Berita

RMOL

Nusantara

DPD Soroti Minimnya Tenaga Perawat

SENIN, 18 SEPTEMBER 2017 | 15:30 WIB | LAPORAN:

Kesehatan merupakan hak dasar warga negara yang harus dipenuhi pemerintah. Tentunya, pembentukan kesehatan masyarakat menjadi tanggung jawab pemerintah untuk menciptakan kesejahteraan bangsa.

Ketua Komite III DPD RI Fahira Idris mengatakan, kesehatan masyarakat sangat penting. Namun, hal itu harus sebanding dengan sumber daya manusia dei bidang kesehatan yaitu perawat.

"Sayangnya jumlah tenaga perawat kita tidak sebanding dengan jumlah penduduk," katanya saat rapat dengan Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek di Gedung DPD, Jakarta (Senin, 18/9).


Padahal, terbitnya UU 38/2014 tentang Keperawatan telah membawa mutu dan kepastian hukum bagi perawat. Tetapi, sejauh ini masih saja Indonesia kekurangan tenaga perawat.

"Padahal UU-nya sudah jelas, namun masih saja kekurangan tenaga medis," ujar Fahira.

Dia menambahkan, UU Keperawatan menyebut bahwa perawat bukan kepanjangan tangan dari dokter. Jadi, tidak semua tugas dokter dilakukan oleh perawat.

"Jadi, tugasnya perawat sudah sangat jelas dalam UU ini. Namun kenyataan di lapangan berbeda," katanya.

Fahira juga menyoroti bahwa banyak sekali sekolah keperawatan. Namun tumbuh suburnya sekolah keperawatan justru susah dipertanggungjawabkan.

Sementara itu, Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek menjelaskan bahwa berdasarkan data tenaga kesehatan September 2017, jumlah perawat di Indonesia sebanyak 309.017.

"Untuk D3 Keperawatan dan S1 paling banyak yaitu 235.461 jiwa," bebernya.

Lanjutnya, untuk rasio perawat per 100 ribu penduduk tahun 2016 telah melebih target. Untuk target berdasarkan kepemilikan Surat Tanda Registrasi (STR) berjumlah 166,8.

"Namun realisasinya telah mencapai 170,2," kata Nila.

Untuk pengembangan pelayanan keperawatan pemerintah telah melakukan Program Indonesia Sehat. Perawat terlibat dalam pencapian 12 indikator kesehatan melalui kunjungan rumah di wilayah kerja Puskesmas.

"Adapun, pelayanan spesialistik dalam keperawatan kardiovaskuler, cancer, bencana, anak, dan psikiatrik," demikian Nila. [wah] 

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Waspadai Modus Penipuan Mengatasnamakan Bantuan Sosial

Sabtu, 13 Juni 2026 | 06:21

Ayam Mati di Lumbung Listrik

Sabtu, 13 Juni 2026 | 06:04

Narasi 'Sell Indonesia' Manipulatif

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:52

Krisis 1998 Meninggalkan Trauma Strategis

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:28

Titin Rita Lestari, Air Mata yang Tak Sempat Jatuh

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:09

Sangat Janggal Kejagung Tak Periksa Nanik S Deyang

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:01

BUMD Didorong Bertransformasi sebagai Lokomotif Ekonomi Daerah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:35

Farhan Pastikan Bandung Aman Hadapi Musim Liburan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:19

Bosnia-Herzegovina Gagal Bungkam Tuan Rumah Kanada

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:07

Jaringan Narkoba Sumsel-Jabar Dibongkar Polisi

Sabtu, 13 Juni 2026 | 03:35

Selengkapnya