Berita

Pius Ginting/Net

Politik

Usir Hantu Komunisme Dengan Menghapus Kesenjangan

SELASA, 19 SEPTEMBER 2017 | 08:57 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Aktivis lingkungan hidup sekaligus Koordinator Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat (AEER), Pius Ginting mengatakan faksi politik konservatif konsolidasi kekuatan lewat isu komunis, sementara faksi aktivis lingkungan konsolidasi lewat isu Anti Poros Peking-Moskow.

Jelas Pius, begitulah cara mau berkuasa dengan cara memundurkan demokrasi, bukan lewat jalan terang pencerahan.

"Tapi lewat lorong lorong gelap intrik tak berdasar. Bukan mencerdaskan kehidupan berbangsa. Demi karir politik menyuburkan kegelapan wacana," terangnya, Selasa (19/9).


Menurutnya, jalan termanjur mengatasi hantu komunisme adalah terus berupaya hapuskan kesenjangan, ketimpangan, ketidakadilan ekonomi.

"Karena pada akhirnya, kelas bawah inilah yang diklaim komunis perlu alat politik independen," ujar Pius.

Semua ide-ide perubahan sedikit banyak selalu menyatakan keberpihakannya terhadap kelas bawah. Revolusi kemerdekaan Indonesia, demi kelas bawah yang hidup parah akibat penjajahan. Revolusi Perancis, demi rakyat miskin karena aristrokrasi. Revolusi Amerika, demi emansipasi dari perbudakan, termasuk Reformasi 98.

"Dan sejauh ini belum ada yang berhasil. Bahkan dari kekuatan komunisme di banyak negara sebelumnya menghasilkan elit baru yang dengan kehidupan bergelimang kemewahan, dan mayoritas hidup keras namun miskin akses kesejahteraan," sebut Pius.

Diulanginya lagi, menengusir hantu komunisme adalah dengan memajukan kesejahteraan umum. Bukan memajukan kesejahteraan elit dan jalan ditempatnya kesejahteraan mayoritas atau bahkan mundur lewat penggusuran, perampasan lahan, kehancuran lingkungan dan PHK.

"Dan hal-hal inipun hendak dihapuskan dalam cita-cita merdeka, seperti tertulis dalam tujuan merdeka dalam Pembukaan UUD 1945," demikian Pius Ginting. [rus]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Kejagung Diminta Awasi Ekstra Proyek Pembangunan IKN

Selasa, 22 September 2026 | 22:15

Suahasil Beberkan Tiga Jurus Perkuat Pengawasan Bea Cukai, Apa Saja?

Selasa, 22 September 2026 | 21:51

KPK Didesak Periksa Nusron agar Tak Muncul Spekulasi Liar

Selasa, 22 September 2026 | 21:21

Jangan Omon-omon, Pelaksanaan MBG Harus Dipersempit ke Daerah 3T

Selasa, 22 September 2026 | 21:21

Raja Juli Sepi, Muncul Nusron

Selasa, 22 September 2026 | 21:12

Pakai Amine System, SP-ABG Pertamina Turunkan CO2 pada Gas jadi 5%

Selasa, 22 September 2026 | 21:07

Selebgram Jule Hanya Pemakai Etomidate, Bukan Pengedar

Selasa, 22 September 2026 | 20:54

Wacana Pencalonan Presiden-Wapres Cukup Didukung Dua Fraksi Ingkari Putusan MK

Selasa, 22 September 2026 | 20:36

KPK Kembali Sita Mobil Vinna Ledy Anggraheni Hasil Pemberian Pengusaha

Selasa, 22 September 2026 | 20:18

Swing Voters dan Pilkades Bekasi 2026

Selasa, 22 September 2026 | 19:59

Selengkapnya