Berita

Politik

PGI Kecam Elite Politik Yang Memicu Kerusuhan Di YLBHI

SELASA, 19 SEPTEMBER 2017 | 16:42 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Ada nuansa keterlibatan elite politik dalam insiden penyerangan massa terhadap kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) di Menteng, Jakarta, pada 17-18 September kemarin.

Hal itu pula yang terungkap dari keterangan pers Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) terkait kejadian yang berujung penangkapan puluhan orang oleh kepolisian tersebut.

Kepala Humas PGI, Jeirry Sumampow, mengatakan, pihaknya mengimbau para elite politik untuk tidak bermain-main dengan menghalalkan segala cara demi kepentingan atau ambisi politik tertentu.


"Cara-cara penyelesaian masalah dengan sengaja melakukan pembenturan antar kelompok tidak akan memberikan solusi yang memadai terhadap persoalan yang dihadapi bangsa ini, malah akan cenderung menimbulkan perpecahan bangsa," tegas PGI.

PGI juga mengimbau agar masyarakat lebih kritis terhadap perilaku dan ajakan para elite politik. Masyarakat diminta tidak mau menjadi alat bagi elite politik dalam mewujudkan kepentingan politik mereka.

PGI mengatakan, opini yang dibangun bahwa saat itu sedang berlangsung kegiatan menghidupkan lagi komunisme di kantor YLBHI-LBH Jakarta terbukti bohong. Alasan itu sengaja dibuat-buat hanya untuk melegitimasi penyerangan anarkis dengan pengerahan massa.

Memang, sejak Sabtu (16/9), YLBHI menjadi tempat kegiatan seminar pelurusan sejarah 1965 yang dihadiri para narasumber yang kompeten di bidangnya.

Terkait dugaan pelanggaran berat HAM masa lampau, PGI memandang perlu percakapan dalam suasana teduh, yang memberi kesempatan kepada semua pihak untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya tanpa ada yang merasa terancam atau tertekan.

"Guna penyelesaian persoalan HAM masa lalu, seperti peristiwa G30S/PKI, upaya rekonsiliasi nasional menjadi kebutuhan mendesak saat ini. Dan rekonsiliasi sejati adalah dengan pengungkapan fakta sejarah secara obyektif yang diikuti dengan pengakuan dan pemulihan korban," tutup PGI. [ald]

Populer

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

Kecelakaan Moge di Kulon Progo, Istri Bos Rokok HS Meninggal

Senin, 02 Maret 2026 | 18:54

Jokowi Lebih Jago dari Shah Ruh Khan soal Main Drama

Senin, 23 Februari 2026 | 03:31

KAI Wisata Hadirkan Kereta Panoramic Rute Jakarta–Yogyakarta dan Solo

Sabtu, 28 Februari 2026 | 15:37

UPDATE

Nina Agustina Tinggalkan PDIP, lalu Gabung PSI

Kamis, 05 Maret 2026 | 16:10

KPK Panggil Pimpinan DPRD Madiun Ali Masngudi

Kamis, 05 Maret 2026 | 16:08

Bareskrim Serahkan Rp58 Miliar ke Negara Hasil Eksekusi Aset Judol

Kamis, 05 Maret 2026 | 15:53

KPK Panggil Lima Orang terkait Korupsi Pemkab Lamteng, Siapa Saja?

Kamis, 05 Maret 2026 | 15:26

Dua Pengacara S&P Law Office Dipanggil KPK

Kamis, 05 Maret 2026 | 15:20

Legislator PKS: Bangsa yang Kuat Mampu Produksi Kebutuhan Pokok Sendiri

Kamis, 05 Maret 2026 | 15:16

Perketat Pengawasan Transportasi Mudik

Kamis, 05 Maret 2026 | 15:09

Evakuasi WNI dari Iran Harus Lewati Jalur Aman dari Serangan

Kamis, 05 Maret 2026 | 15:02

BPKH Gelar Anugerah Jurnalistik 2026, Total Hadiah Rp120 Juta

Kamis, 05 Maret 2026 | 15:01

TNI Tangani Terorisme Jadi Ancaman Kebebasan Sipil

Kamis, 05 Maret 2026 | 15:00

Selengkapnya