Berita

Panglima TNI Gatot Nurmantyo/Net

Politik

Bahaya Laten Komunis

JUMAT, 22 SEPTEMBER 2017 | 23:21 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

PRO communist bastards dan spionase asing mengecam dan fitnah Panglima TNI Gatot Nurmantyo.

Itu memang mentalitas dan perilaku PKI. Oportunistik. Petualang. Avonturir. Suka perang. Serang duluan, giliran digebuk, teriak dizolimi. "Cemen..!!" kata Jenderal Kivlan Zein.

Dulu mereka pernah lakukan itu. PKI via Subandrio menguasai BPI (Biro Pusat Intelijen). Tanggal 15 Mei 1965, Subandrio merilis Dokumen Gilchrist. Katanya ditemukan ditemukan di rumah Bill Palmer. Isinya seputar rencana penggulingan Sukarno.


PKI melancarkan hoax Dewan Jenderal. Sukarno percaya. Para Jenderal difitnah. Tanggal 30 September, 6 Jenderal dibunuh oleh Pasukan Cakrabirawa.

Siang hari tanggal 1 Oktober Letkol Untung Samsyuri mengumumkan pembentukan Dewan Revolusi (Pusat dan Daerah). Kabinet Dwikora didemisioner.

Pembunuhan berlanjut di daerah. Kolonel Katamso Darmokusumo dan Kolonel Anumerta R. Sugiyono Mangunwiyoto dibunuh di Yogyakarta.

Para kader PKI, CGMI, Pemuda Rakyat, IPI dan semua underbouwnya bersorak, gembira, mendukung Gerakan 30 September dan Dewan Revolusi. Merasa menang, sudah berkuasa, berhasil menekuk jenderal dan kaum kontra-revolusioner.

Komunis mulai tegang setelah Mayor Jenderal Suharto merilis pidato di RRI.

Setelah selamat dari usaha pembunuhan, Jenderal Nasution berlindung di Kostrad. Dia memberi instruksi agar Mayjen Suharto memulihkan stabilitas. Pa Harto memerintahkan Sarwo Edhi menggempur dan merebut RRI. Dengan cepat, RRI bisa dikuasai.

Simpatisan PKI mulai meriang ketika DN Aidit, Untung Samsyuri dan lain-lain kabur. Tanggal 6 Oktober, Aidit kirim surat kepada Sukarno. Dia bilang telah mengetahui persiapan penculikan sejak pukul 10 malam tanggal 30 September.

Dalam rapat Kabinet Dwikora, Pembesar PKI Nyoto mengakui ada keterlibatan petinggi PKI dalam G30S. Dalam persidangan Mahmilub Sudisman (pengganti DN Aidit) mengakui terlibatan G30S dan minta maaf.

Anggota, kader, simpatisan PKI kejet-kejet setelah DN Aidit tewas, Untung Samsyuri, Syam Kamaruzaman dan sebagainya ditangkap. Pasca Supersemar, PKI resmi dibubarkan. Rakyat dan TNI bergerak. Komunis teriak-teriak ngga bersalah. Lima puluh tahun kemudian mereka bilang dizolimi. Orde Baru dan TNI dituduh melakukan "state sponsored genocide".

Beda dengan ordinary crime yang dilakukan Anas Urbaningrum. Demokrat tidak dibubarkan karena tidak ada anggota Demokrat yang mendukung perilaku koruptif.

Simpatisan PKI mendukung para pemimpinnya melancarkan gerakan pembunuhan para jenderal. Minimal di hari-hari awal Dekrit Dewan Revolusi. Malahan sampai sekarang mereka mengaku ngga bersalah dan balik menyerang TNI sebagai pelanggar berat HAM. Tanpa bukti, mereka memfitnah Presiden Kedua RI, HM Suharto, sebagai dalang di balik Gerakan 30 September.

Sudah benar sikap Panglima TNI Gatot Nurmantyo. Putar kembali film Penghianatan G30S/PKI. Masifkan..!!

Komunisme menyeret buruh, tani, preman, pengangguran, intelektual salon, borjuis bangkrut dalam rangka perjuangan kontradiksi kelas. Mereka jadi landasan libido berkuasa para pemimpin PKI. Pada akhirnya, kaum miskin proletariat itu dikorbankan. Para propagandis-cum-agitator komunis adalah satu-satunya pihak yang harus disalahkan atas civil war dan jatuhnya korban jiwa.

Terakhir, adalah keliru bila bilang apa yang terjadi pasca G30S/PKI adalah "State Sponsored Genocide". Saat itu, negara dalam situasi perang atau SOB. Dua kekuatan anti dan pro komunis berhadapan. Ada kolateral damage. Sipil jadi korban. Satu-satunya pihak yang harus bertanggung jawab adalah PKI. [***]

Penulis adalah aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (Komtak)

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Jenderal Agus Subiyanto Tinjau Gladi Bersih Upacara HUT Ke-81 TNI

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 18:11

Rayakan Milad ke-81, GPI Gelar Sidang Dewan Organisasi di Bogor

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 17:22

Jalan Panjang Brigjen Ami Prindani Hingga Jadi Kadensus 88 Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Kurikulum Berbasis Cinta Dorong Pesantren Tanamkan Kesadaran Ekologi

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

PKPA Peradi Profesional Raih Rekor MURI Peserta Terbanyak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:52

Trump Pangkas Dana Iklim Global, Program Konservasi Orangutan RI Ikut Kena Imbas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:22

Ekspor Lesu - Stok Melonjak: Harga Minyak Sawit Mentah Catat Penurunan Mingguan Kedua

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:57

PP GPI Apresiasi Gebrakan Reformasi Suyudi di Tubuh Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:45

DOJ Tutup Kasus Powell, Proyek Renovasi Fed Masih Berujung Audit

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:31

Selengkapnya