalin hubungan diplomatik dengan China, namun China cukup vital bagi Bhutan di bidang pariwisata. Kunjungan turis dari China merupakan sumber devisa terbesar bagi Bhutan. Apalagi setelah superbintang film Hongkong Tony Leung memilih Bhutan sebagai lokasi upacara pernikahan dengan sesama bintang film Carina Lau pada tahun 2008 yang disusul dengan gebyar upacara pernikahan raja Jigme Khesar Namgyel Wangchuck pada tahun 2011 makin mempopulerkan Bhutan sebagai destinasi para turis China. Jumlah turis China berkunjung ke Bhutan terus meningkat meski tidak ada penerbangan langsung China-Bhutan. China merupakan importir terbesar jamu Bhutan sementara China asyik mengekspor produk-produk eletronik, karpet dan tekstil ke Bhutan.

India

India
Secara historis Bhutan memiliki hubungan mesra dengan India di mana militer India bahkan terlibat langsung dalam melatih angkatan bersenjata Bhutan sampai perlu membangun kamp militer di Haa yang terletak hanya sekitar 20 kilometer dari kawasan jalan di perbatasan yang sedang dibangun oleh China. Di Haa terdapat sebuah akademi militer yang didirikan India dilengkapi sebagai rumah sakit militer di samping sebuah lapangan golf yang khusus dipertuntukkan bagi tentara India yang bertugas di Haa. Sejak perjanjian kerja sama militer 1948, Bhutan memang eksklusif menyerahkan pengembangan angkatan bersenjata Bhutan kepada India. Sampai kini, India melatih bahkan membayar gajih Angkatan Bersenjata Kerajaan Bhutan sambil membangun dan merawat jalan-jalan di kawasan pegunungan Bhutan. Kehadiran tentara India di Bhutan merupakan pandangan sehari-hari yang sudah melazim.

Simalakama
Konflik perbatasan bukan masalah baru bagi China dan India. Pada tahun 1962, tentara China sudah frontal bertempur dengan tentara India sampai memicu pertumpahan darah  akibat perebutan kawasan Arunachal Pradesh yang kini masuk wilayah India . Bhutan menghadapi dilema buah simalamaka pada konflik China-India mengenai Doklam akibat jalinan hubungan baik dengan China sama penting bagi Bhutan dengan hubungan baik dengan India, sementara falsafah perdamaian yang dijunjung tinggi Bhutan jelas sama sekali tidak sesuai dengan kemelut sengketa segitiga China-India-Bhutan.  

Ketularan
Syukur Alhamdullilah, sejak 29 Agustus 2017, Bhutan bisa kembali bernafas lega sebab akhirnya setelah secara bersitegang sambil bersenjata saling berhadapan sejak awal Agustus 2017, akhirnya India dan China sepakat untuk menarik mundur tentara masing-masing dari kawasan Doklam yang menjadi sumber konflik segitiga Bhutan-India-China. Tampaknya semangat perdamaian Bhutan berhasil menular ke India dan China, sehingga akhirnya Bhutan batal berperan sebagai pelanduk yang mati konyol di tengah-tengah perkelahian dua gajah raksasa bengkak di panggung geopolitik dunia masa kini. Insya Allah, Korea Utara dan Amerika Serikat juga akan ketularan semangat perdamaian Bhutan. [***]  

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Jokowi Injak Kepala Kerbau saat Terima Gelar Adat Lampung, Apa Maknanya?

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:21

Safari Politik Jokowi Bukti Kepemimpinan Gibran dan Kaesang Lemah

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:21

Jokowi dan PSI, Duri dalam Daging Pemerintahan Prabowo

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:09

Daftar Wilayah yang Berpotensi Terdampak El Nino 2026

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:05

Keiko Fujimori Akhirnya Bernasib Sama Seperti Prabowo

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:03

KPK Sebut 10 Orang Diamankan dalam OTT Kuansing

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:57

Panitia Minta Jokowi Datang Setelah Acara Adat, Kunjungan Malah Batal

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:50

Koperasi Beri Ruang Bagi Mahasiswa Berwirausaha

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:37

Tutup Perdagangan Akhir Bulan: IHSG Merosot ke 5.643, Rupiah Loyo Dekati Rp18 Ribu

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:28

Ketum AHY: Genap 25 Tahun, Partai Demokrat Ingin jadi Bagian Solusi

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:19

Selengkapnya