Berita

Nusantara

Korban PLTA Simarboru Tuntut Jokowi Turun Tangan Atasi Sengketa

RABU, 20 SEPTEMBER 2017 | 18:10 WIB | LAPORAN:

  Sepuluh warga dari dua desa, yaitu Desa Aek Batang Paya dan Desa Luat Lombang, Kecamatan Sipirok Kabupaten Tapanuli Selatan, menuntut keadilan dari Presiden Joko Widodo.

Mereka mengaku mewakili 140 korban mega proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Simarboru. Rabu siang (20/9), mereka mendatangi depan Istana Negara untuk meminta Jokowi turun tangan menyelesaikan konflik lahan serta memberikan  perlindungan hukum bagi pemilik lahan.

Perwakilan warga yang tergabung dalam Forum Warga Korban Pembebasan Lahan PLTA Simarboru membentangkan spanduk raksasa 140 x 4 meter bertuliskan "Pak Jokowi Tolonglah Kami, Proyek Nawacita Datang, Tanah Kami Hilang".


Pihak Istana yang mengetahui kehadiran para warga mau menemui mereka di luar Istana Negara.

"Staf Khusus Presiden Jokowi mau bertemu dengan kami. Kepada mereka kami menyerahkan pernyataan sikap," kata Koordinator Aksi, Bangun Siregar, kepada wartawan di Jakarta, Rabu (20/9).

Pembangunan jaringan tenaga listrik PLTA Simarboru meliputi tiga kecamatan yaitu Sipirok, Marancar dan Batangtoru, maka itu dinamakan Simarboru. Proyek itu digarap oleh PT North Sumatera Hydro Energy.

Bangun yang juga kuasa hukum para korban mengatakan, masyarakat pemilik lahan yang masuk dalam zona proyek yang akan dibebaskan, seluas 600 hektar di daerah aliran sungai Batangtoru, pada awalnya menyambut baik kehadiran  proyek. Tapi dengan catatan, proses dan tatacara pembayaran serta nilai ganti rugi tanah mereka lebih manusiawi, terlepas dari tekanan dan intimidasi.

Tetapi, lanjut Bangun, harapan warga tidak terwujud. Khususnya di Desa Aek Batang Paya dan Desa Luat Lombang, Kecamatan Sipirok.

"Justru pembebasan lahan oleh perusahaan itu sangat polemik. Warga pemilik lahan ditakut-takuti, bahkan diintimidasi oleh tim pembebasan tanah dan oknum yang mengatasnamakan perusahaan agar menjual tanahnya," ungkap Bangun Siregar.

Dia menyebut harga yang ditawarkan sangat rendah yakni Rp 8000 per meter. Bahkan ada juga yang dihargai Rp 4000 ribu per meter. Harga tersebut sudah termasuk tanaman yang ada di atas lahan. Karena terus diintimidasi, akhirnya warga terpaksa menjualnya.

"Kalau warga pemilik lahan menolak menjual tanahnya maka uang ganti rugi akan diambil di pengadilan dan tanah mereka akan dibuldozer oleh perusahaan. Dengan terpaksa karena terus menerus diintimidasi akhirnya menyerah dan melepas tanahnya," terang Bangun Siregar.

Dia mengakui, tim pembebasan lahan (bukan panitia pembebasan tanah yang terdiri dari pihak Camat dan Lurah) sempat memberikan janji-janji kepada warga pemilik lahan. Warga dijanjikan, kalau mau menjual lahannya seharga Rp 8000 per meter dan jika ada perbedaan harga pembebasan di lokasi tanah di hamparan yang sama, maka perusahaan akan melakukan penyesuaian harga dan akan membayarnya dengan harga tinggi.

Nyatanya, Bangun tambahkan, ada beberapa persil tanah di lokasi proyek PLTA yang dibayar dengan harga bervariasi dari Rp 60 ribu per meter hingga Rp 80 ribu per meter. Bahkan tanaman mereka pun dibayar.

Menurut Bangun, di lokasi lahan warga saat ini tengah dibangun jalan. Perusahaan terkesan mengejar target karena ada kabar Presiden Jokowi akan meletakkan batu pertama pembangunan mega proyek PLTA  yang menghabiskan anggaran Rp 20 triliun itu.

Warga juga berencana melaporkan dugaan gratifikasi  proses pembebasan lahan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). [ald]

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

Menhub Perketat Izin Berlayar di Labuan Bajo demi Keamanan Wisata Nataru

Kamis, 01 Januari 2026 | 08:15

Nasib Kenaikan Gaji PNS 2026 Ditentukan Hasil Evaluasi Ekonomi Kuartal I

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:58

Cahaya Solidaritas di Langit Sydney: Menyongsong 2026 dalam Dekapan Duka dan Harapan

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:40

Refleksi Pasar Ekuitas Eropa 2025: Tahun Kebangkitan Menuju Rekor

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:13

Bursa Taiwan Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah Berkat Lonjakan AI

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:02

3.846 Petugas Bersihkan Sampah Tahun Baru

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:58

Mustahil KPK Berani Sentuh Jokowi dan Keluarganya

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:22

Rakyat Sulit Maafkan Kebohongan Jokowi selama 10 Tahun

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:03

Pilkada Lewat DPRD Abaikan Nyawa Demokrasi

Kamis, 01 Januari 2026 | 05:45

Korupsi Era Jokowi Berlangsung Terang Benderang

Kamis, 01 Januari 2026 | 05:21

Selengkapnya