. Aktivis lingkungan hidup sekaligus Koordinator Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat (AEER), Pius Ginting mengatakan faksi politik konservatif konsolidasi kekuatan lewat isu komunis, sementara faksi aktivis lingkungan konsolidasi lewat isu Anti Poros Peking-Moskow.
Jelas Pius, begitulah cara mau berkuasa dengan cara memundurkan demokrasi, bukan lewat jalan terang pencerahan.
"Tapi lewat lorong lorong gelap intrik tak berdasar. Bukan mencerdaskan kehidupan berbangsa. Demi karir politik menyuburkan kegelapan wacana," terangnya, Selasa (19/9).
Menurutnya, jalan termanjur mengatasi hantu komunisme adalah terus berupaya hapuskan kesenjangan, ketimpangan, ketidakadilan ekonomi.
"Karena pada akhirnya, kelas bawah inilah yang diklaim komunis perlu alat politik independen," ujar Pius.
Semua ide-ide perubahan sedikit banyak selalu menyatakan keberpihakannya terhadap kelas bawah. Revolusi kemerdekaan Indonesia, demi kelas bawah yang hidup parah akibat penjajahan. Revolusi Perancis, demi rakyat miskin karena aristrokrasi. Revolusi Amerika, demi emansipasi dari perbudakan, termasuk Reformasi 98.
"Dan sejauh ini belum ada yang berhasil. Bahkan dari kekuatan komunisme di banyak negara sebelumnya menghasilkan elit baru yang dengan kehidupan bergelimang kemewahan, dan mayoritas hidup keras namun miskin akses kesejahteraan," sebut Pius.
Diulanginya lagi, menengusir hantu komunisme adalah dengan memajukan kesejahteraan umum. Bukan memajukan kesejahteraan elit dan jalan ditempatnya kesejahteraan mayoritas atau bahkan mundur lewat penggusuran, perampasan lahan, kehancuran lingkungan dan PHK.
"Dan hal-hal inipun hendak dihapuskan dalam cita-cita merdeka, seperti tertulis dalam tujuan merdeka dalam Pembukaan UUD 1945," demikian Pius Ginting.
[rus]